Sudawira Kesatria Suci

Sudawira Kesatria Suci
Salinan Kitab Kesatria Suci


__ADS_3

Sudawira manggut-manggut mendengarkan cerita Patih Ajidarma.


Patih Ajidarma menarik nafas sebelum melanjutkan ceritanya.


"Aku berniat kembali ke Perguruan Rajawali Putih namun terjadi konflik dikerajaan sehingga mau tidak mau aku kembali ke kerajaan, ketika ayahku meninggal aku menjabat Kepatihan sehingga aku disibukan dengan urusan kerajaan sampai akhirnya aku mendengar kematian Tuan Jayapati"


Patih Ajidarma menundukan wajahnya terlihat diwajahnya raut kesedihan penuh penyesalan.


Sudawira yang memahaminya segera berkata, "Tuan Patih jangan menyesalinya, semua yang terjadi kepada Ayahku adalah sebuah takdir yang sudah digariskan"


Patih Ajidarma mengangkat kepalanya menatap wajah Sudawira berdesir dihatinya bahwa anak muda dihadapannya sangat dewasa kata-katanya mengandung makna yang mendalam. "Kamu seperti ayahmu Wira"gerutunya dalam hati.


"Benar Wira, Namun aku tidak bisa memaafkan diriku bahwa aku tidak bisa membalas kebaikan ayahmu disisa akhir hidupnya" Sahut Patih Ajidarma.


"Aku yakin ayah memakluminya Tuan"ucap Sudawira.


"Ini adalah Kitab Kesatria Suci namun bukan yang asli"


"Maksud tuan?" Sudawira terkejut mendengar nya.


"Kitab Ini merupakan salinan dari Kitab Kesatria Suci yang asli, namun walaupun cuma salinannya kitab ini akan mengantarkan mu menjadi tokoh dunia persilatan yang disegani dan ditakuti lawan" sahutnya.


"Oh jadi itu alasan semua tokoh dunia persilatan menginginkan kitab ini"


"Benar Wira, Dan sekarang kitab ini akan menjadi milikmu"


"Maksud tuan patih?"

__ADS_1


"Hanya kamu yang dapat mempelajarinya, selam bertahun-tahun aku mempelajarinya namun aku tidak dapat menguasai apa yang ada didalam kitab"


Sudawira menarik nafas menatap kitab didepannya.


"Dengar Wira, kamu adalah orang yang digariskan untuk memiliki kitab ini"


****


Seseorang bertumbuh besar serta kekar dan berotot dengan memakai jubah terbuat dari kain sutera berwarna hitam bermotif keemasan. Wajahnya ditutupi topeng berwarna emas namun terlihat ada beberapa garis luka pada wajah dibalik topengnya. Dia duduk di atas tempat duduk yang mirip singgasana sambil memutar-mutar pisau belati.


Tidak lama seseorang yang memakai topeng yang sama masuk kedalam ruangan itu. Dengan hati-hati dia berjalan menghampiri orang bertopeng emas lalu memberi hormat.


"Kau sudah kembali bagaimana tugasmu?"


Suara berat menggema keseluruh ruangan membuat bulu kuduk berdiri merinding ketika mendengarnya.


"Bagus, Terus bagaimana pemuda itu?"


"Dia sudah mendapatkan kitabnya," jawab pemuda itu.


"Jadi kakek tua itu telah memberikan nya?" tanyanya dengan nada sedikit meninggi.


"Benar Yang Mulia." Pria itu menundukkan kepalanya.


Orang itu menggeram marah.


"Kurang ajar, aku telat menyadari kalau pemuda itu yang dimaksud ayahku."

__ADS_1


"Aku ingin kita tetap pada rencana, namun aku yakin kakek tua Wanaraja, akan segera melindungi pemuda itu, untuk itu segera gerakan anak buahmu untuk menjalankan rencana kita!"


"Baik Yang Mulia," Pemuda itu memberi hormat lalu pergi dari ruangan itu.


****


"Bagaimana mana keadaannya Eyang guru"


Ki Maruli melirik Ki Waskita yang sedang memeriksa keadaan Ki Jumantara yang terluka parah.


"Aku tidak yakin bisa menyembuhkannya luka dalam nya terlalu parah, seluruh organ dalam tubuhnya telah hancur"


"Apa tidak ada cara untuk menyelamatkan nya"


Ki Waskita menarik nafas panjang kemudian mengeluarkan perlahan-lahan.


"Mungkin Yang Mulia bisa menyembuhkannya"


"Yang Mulia" Ki Maruli mengernyitkan dahi siapa yang dimaksud gurunya itu. Padahal semua orang tau tidak ada raja lagi di kerajaan Ramapala selain Ki Prabu Surasesa.


"Hemmm, Siapa yang dimaksud guru?


"Maap aku belum bisa memberi tahu persoalan ini sebelum waktunya telah tiba"


Ki Maruli tidak berkata lagi namun kini muncul dibenaknya siapa orang yang disebut Yang Mulia oleh gurunya.


****

__ADS_1


Semoga suka kalian suka novelnya.


__ADS_2