Sudawira Kesatria Suci

Sudawira Kesatria Suci
Mundurnya Perguruan Rajawali Putih


__ADS_3

Perguruan rajawali putih sedang berkabung atas kematian ketua mereka. Tampak terlihat semua murid perguruan tersisa tampak meneteskan air mata ketika tubuh Ki Sadewa disemayamkan.


Ki Suryalaya berkaca-kaca tidak kuasa menahan rasa sedihnya. "Maafkan aku ketua tidak bisa menyelamatkanmu!" batin Ki Suryalaya.


Semua orang sudah meninggalkan tempat itu. Menyisakan Ki Suryalaya masih tegak berdiri.


"Sebaiknya tuan segera mengambil langkah!" Seseorang memegang pundak Ki Suryalaya.


Ki Suryalaya menoleh kemudian menarik nafas panjang.


"Tuan Ajiseta, masih disini!" suara parau.


"Aku tahu kamu bersedih, tapi ingat bukan waktunya untuk lama-lama dalam kesedihan, banyak hal yang harus tetua lakukan!" ujar Ajiseta.


Ki Suryalaya mengadahkan wajahnya ke langit yang cerah. Perkataan Ajiseta telah membuka matanya. Dirinya tidak pernah diajarkan selalu mengalah dan larut dalam kesedihan.


Kemudian ia melirik Ajiseta, "Ketua benar!"


Ajiseta tersenyum. "Bagus, lakukan yang terbaik buat Ketua yang telah gugur!"


Ki Suryalaya menganggukkan kepala. Kemudian mereka sama-sama pergi.

__ADS_1


****


Setelah tujuh hari kemudian Ki Suryalaya berdasarkan usulan para tetua di angkat menjadi ketua baru. Kemudian perguruan rajawali putih telah menarik diri dari dunia persilatan mereka masih berbenah paska penyerangan yang telah membuat bangunan dan berbagai sarana sebagian hancur.


Kabar mundurnya Perguruan rajawali putih menjadi pukulan telak bagi aliran putih. Selain Perguruan yang paling dituakan perguruan rajawali putih juga selalu memberikan bantuan ke perguruan-perguruan kecil. Sehingga dengan mundurnya Perguruan rajawali putih akan menjadi masalah.


****


"Hahaha, aku sungguh senang dengan kerja kalian, tujuan ku akan segera tercapai!" Orang bertopeng ketawa terbahak-bahak diatas Singgasananya.


"Sekarang apa rencana kami Yang Mulia?" tanya seorang bertopeng yang sama.


"Sekarang kita lebarkan sayap kita, Gurdata!" Pria bertopeng tertawa.


"Perintah akan segera dilaksanakan Yang Mulia."


"Bagus cepat pergi, dan laksanakan!" ujar pria bertopeng.


Gurdata memberi hormat dan pergi meninggalkan ruangan pemimpin itu.


Setelah keluar dari ruangan pemimpinnya Gurdata masuk keruangan nya. Tampak terlihat beberapa orang duduk diatas kursi mengelilingi meja panjang.

__ADS_1


Gurdata duduk di kursi yang sudah disiapkan.


"Bagaimana ketua apa tugas kita selanjutnya?" Seorang gadis muda bertanya.


Sebenarnya seluruh anggota kelompok ini, lebih banyak berhadapan dengan Gurdata daripada dengan pemimpinnya. Bahkan mereka ada yang belum pernah melihat pemimpinnya itu. Mereka sendiri di rekrut oleh Gurdata sendiri.


Gurdata tersenyum menatap gadis yang berseri-seri itu. "Kamu selalu ingin cepat bergerak, belum juga aku bernafas!"


Gadis itu hanya tersipu. Kemudian menundukan wajahnya yang manis.


Gurdata segera menjelaskan rencana secara detail. Setelah anak buahnya paham kemudian ia membagi tugas untuk menjalankan rencana nya.


Setelah selesai mereka pergi untuk menjalankan rencana mereka. Menyisakan Gurdata dan Gadis muda.


Gurdata pergi menuju sebuah ruangan khusus disusul gadis muda.


Gurdata segera membuka topengnya terlihat wajahnya yang tampan tidak terlihat sedikit pun kejahatan dimatanya.


Gadis muda itu memeluk Gurdata dari belakang, "Aku selalu merindukan wajah tampan mu itu kakang." goda gadis itu.


Gurdata segera memutar badannya sehingga posisi mereka berhadapan dia mencium gadis itu. "Hahaha jangan menggoda aku terus, Intan!"

__ADS_1


Intan hanya tersenyum wajah nya yang merah merona dan berseri-seri. "Sungguh aku tidak bisa hidup tanpa dirimu kakang,"


Gurdata tertawa lalu duduk ditepi ranjang. kemudian naik ke atas ranjang merebahkan badan sambil menatap gadis cantik yang masih berdiri disampingnya.


__ADS_2