Sudawira Kesatria Suci

Sudawira Kesatria Suci
Pendekar Bertopeng Perak


__ADS_3

Mayangsari mengambil jarak setelah sebuah serangan lawannya berhasil mengenai lengan sebelah kiri. Dia tampak merintih karena serangan tersebut berhasil melukainya.


"Hahahaha menyerahlah nona manis! Kamu tidak akan bisa melawan lagi ..."


"Cuihhhh aku tidak akan pernah mengampuni kalian!"


Mayangsari sari melesat kembali' menyerang dia menggunakan seluruh kemampuan serta sisa tenaga. Lebih baik mati daripada menjadi budak nafsu mereka pemikiran Mayangsari saat itu.


Pertarungan pun kembali berlanjut Mayangsari menahan semua rasa sakit yang terus menggerogoti tubuhnya. Pertarungan tidak banyak berubah Mayangsari dipaksa harus menerima sayatan demi sayatan yang terus melukai tubuh.


"Sayang sekali aku harus membunuh wanita ini." Salah satu anggota perampok menghujamkan goloknya.


Mayangsari hanya memejamkan matanya ketika sebuah golok besar siap menebas tubuhnya.


Namun tiba-tiba disaat golok perampok tersebut sedikit lagi menyentuh kulit. Mayangsari tiba-tiba menghilang sehingga tebasan anggota perampok tersebut hanya memakan angin.


Masih dalam keterkejutan tiba-tiba.


Akhh ... akhhh ...

__ADS_1


Para perampok tersebut terpental terhempas beberapa meter berhenti ketika mereka membentur batang pohon kemudian rubuh ketanah dengan mendapatkan luka-luka yang serius ada pula yang sudah tidak memiliki kesadaran. Ketua perampok masih memiliki kesadaran namun luka-luka yang didapat matanya sudah buram menandakan dirinya juga akan segera pingsan tapi sebelum kehilangan kesadaran ia masih bisa melihat nampak seorang yang berpakaian serba putih serta memakai penutup wajah berupa topeng perak. Dengan seorang gadis yang berada disampingnya menatap mereka.


Mayangsari masih dalam kebingungan dengan apa yang terjadi. Dia menatap orang yang bertopeng perak mau berkata namun mulutnya masih terkunci.


"Mari saya obati luka nona!"


Pendekar bertopeng perak tersebut mendudukkan Mayangsari kemudian menyalurkan tenaga dalam sehingga luka-luka sayatan sudah tidak mengalirkan darah lagi.


Ki Surapati hanya bengong melihat kejadian yang begitu cepat dan mengerikan. Dia sendiri tidak mampu menebak seberapa besar kemampuan orang itu.


Setelah selesai mengobati Mayangsari kemudian pendekar itu memberikan beberapa pil penyembuh luka luar.


"Sudahlah tidak perlu sungkan sudah sepatutnya kita saling tolong menolong!" ujar pendekar tersebut tersenyum dibalik topeng perak yang dikenakannya.


"Ayah ..." Mayangsari teringat ayahnya sambil menoleh ayahnya yang tidak jauh darinya.


"Mari saya bantu ..."


Mayangsari dipapah oleh pendekar topeng perak menghampiri ayahnya. Ia segera memeluk ayahnya memperlihatkan ke khawatiran nya kepada ayah yang dicintainya.

__ADS_1


"Boleh aku memeriksa ayahmu?"


" Tentu pendekar silahkan!" ucap Mayangsari.


Pendekar bertopeng perak mulai memeriksa tangan Ki Surapati. Dia nampak terkejut dan mengernyitkan dahi.


"Senior terkena racun penghancur jiwa!" ucap pendekar bertopeng perak sambil terus memeriksa beberapa bagian tubuh.


"Apa ada penawarannya, aku baru mendengar tentang racun itu, pendekar? tanya Mayangsari penuh harap.


"Tolong posisikan untuk duduk!"


Kemudian Mayangsari membantu ayahnya untuk duduk.


Pendekar bertopeng perak mulai menotok di beberapa bagian. Kemudian setelah itu menempelkan telapak tangan pada punggung Ki Surapati. Ia mulai menyalurkan tenaga dalam setelah sekitar sepuluh menit Ki Surapati memuntahkan darah hitam selama beberapa kali. Menandakan racun yang bersarang di tubuh Ki Surapati telah keluar.


"Penyembuhannya membutuhkan waktu sekitar seminggu untuk itu bila nona tidak keberatan nona bisa ikut ke tempat ku!"


Tidak banyak berpikir lagi Mayangsari langsung menyetujui usulan tersebut lagi pula saat ini dia tidak memiliki tempat tinggal lagi. Karena itu tidak ada alasan baginya untuk menolak.

__ADS_1


__ADS_2