
Ketika dirinya mulai terdesak pedang-pedang lawan siap mendarat ketubuhnya. Tiba-tiba lima pendekar terpental ketika sebuah pukulan mendarat diperut mereka.
"Maaf aku telat paman" Sudawira memberikan pil pengurang rasa sakit.
"Terimakasih Wira" Ia memasukkan pil tersebut kemulutnya.
"Biarkan aku yang mengurusnya paman" Sudawira loncat menyerang para lima tetua perguruan Lembah Hitam yang masih mengatur keseimbangan tubuhnya.
Senopati Lingga menganggukan kepalanya ia segera mengatur tenaganya dan rasa sakit dari luka-luka sayatan mulai terasa berkurang. Dia loncat membantu pasukannya yang terdesak oleh para pendekar perguruan Lembah Hitam.
Dua orang loncat menghadang Hasta. "Maap kakang aku terlambat" sahut Yudana.
Kini keadaan menjadi berbalik pertarungan menjadi seimbang. Hasta harus melawan tiga orang yang kemampuannya tidak jauh darinya.
Hasta mengumpat sehabis-habisnya ketika dirinya mulai terdesak. Kini ia mulai mendapatkan beberapa luka sayatan.
Pertempuran di gerbang utama kembali berimbang dengan kedatangan pasukan pelapis bahkan lama-lama para pendekar perguruan Lembah Hitam terpukul mundur.
*****
Maheswara menggeram ketika belasan pendekar perguruan Lembah Hitam menyerang pasukannya. Dan terjadilah pertempuran.
__ADS_1
Maheswara sendiri dia mengerahkan kemampuan nya menghadapi seorang kakek tua. Kemampuan bertarungnya sangat tinggi membuat ia harus berkonsentrasi penuh.
Ki Jumantara dengan gesit dan lincah melancarkan serangan kepada Maheswara. Ki Jumantara sendiri kesaktiannya bisa dibilang setara dengan Ki Suryalaya dari Perguruan Rajawali Putih.
Pertarungan keduanya berjalan menarik dan seru. Maheswara adalah pemuda yang sedang berkembang dalam menambah ilmu. Sedangkan Ki Jumantara adalah pendekar yang sudah malang melintang di dunia persilatan terlihat dari cara bertarungnya yang lebih unggul.
Walaupun tanpa senjata Ki Jumantara tidak kesulitan mendaratkan pukulan-pukulan.
Sementara Maheswara menggerutu karena tebasan pedang nya tidak ada yang mengenai.
Ki Jumantara kadang miring, terkadang merendahkan tubuhnya ketika tebasan pedang mengarah ke arah nya.
Dia loncat surut dan dari jari keluar cahaya seperti petir menyambar.
Maheswara melontarkan tubuhnya ke samping sehingga cahaya tersebut menyambar dinding rumah membuat lubang besar dan terbakar.
"Sedikit lagi aku bisa terbakar" Gumamnya.
Belum sempat menyeimbangkan tubuhnya serangan susulan sebuah pukulan mendarat diperutnya.
Maheswara terpental beberapa meter dan membentur dinding rumah.
__ADS_1
Pukulan dengan tenaga dalam menghasilkan luka dalam diperut Maheswara ia beberapa kali memuntahkan darah segar dari mulutnya. Ketika ia mencoba bangkit tubuhnya terasa lemah tak berdaya.
Ki Jumantara tertawa congkak seolah-olah kemenangan sudah berada di ujung tanduk. Namun tertawanya menghilang ketika seorang kakek tua berdiri dihadapannya. Perasaan aneh ia tidak merasakan kehadirannya.
"Siapa kisanak?"
"Apa aku harus berkenalan dengan mu" Patih Ajidarma tersenyum.
"Kurang ajar, baik siapapun dirimu aku akan membinasakan mu" bentak Ki Jumantara.
"Aku tidak akan mati oleh Jurus jari Petir mu" Sahutnya.
Ki Jumantara menggeram marah dia loncat menyerang dengan pukulan-pukulan yang siap mencabut nyawa.
Patih Ajidarma bergerak menghindar, "Pukulan kilat hitam mu masih jauh dari kata sempurna"
Ki Jumantara amarahnya semakin memuncak baru kali ini ada orang yang melecehkan nya, maka dari itu ia menyerang membabi-buta namun lagi-lagi Serangannya mampu dihindari.
"Siapa sebenarnya setan ini?" Gerutunya dalam hati.
"Pokuslah pada pertarungan mu jangan memikirkan yang lain" Patih Ajidarma seolah-olah mampu membaca pikiran nya.
__ADS_1
Ki Jumantara mengerahkan segala kemampuan dan menggunakan semua kesaktiannya.