
Prabu Kamandaka menyadari ada perasaan bersalah kepada istrinya karena ambisinya sekarang bukan tidak mungkin istrinya akan menderita. Karena itu ia menghampiri Dewi Utari dan memeluknya. "Maapkan aku tidak bisa berada disamping kamu lagi"
Dewi Utari memeluknya erat karena firasatnya mengatakan ini terakhir kalinya dia bisa memeluk suaminya.
Prabu Kamandaka pun sama ia tidak ingin melepaskan pelukannya, namun segera melepaskan pelukannya dan pergi meninggalkan Dewi Utari yang meratapi kepergiannya.
Prabu Kamandaka menarik nafas dalam-dalam dia segera berjalan namu tiba-tiba langkahnya terhenti ketika seseorang sudah berada dihadapannya.
Dia berusaha tersenyum walaupun batinnya berkata lain.
Prabu Kamandaka tersenyum ramah, "Lama tak jumpa dimas"
"Tidak usah basa-basi Kakang Prabu"
"Sebaiknya kamu menyerah, dan aku akan memaafkanmu"
Prabu Kamandaka menggeram marah kata-kata itu telah menjatuhkan harga diri nya dan sebagai suatu hinaan,
"cuihhhh, Aku bukan pecundang lebih baik aku mati daripada harus menyerah" Prabu Kamandaka meludah ketanah.
__ADS_1
"Kamu selalu keras kepala, tapi baiklah kalau itu pilihan yang kamu pilih"
Kesaktian Prabu Surasesa memang jauh berada diatasnya, bahkan bisa dibilang setingkat dengan Ki Sadewa, namun Prabu Kamandaka tidak memperdulikan walaupun dirinya harus bertarung sampai mati.
Karena nafsu dan amarahnya yang sudah tidak terbendung lagi dia mencabut pedangnya dan meloncat menyerang.
Prabu Surasesa hanya menggelengkan kepalanya dia mencabut pedangnya dan menyambut nya. Dan terjadilah benturan-benturan saat kedua pedang mereka bertemu sehingga menghasilkan percikan-percikan api. Pertarungan keduanya semakin menarik dan sengit.
*****
Adiwangsa menebaskan pedangnya karena kalah cepat prajurit tersebut harus menerima nyawanya melayang saat pedang menghujam jantungnya.
Namun sesuatu terjadi dari balik-balik dinding tembok berloncatan orang-orang. Dan masuk ke area pertempuran.
Adiwangsa menggertakkan giginya setelah siapa yang datang, "Pendekar iblis merah"
Tidak lama seorang loncat kearah nya dan berdiri dihadapannya dengan senyum sinis, "Akhirnya kita bertemu lagi"
Adiwangsa tersenyum pula, "Pramudya, takdir telah mempertemukan kita kembali"
__ADS_1
"Iya, Aku ingin segera menyelesaikan urusan diantara kita"
"Benar, aku pun ingin segera mengantarkan dirimu ke neraka"
"Jangan terlalu percaya diri"
Tidak memperdulikan kata-kata Pramudya. Adiwangsa berinisiatif menyerang lebih dulu.
Keduanya terlibat pertarungan menarik. Sama-sama memiliki dendam pribadi mereka bagaikan macan dan serigala bergerak cepat dan lincah saling bertukar serangan.
Pramudya menyadari Adiwangsa berkembang pesat cara memainkan pedannya lebih menyulitkan dari pertarungan pertama mereka di hutan Halimun. Memang Adiwangsa terus meningkat kemampuan nya dengan meminta Sudawira untuk memberikan petunjuk. Maka saat ini dirinya bisa dikatakan kesaktiannya berada tingkat kesatria artinya dirinya berada di level yang sama dengan gurunya sendiri.
Pramudya mengumpat sehabis-habisnya. Dirinya harus berada diposisi bertahan tidak bisa melakukan serangan.
Lestari yang sempat khawatir kini merasa lega karena Kaka seperguruan nya mampu menghadapi musuh bebuyutannya. Jadi Ia bisa pokus lagi tubuhnya yang lentur mengikuti gerakan-gerakan tangannya yang menari-nari memainkan pedang nya bagaikan seekor ular yang siap mematuk-matuk. Menumbangkan para pendekar iblis merah yang menyerangnya.
Tidak membutuhkan waktu yang lama para pendekar iblis merah satu persatu tumbang lestari menghujam lawannya yang terakhir.
Pramudya semakin terdesak tubuhnya sudah penuh dengan luka-luka sayatan darah segar mengalir membuat tenaganya perlahan berkurang.
__ADS_1