
Wanita tua masih terus memeriksa keadaan Gantari yang masih lemah.
"Nona tidak perlu berterimakasih sudah kewajiban umat manusia untuk saling tolong menolong. Nenek bisa kamu panggil Nini Mirah, lantas siapa nama nona ini?" Nini Mirah tersenyum sambil membalurkan beberapa ramuan.
"Nini bisa memanggil namaku Gantari!" ucap Gantari.
"Dewi ... ambilkan minum!" teriak Nini Mirah merintah seseorang mungkin cucunya.
Tidak lama datang seorang gadis muda sebaya dengan Gantari. Gadis itu sangat anggun dan cantik kulitnya yang tampak putih kemerah-merahan rambut hitam legam panjang. Wajahnya seperti daun sirih matanya yang hitam bening. Tubuhnya yang langsing tapi berisi lekuk tubuh yang menggodanya. Semua orang yang memandangnya sebagai seorang bidadari dari khayangan. Dia bernama Dewi Manik cucu Nini Mirah.
Dewi Manik menyerahkan air yang diminta neneknya. Selanjutnya Nini Mirah memperkenalkan cucunya kepada Gantari.
"Sebenarnya, ada seseorang yang membawamu kemari, mungkin dia juga yang menolong nona!" ujar Nini Mirah.
"Setelah aku pulih, aku akan mencari orang yang telah menyelamatkan aku!" ucap Gantari.
Nini Mirah menganggukan kepala menyetujui. Dia menceritakan ciri-ciri orang tersebut.
Selanjutnya Nini Mirah dan Dewi Manik keluar meninggalkan Gantari supaya beristirahat.
__ADS_1
Setelah keluar dari kamar Gantari Nini Mirah serta Dewi Manik duduk.
"Apa pemuda itu akan kembali kesini nek?" tanya Dewi Manik.
"Tentu dia akan kesini lagi satu kali lagi mengantarkan obat untuk nona itu!" jawab Nini Mirah menatap wajah cucunya curiga.
Dewi Manik teringat lagi ketika seorang pemuda datang ke pondoknya tempo hari yang lalu, membawa Gantari yang sedang sakit. Dia sering bertemu dengan pemuda-pemuda desa. Namun ada persaan aneh ketika bertemu dengan pemuda itu. Ada sesuatu yang masuk ke hatinya membuat dirinya ingin terus memandang wajah pemuda itu setiap saat. "Apa aku telah jatuh cinta," batin Dewi Manik.
"Dewi ... kamu baik-baik saja?" tanya Nini Mirah yang melihat cucunya senyum-senyum sendiri.
Dewi Manik terbangun dari lamunannya. "Ahhh ... tidak papa nek." Dewi Manik gugup dan menundukkan kepala.
Nini Mirah hanya menggelengkan kepala melihat tingkah cucunya itu. Dia memahami cucunya yang sedang kasmaran dia sendiri pernah mengalami.
"Trang ... trang ..."
Terdengar suara senjata bertemu di tengah kegelapan malam.
"Hiattt ... hiattt ..." Seorang pria paruh baya melawan tiga orang yang memakai topeng.
__ADS_1
"Sebaiknya kamu menyerah kakek tua!" bentak salah satu dari pria bertopeng.
"Cuihhh" Pria paruh baya meludah ketanah. "Sampai mati pun aku tidak akan menyerah!"
Pria bertopeng terlihat murka. "Kurang ajar!"
Tiga orang bertopeng semakin mempercepat serangannya terlihat pria paruh baya mulai terdesak. Dia sudah mendapatkan luka sayatan.
"Bukkk"
Pria paruh baya terpental ketika sebuah pukulan mendarat. Di terhempas membentur batang pohon. Darah segar keluar dari mulutnya.
Ketika dia akan bangkit sebuah pedang sudah menempel dilehernya. "Katakan dimana gadis darahsuci itu!" bentak pria bertopeng.
Pria paruh baya hanya tersenyum sinis dia tidak mengeluarkan suara. Membuat pria bertopeng murka "Kurang ajar, baiklah jika kamu tidak mau membuka mulut terpaksa aku harus melenyapkanmu!" Bentak pria bertopeng.
Pria paruh baya memejamkan mata mungkin ini akhir dari hidupnya.
"Akhh ..." Pria bertopeng terpekik dia terpental setelah ada sesuatu yang mendarat ke perutnya.
__ADS_1
Dua orang kawannya segera mundur. "Keluar kau pengecut!" teriak pria bertopeng.
#Kalian luar biasa terimakasih.