Sudawira Kesatria Suci

Sudawira Kesatria Suci
Pertempuran Di Kerajaan Ramapala 1


__ADS_3

"Aku rasa ini sebuah peringatan bagi kita untuk bersiap berperang" Ucap Prabu Kamandaka.


"Benar Yang Mulia, hamba sependapat" Sahut Gumbirang.


"Jadi apa rencana mu sekarang?" Tanya Prabu Kamandaka.


"Mau tidak mau kita harus selalu siap menghadapi mereka, Untuk itu kita harus segera menghimpun kekuatan"


"Cepat laksanakan aku tidak ingin kegagalan"


*****


Maheswara dan Sudawira asik menikmati hidangan di Kedai Makanan.


"Aku rasa Prabu Kamandaka telah menyadari nya" Sudawira menatap keluar kedai terlihat prajurit yang hilir mudik.


"Aku sependapat dengan mu, bahkan aku melihat beberapa Pendekar golongan hitam" Maheswara memperhatikan para pendekar yang mulai masuk ke rumah makan.


Sudawira pun setuju, Ia sendiri melihatnya. "Sebaiknya kita cepat bergegas kita mulai menjadi pusat perhatian"

__ADS_1


Maheswara menyetujui dia segera memanggil pelayan dan memberikan beberapa kepeng untuk membayar makanan. Setelah usai keduanya bergegas meninggalkan Rumah Makan.


*****


Ketika cahaya sang surya mulai condong ke ufuk barat, Cahayanya perlahan mulai berubah dari keemas-emasan menjadi merah jingga.


Prabu Surasesa berdiri didampingi Patih Ajidarma. Pandangannya terarah pada bangunan yang sangat megah dan besar yang berada ditengah-tengah Kotaraja, cahaya lampu mulai terlihat dari istana kerajaan Ramapala tersebut.


Dia mengadahkan wajahnya ke langit tangannya dikepalkan dan memejamkan matanya, dalam dirinya terlintas seorang gadis manja karena ia sendiri yang memanjakan nya gadis itu bernama Dewi Utari adiknya sendiri putri ayahnya dari seorang selir, namun kasih sayang nya sama seperti adik kandungnya sendiri, Dewi Utari semakin sulit dikendalikan saat dia tertarik dengan salah satu Senopati bernama Kamandaka yang dikenal akan haus jabatan, karena hasutan-hasutan Kamandaka pula dia meminta haknya sampai akhirnya terjadilah peristiwa Kudeta.


Dan kini sesuatu yang tidak pernah diharapkan nya yaitu pertumpahan darah di keluarganya harus terjadi pula.


Dia tidak bisa membayangkan istana yang megah itu akan dipenuhi dengan noda-noda darah dan mayat-mayat.


Patih Ajidarma memahami kondisi keponakannya itu ia sendiri tidak mengharapkan terjadinya pertumpahan darah apalagi harus perang saudara.


"Yang Mulia" Dengan pelan-pelan mulai berbicara.


Prabu Surasesa terbangun dari lamunannya. "Iya paman"

__ADS_1


"Semua pasukan telah siap"


Prabu Surasesa membalikkan badannya dan menatap sebagian pasukan sedangkan pasukan lainnya sudah menyebar bersama pemimpin kelompok nya masing-masing, mereka berjajar rapi siap menerima perintah pimpinan mereka.


Derap kaki kuda terdengar kearah mereka dan terlihat Yudana pasukan segera memberikan jalan. Yudana segera turun dan berlutut memberi hormat.


"Bangunlah! Apa yang akan kamu sampaikan?"


"Semua sudah siap Yang Mulia, Pasukan telah berada pada posisi masing-masing"


"Bagus"jawab prabu Surasesa.


Dia menarik nafas panjang dan berkata lantang, "Dengar malam ini adalah malam kita berjuang mengambil hak kita kembali, Aku ingin kalian berjuang untuk menjadi pemenang bukan berlari menjadi pecundang"


Kata-katanya membuat darah pasukannya mendidih amarahnya terbakar semangatnya berkobar-kobar.


Dengan serempak mereka berteriak, "Hidup Prabu Surasesa jayalah Ramapala"


Semua pasukan nya segera bergerak.

__ADS_1


Penyerangan mereka akan dilakukan melalui dari tiga arah.


Arah pertama yaitu melalui pintu gerbang utama yang menuju istana langsung yang dipimpin oleh Senopati Lingga dan Abhiyasa. Arah kedua melalui gerbang kedua yang terletak di sisi bagian barat merupakan gerbang menuju tempat para pejabat yang akan dipimpin oleh Maheswara dan Sudawira. Arah ketiga melalui gerbang yang mengarah ketempat tinggal para prajurit, Sepasang pendekar teratai putih yang menjadi pimpinan pasukan nya.


__ADS_2