
Suasana pertemuan di Perguruan Rajawali Putih masih terus berlangsung walaupun sempat berhenti karena terjadi ketegangan antara Barata da Ajiseta. Namun keaadan menjadi kondusif kembali.
Hari menjelang senja tap belum ada keputusan yang diambil dari pertemuan itu.
Tiba-tiba seorang masuk keruangan pertemuan. Yaitu Karta murid Perguruan Rajawali Putih. Karta memberi hormat.
Ki Sadewa yang mendapatkan perasaan aneh lekas berkata, "Ada apa Karta?
"Gawat ... ketua ... ? Karta berkata gugup seolah ada ketakutan yang merasuki tubuh nya.
"Kita diserang ketua, bahkan orang penjaga akses masuk telah terlibat pertempuran!" Karta menundukan kepala.
Bukan hanya Ki Sadewa semua para ketua perguruan yang ada diruangan itu, berdiri saking terkejutnya.
Suasana kembali tegang terlihat raut muka Ki Sadewa telah berubah menjadi merah karena marah.
"Siapa yang berani menyerang Perguruan Rajawali Putih, padahal kita tahu bahwa hampir seluruh Ketua Perguruan golongan putih berada disini?" ujar Ki Brajadewa.
"Aku curiga ini adalah rencana seseorang!" Batara berfikir untuk menerka-nerka situasi.
Semua mata tertuju ke ketua dari Perguruan Bambu Kuning, Batara.
"Maksud anda ketua?" tanya Ki Sadewa.
"Penyerangan yang dilakukan ke Perguruan Angin Timur, adalah cara dia untuk mengumpulkan kita dalam satu titik ..."
__ADS_1
"Pertemuan ini adalah titik itu!" tambah Ki Brajadewa yang mulai mengerti maksud Batara
Batara menganggukan kepalanya setuju.
Ki Sadewa menggertak giginya menahan marah.
"Jadi orang itu ingin kita berkumpul, tapi siapa orang yang berani menangtang kita itu,"
"Siapapun orangnya dia sudah mempersiapkan semuanya untuk hari ini, sekarang mau tidak mau kita sudah masuk perangkapnya," ujar Ki Brajadewa.
Beberapa ketua menjadi gelisah sebagian, karena mungkin saja orang yang dibalik semua ini adalah orang yang sangat sakti. Alasannya dia jelas-jelas telah menangtang diri untuk melawan orang-orang sakti dunia persilatan saat ini. Namun sebagian masih tetap tenang karena diantara mereka ada para ketua perguruan seperti Ki Sadewa ketua dari Perguruan Rajawali Putih, Ki Brajadewa ketua dari Perguruan Teratai Putih, Batara ketua Perguruan Bambu Kuning, serta Ajiseta dari Perguruan Tapak Sakti dan masih banyak lagi lainnya.
Semua orang masih berdiam diri, mereka masih mencoba mencari jawaban dengan kejadia tiba-tiba ini.
Tidak menunggu perintah semua orang segera pergi dari ruangan.
****
Seseorang berdiri dibawah pohon yang agak rindang. Tampak ia memakai berwarna keemasan tubuhnya sedang namun kekar berotot.
Seorang memakai topeng yang sama mendarat dari pohon kemuduian memberi hormat.
"Bagaimana apa semua berjalan sesuai rencana?" ujar orang bertopeng emas itu.
"Sudah, ketua, semua sesuai rencana!"
__ADS_1
Orang bertopeng emas itu terlihat bersemangat kemudian tertawa lepas.
"Hahahaha, aku ingin melihat ekspresi wajah para ketua perguruan golongan putih itu," ujarnya.
Jawab seorang wanita berwajah cantik menghampiri. Sambil tertawa cekikikan sangat menakutkan.
"Yang jelas mereka tidak menyangka, lalu bersedih, hihihi ..."
"Hahahaha ... pasti seru." Tambah orang bertopeng emas.
"Aku sudah tidak sabar ingin membunuh orang yang telah membinasakan kedua orang tuaku!" Wanita itu tiba-tiba berubah jadi dingin serta nada bicaranya menjadi tinggi seperti menyimpan dendam membara.
"Kamu terlalu bernafsu, Intan!"
Sikap wanita itu kembali biasa.
"Maafkan aku ketua," ucapnya sambil menunduk.
Orang bertopeng emas tersenyum.
"Sudahlah, sebentar lagi kamu boleh melampiaskan semua kemarahan mu!"
"Baik Ketua," jawab yang disebut intan itu.
"Sekarang mari kita menyusul yang lain!" ujar Orang bertopeng memberi tanda untuk pergi.
__ADS_1