Sudawira Kesatria Suci

Sudawira Kesatria Suci
Pertempuran Di Kerajaan Ramapala 8


__ADS_3

Namun Patih Ajidarma bergerak seperti angin dia seolah-olah menghilang pada saat sebuah pukulan akan mengenai nya.


Semakin lama tenaganya semakin berkurang terlihat dari pola-pola serangang yang melemah. Patih Ajidarma tidak membuang kesempatan ia sekarang mulai melancarkan serangannya yang berpola jari tangannya yang terbuka siap mencakar tubuh lawannya.


Ki Jumantara terkejut bukan kepalang, "Jurus Dewa Naga, Patih Ajidarma" Gumamnya.


"Bagus kali ini kau mengenal ku bukan" Sahut Patih Ajidarma.


Kini Ki Jumantara mengumpat serapah kehadiran Patih Ajidarma tidak termasuk perhitungan ketuanya sehingga tidak dapat dipungkiri dirinya mengantarkan hanya nyawa.


Semakin lama gerakan Patih Ajidarma semakin cepat Ki Jumantara semakin terdesak di tubuhnya beberapa luka cakaran sudah tampak dan mengeluarkan darah.


Apalagi kini tenaganya semakin surut jangan bertahan untuk mempertahankan keseimbangan nya ia harus menguras tenaga tersisa. Patih Ajidarma menghilang dan sudah berada sepuluh senti dihadapannya dengan sebuah pukulan mendarat didadanya,


"Jurus Pukulan Sewu"


Ki Jumantara menjerit kesakitan dia terpental melayang namun sebelum mendarat ketanah tubuhnya ada yang menyambar dan menghilang.


Patih Ajidarma menarik nafas beberapa kali ia melihat beberapa sisa pasukan yang terluka. Dia segera menghampiri Maheswara yang duduk menahan tubuhnya yang terluka.

__ADS_1


"Biarkan aku membantumu" Sahutnya.


Patih Ajidarma duduk dibelakang dan mengarahkan kedua telapak tangannya ke punggung Maheswara. Ia mengalirkan tenaga dalam ketubuh Maheswara. Setelah beberapa menit kemudian Patih Ajidarma menarik kembali tangannya dan mengatur nafasnya.


Maheswara merasa baikan luka-lukanya tidak terlalu sakit lagi.


"Pukulan Kilat Hitam nya belum sempurna,jadi kamu beruntung luka dalammu tidak parah, beberapa hari lagi kamu akan pulih dengan meminum beberapa ramuan-ramuan obat luka dalam" Patih Ajidarma memberikan beberapa obat didalam kantong kecil.


"Terimakasih tuan Patih" Maheswara menundukkan wajahnya memberi hormat.


"Sudahlah mari kita pergi bertemu yang lain" Sahutnya.


Prabu Surasesa menghujamkan pedangnya yang terakhir kepada Prabu Kamandaka yang sudah kehabisan tenaga.


Dia menjerit kesakitan ketika pedang Prabu Kamandaka menembus perutnya sampai ke punggung.


Prabu Surasesa memejamkan matanya sesaat dan mencabut pedangnya.


Ia menatap jasad Prabu Kamandaka yang tergeletak bersimbah darah dilantai.

__ADS_1


"Jangan merasa bersalah Adi prabu, Itu pilihannya" Sahut Patih Ajidarma muncul dari belakang.


"Keserakahannya berujung bencana baginya" Jawab Prabu Surasesa.


"Setiap tindakan yang kita lakukan berbuah manis apabila diawali dengan kebaikan, sebaliknya menjadi buruk jika diawali dengan kejelekan artinya setiap tindakan yang kita lakukan akan berdampak kepada diri kita sendiri" Ucap Patih Ajidarma.


Prabu Surasesa menganggukkan kepalanya dia mengerti apa yang diucapkan pamannya adalah sebuah nasehat yang ditunjukkan kepadanya.


Tiba-tiba Dewi Utari berlari dan memeluk jasad suaminya air matanya sudah tidak tertahankan lagi air matanya keluar membasahi pipinya dan menetes ke wajah suaminya.


Prabu Surasesa hanya menatap sedih adiknya dia memahami kehilangan seseorang yang paling dicintai akan berujung menyakitkan.


Perlahan-lahan ia mendekat dan berdiri disebelah Dewi Utari.


Dengan penuh penyesalan terdengar Prabu Surasesa berkata lirih. "Aku mengerti kesedihan mu Diajeng, tapi kamu harus mengerti aku telah berusaha membujuk nya, tapi inilah keinginannya aku tidak dapat mencegahnya"


"Kakang Prabu jangan merasa bersalah, Ia mati karena ulahnya sendiri, Aku telah bersalah telah dibutakan oleh cinta , sehingga tidak menuruti nasehat kakang"


Dewi Utari yang penuh penyesalan dia teringat kembali nasehat-nasehat Prabu Surasesa untuk tidak bergaul lebih jauh dengan Kamndaka, namun ia yang telah dibutakan cinta ia sama sekali tidak mendengar bahkan menentangnya.

__ADS_1


__ADS_2