Sudawira Kesatria Suci

Sudawira Kesatria Suci
Pertempuran Di Kadipaten Majapada 1


__ADS_3

Patih Ajidarma melakukan rapat dikediaman adipati Abiyasa diikuti oleh beberapa senopati agung beserta senopati kadipaten. Setelah rapat dibuka oleh Patih Ajidarma. Semua orang diberi kesempatan untuk mengutarakan pendapatnya masing-masing.


"Bagaimana rencana kanjeng Patih?" tanya adipati Abiyasa.


Patih Ajidarma menarik napas sebelum menceritakan rencananya.


****


Tidak jauh dari kadipaten Majapada terlihat ratusan perkemahan berjajar rapi. Perkemahan itu merupakan perkemahan kelompok pemuja surga dunia. Yang sedang mempersiapkan diri untuk menyerang Kadipaten Majapada.


Di dalam sebuah perkemahan yang agak besar terlihat beberapa orang sedang melakukan pertemuan.


Gurdata menatap wajah semua orang yang hadir. "Jadi mereka mendapatkan pasukan dari pihak kerajaan!"


"Benar ketua, aku melihat sendiri rombongan pasukan kerajaan memasuki kadipaten Majapada!" ujar salah satu dari mereka.


Gurdata memukul pegangan kursi menggeram. "Persiapkan diri kalian kita akan berperang terbuka!" sahut Gurdata.


Semua pengikutnya menganggukan kepala.


****


Matahari begitu cerah menumpahkan sinarnya.


Di perbatasan kadipaten Majapada semua pasukan telah berjajar rapi lengkap dengan senjatanya masing-masing.

__ADS_1


Sekitar seratus meter dari perbatasan ribuan pasukan kelompok Pemuja Surga Dunia berjalan beriringan mendekati perbatasan.


"Mereka sudah datang!" teriak penjaga pos pengintai.


Sontak semua prajurit segera bersiap setelah dari kejauhan terlihat ribuan pasukan mendekat.


"Persiapkan dirimu putraku!" ujar Patih Ajidarma yang berdiri berdampingan dengan Adipati Abiyasa.


"Aku akan mempertaruhkan nyawaku Romo!" jawab Adipati Abiyasa.


Sekitar lima puluh meter pasukan kelompok Pemuja Surga Dunia berhenti. Keadaan mendadak menjadi hening semua orang terlihat tegang karena sebentar lagi mereka akan berperang mempertaruhkan nyawa.


Tiba-tiba terdengar suara menggelegar mengandung tenaga dalam menggema.


Adipati Abiyasa menoleh ayahnya. Patih Ajidarma menganggukan kepala memahami maksud putranya.


Patih Ajidarma berteriak suaranya pun menggelegar karena mengandung tenaga dalam.


"Maap aku rasa kami tidak perlu menuruti permintaan tuan!"


"Hahahaha, ternyata kalian masih memiliki nyali!" teriak Gurdata.


"Untuk apa kami menyerah kepada para pemberontak seperti kalian!" ujar Patih Ajidarma lantang.


"Bagus, itu artinya kalian lebih memilih untuk mati!" bentak Gurdata lantang.

__ADS_1


Setelah beberapa saat kemudian terdengar suara seperti burung perkutut. Merupakan tanda perang segera dimulai.


"Serangggg!"


Ribuan pasukan saling melesat seperti sebuah ombak menggulung. Maka terjadilah pertempuran. Suara beradu senjata disertai suara jeritan mereka yang gugur menggema di seluruh area pertempuran.


Semangat juang yang berkobar-kobar dari dua belah pihak menjadikan pertempuran semakin sengit.


Patih Ajidarma segera melesat dia mencabut pedangnya. Tanpa kenal ampun walaupun usianya telah lanjut namun kecepatan dan kelincahan seperti anak muda. Hanya dengan satu gerakan dan satu tebasan dia melenyapkan musuhnya yang berada dijangkaunya. Patih Ajidarma sebenarnya mencari lawan yang pantas untuk dihadapinya.


Terlihat tidak jauh darinya seseorang yang memakai penutup wajah berupa topeng emas dengan mudah membunuh pasukan kadipaten Majapada dengan mudah.


Patih Ajidarma segera melesat ke arah orang bertopeng emas itu.


Gurdata yang merupakan ketua kelompok Pemuja Surga Dunia dia memiliki ilmu Kanuragan yang sangat tinggi. Maka tidak sulit bagi dirinya membunuh lawannya dengan mudah.


Tiba-tiba seorang sudah berdiri dibelakangnya.


"Kemampuan tuan sangat tinggi aku sangat kagum!"


Gurdata menoleh terlihat Patih Ajidarma tersenyum menatapnya.


"Hahahaha akhirnya aku bertemu dengan Patih kerajaan Ramapala." ucap Gurdata.


"Aku juga sangat beruntung bertemu dengan ketua kelompok Pemuja Surga Dunia!" ujar Patih Ajidarma tersenyum sinis.

__ADS_1


__ADS_2