Sudawira Kesatria Suci

Sudawira Kesatria Suci
Sudawira Yang Malang


__ADS_3

Dimalam yang penuh keheningan.


Sudawira dan Ki Parapanca sedang duduk disebelahnya seseorang sedang terbaring tidak sadarkan diri.


Tiba-tiba Sudawira memecahkan keheningan dia bertanya "Aki apa nama perkampungan ini?" katanya.


Ki Parapanca yang sedang meracik obat melirik sebelum duduk disebelah Sudawira.


"Pedukuhan Gilir Jati. Wira," ujar Ki Parapanca.


Sudawira menganggukan kepala. Kemudian mengadahkan wajahnya ke langit. Terlihat memikirkan sesuatu. Terbayang bagaimana kalau dia berada di pedukuhan itu. Alangkah beruntung bagi seorang anak bisa hidup bersama kedua orang tua. Mendapatkan belaian kasih yang sama seperti anak lainnya.


Namun sungguh sial nasibnya jangan hidup bersama. Rupa dan wajah orang tuanya saja ia tidak pernah tahu. Terlintas dalam lamunan apakah tuhan tidak adil tapi ia segera menghilangkan perasaan itu. Karena gurunya selalu berpesan jangan pernah mengutuk diri bahwa tuhan tidak adil karena kita tidak pernah tahu apa rencana tuhan. Tugas kita hanya menjalankan rencananya bukan mencelanya.


Sudawira kembali tenang kalau ia teringat nasehat-nasehat gurunya. Supaya tidak pernah mengeluh dalam keadaan sesulit apapun. Karena mengeluh adalah musuh dalam selimut yang akan membunuh kita secara perlahan.


"Hemmmmz" Sudawira mendesah.

__ADS_1


Melihat raut wajah pemuda dihadapannya. Ki Parapanca merasakan ada kesedihan yang mendalam.


"Wira, Apa ada sesuatu yang membuat kamu bersedih?" Ki Parapanca mencoba bertanya.


Sudawira mengusap air mata yang tidak terasa keluar.


"Ahhhh, tidak ada Paman!" lirihnya berusaha tersenyum, namun tidak menutupi kesedihannya.


"Jika kamu ingin mengutarakan sesuatu, utarakan! jangan masalah kamu pendam sendiri, karena itu bukan solusi terbaik, Wira." ujar Ki Parapanca.


Tanpa ada rasa ragu dia mengutarakan seluruh unek-unek yang ada dikepalanya.


Ki Parapanca manggut-manggut mendengarkan, sesekali ia menatap Sudawira.


****


Namun Keduanya dikagetkan tiba-tiba lirih pria yang sedang terbaring, dia sudah sadar.

__ADS_1


"Dimana aku?" katanya lirih. Sambil merasakan semua tubuhnya terasa ngilu dan sakit, sambil menebak-nebak tempat itu. Namun tak kunjung ketemu karena memang ia belum pernah singgah.


"Tuan berada di pondok ku, jangan banyak bergerak dulu lukanya belum pulih!" Ki Parapanca segera memeriksa badan pria itu. Untuk memastikan keadaan nya saat ini. Dirasa cukup sambil manggut-manggut menandakan ada reaksi positif karena efek samping obat. Dia kembali berada posisi duduk.


"Tuan harus bersyukur karena nyawa tuan tertolong oleh pemuda yang baik hati," ujar Ki Parapanca sambil melirik Sudawira yang duduk di sebelahnya.


Pria itu memberi hormat kepada Sudawira.


"Sungguh aku banyak berhutang budi, kepada tuan pendekar," ujar pria itu menatap wajah Sudawira. Namun ia tidak pernah merasa ketemu sebelumnya.


"Sudahlah. Tidak usah berlebihan tuan. Sudah menjadikan kewajiban kita untuk saling tolong menolong," jawab Sudawira, sambil tersenyum ramah.


Kemudian mereka saling berkenalan satu sama lain. Dan sungguh kehormatan bagi seorang Ki Parapanca bisa merawat seorang Senopati Kerajaan Ramapala setelah pria Itu memperkenalkan diri. Ternyata beliau seorang Senopati bernama Senopati Lingga namanya yang sudah tidak asing lagi dikalangan masyarakat.


*****


Semoga kalian suka dengan novelnya.

__ADS_1


__ADS_2