
Pertempuran masih terus berlangsung terdengar suara dentuman senjata yang beradu menggema.
Patih Ajidarma sudah bertarung sangat sengit bersama Gurdata. Kedua orang itu sama-sama memiliki kemampuan yang tinggi. Sehingga keduanya masih terlihat berimbang. Keduanya sudah melakukan puluhan jurus.
Patih Ajidarma menggunakan jurus andalannya. Jurus Pukulan Seribu Bayangan. Setiap pukulannya seperti ada seribu pukulan melesat ke arah lawan. Namun Gurdata sangat lincah dan tangkas dirinya dapat bergerak cepat seperti angin sesekali melancarkan serangan dengan Jurus Tapak Lima Jari.
Pertarungan keduanya berjalan seru. Di sisi lain Adipati Abiyasa telah bertarung habis-habisan dengan Intansari. Pertarungan keduanya pun tidak kalah seru. Intansari memiliki kemampuan dapat menghilang dan muncul diarah berbeda membuat Adipati Abiyasa merasa sedikit keteteran dan harus konsentrasi setiap saat.
__ADS_1
Pasukan Patih Ajidarma sudah mulai kewalahan karena selain kalah jumlah pasukan lawan-lawan mereka para pendekar kelas tinggi dunia persilatan yang bergabung dengan kelompok Pemuja Surga Dunia. Namun meski begitu tidak mengendurkan semangat perjuangan pasukan, apalagi para senopati baik senopati agung atau senopati kadipaten berada diantara mereka.
Senopati Argadana terus mengatur pasukannya supaya tidak berpencar dan terus bekerjasama supaya pasukan musuh tidak masuk ke kadipaten Majapada.
Suara-suara jeritan dari pasukan yang gugur dari pihak kadipaten maupun pihak musuh terus terdengar, bau anyir darah sudah tercium di seluruh tempat pertempuran berlangsung. Mayat-mayat sudah berserakan. Membuat semua orang ngeri melihatnya.
Patih Ajidarma terus melancarkan serangan meski sekarang Gurdata telah meningkatkan kemampuan sehingga sesekali Patih Ajidarma tidak mampu membaca serangan yang dilancarkan sehingga beberapa pukulan mendarat meski tidak menimbulkan luka yang serius tetap membuat dirinya sedikit goyah. Patih Ajidarma sekarang mengalami lawan yang sedikit berada diatasnya. Walaupun dia menyadari hal itu tidak mengendurkan semangat bertarungnya. Dia juga mengerahkan seluruh kemampuan yang dimiliknya.
__ADS_1
Pertempuran yang tidak seimbang itu, membuat pihak musuh semakin buas. Gurdata sendiri merasa kemenangan sudah berada didepan mata. Maka dia semakin cepat untuk segera menumbangkan Patih Ajidarma.
Disaat semua pasukan kadipaten merasa berada diujung tanduk bahwa mereka akan segera kalah. Tiba-tiba aura aneh menyelimuti semua tempat pertempuran. Aura aneh itu menekan seluruh pasukan pihak musuh. Bersamaan dengan aura yang menghilang terlihat ratusan orang bertopeng perak masuk ke dalam pertempuran dan melawan pihak musuh. Maka para pasukan kadipaten bisa menebak pasukan tersebut adalah bala bantuan yang dikirim. Maka semangat mereka kembali menyala. Sebaliknya pasukan pihak musuh merasa pasukan yang baru datang memiliki kemampuan lebih tinggi dari pasukan kadipaten.
Gurdata sendiri mengumpat-ngumpat serapah karena kehadiran pasukan bantuan itu telah membuat pertempuran kembali berjalan seimbang.
Patih Ajidarma tersenyum dengan kedatangan pasukan bantuan. Dia tertawa mengejek."Hahahaha, apa kamu lupa siapa yang kamu hadapi!"
__ADS_1
Sebelum terjadinya pertempuran Patih Ajidarma kedatangan utusan dari aliansi pendekar aliran putih. Dengan maksud untuk meminta persetujuan Patih Ajidarma ikut serta dalam pertempuran.
Gurdata mengertakkan gigi saking marah. Dia menyadari bahwa Patih Ajidarma memiliki kemampuan siasat perang. Dia sendiri tidak menduga lawannya telah mengatur semuanya.