Sudawira Kesatria Suci

Sudawira Kesatria Suci
Pertempuran Di Kerajaan Ramapala 3


__ADS_3

Gumbirang mengumpat sehabis-habisnya.


"Aku lawan mu" senopati Lingga berdiri disamping pasukan nya.


Setelah senopati Lingga memberikan perintah untuk mundur pasukan nya segera mundur dan bergabung dengan kawan yang lain.


Sekarang senopati Lingga dan Gumbirang sudah saling berhadapan. Tanpa berpikir panjang Gumbirang loncat mengarahkan Gada Wesi hitam nya ke kepala. Senopati Lingga tidak menghindar dia menyambut dengan pedangnya. Benturan kedua senjata tidak bisa dihindari, Senjata mereka yang mengandung tenaga dalam menggambarkan kekuatan mereka.


Keduanya menarik kembali senjata nya.


Senopati Lingga mengakui peningkatan kemampuan Gumbirang dia merasakan tangannya sedikit bergetar.


Gumbirang dia merasakan tangannya bergetar hebat, Ia juga mengakui kekuatan senopati Lingga masih diatasnya tetapi bukan alasan untuk mundur dia didik sebagai prajurit sejati pantang mundur sebelum berjuang.


Keduanya kembali bertarung menunjukkan kemampuan dan kelebihan masing-masing. Keduanya saling bertukar posisi kadang menyerang dan terkadang berada di posisi bertahan. Pertarungan mereka semakin sengit dan seru.

__ADS_1


Disisi yang lain Sudawira dan Maheswara sudah berhasil menembus gerbang barat dan sudah terlibat pertempuran melawan para prajurit penjaga. Keduanya belum menemukan lawan yang sepadan sehingga dengan sekali gerakan keduanya membunuh prajurit yang menyerangnya. Sebenarnya tugas mereka tidak sulit keduanya diperintahkan untuk mengumpulkan para pejabat untuk ditawan. Tidak membutuhkan waktu yang lama para prajurit penjaga sudah berhasil ditaklukkan. Maka Maheswara segera memerintahkan pasukannya untuk masuk kerumah para pejabat dan mengumpulkan nya di satu tempat, "Bunuh mereka yang mencoba melawan"


Semua pasukan segera menyebar atas perintah pimpinan nya mereka tidak segan membunuh kepada mereka yang mencoba melawan.


Beberapa saat kemudian mereka berhasil menggiring dan mengumpulkannya ditengah-tengah pelataran yang luas. Semua pasukan segera mengelilinginya dengan pedang terhunus. Wajah mereka terlihat pusat pasi dilanda ketakutan yang sangat mencekam seakan-akan nyawa mereka akan segera berakhir.


"Dengar jangan coba melawan kalau masih sayang dengan nyawa kalian", suara lantang Maheswara meruntuhkan jiwa-jiwa mereka.


Sudawira hanya tersenyum geli melihat Maheswara lebih galak dari biasanya.


Sudawira pergi untuk membantu yang lain setelah minta ijin kepada Maheswara.


*****


*****

__ADS_1


Dibawah langit kerajaan Ramapala terdengar suara-suara pertempuran di seluruh penjuru istana.


Dewi Utari memegang tangan Prabu Kamandaka didalam kamar pribadinya. Terlihat wajahnya sudah dibasahi air mata.


"Sebaiknya kita pergi kakang, sudah lah tidak perlu mempertahankannya" Dewi Utari meminta mencoba membujuk suaminya.


Prabu Kamandaka memejamkan matanya sebentar dan terdengar, "Ini sudah terjadi aku tidak akan mundur karena dengan susah payah aku mendapatkan nya, mana mungkin aku meninggalkan nya secara cuma-cuma"


Dewi Utari memahami sifat keras kepala suaminya, tidak mudah menggoyahkan tekadnya.


"Sudahlah kakang relakan saja" Dewi Utari terus membujuk walaupun hasilnya tetap sama suaminya tetap pada pendiriannya.


Prabu Kamandaka menatap dingin Dewi Utari dengan nada membentak, "Aku tidak akan mundur, aku bukanlah seorang pecundang yang berlari sebelum berjuang"


Prabu Kamandaka melepaskan genggaman tangan Dewi Utari.

__ADS_1


"Pergilah dari sini sebelum terlambat"


Prabu Kamandaka mengambil pedangnya ia menoleh istrinya yang berurai air mata.


__ADS_2