
Aku bangun dari tidur dengan posisi mas Dehan masih memeluk tubuhku kita sama-sama telanjang, wajah Dehan semakin tampan saja hingga membuatku ingin mengecupnya berkali-kali apalagi jika ingat kejadian saat malam tadi. Aku jadi malu sendiri, saat hendak bangun dari kasur tubuhku terasa remuk dan lemas bahkan alat vital ku sangat perih akibat ulah suamiku.
"Mas Dehan, aku memaafkan mu kali ini karena kau masih menjadi suamiku dan status ku masih istrimu. Sudah kewajiban ku melayani mu mas"
Kataku sambil mengelus rambut Dehan lembut dan penuh kasih sayang. Mas Dehan, aku sangat mencintaimu. Aku menghubungi pihak kantor dan meminta izin karena tubuhku tidak bisa bangun akibat perlakuan suamiku semalam. Setelah itu aku mengambil ponsel milik Dehan untuk melihat-lihat isi pesan masuk atau telepon, dan semuanya pesan itu bernama 'Rania istriku' aku tersenyum sambil memandang Dehan yang sedang terlelap tidur di sebelahku.
Aku tertawa terbahak-bahak melihat balasan suamiku terhadap baby sinner itu ia ubah namanya menjadi babi *****. Suara tertawa ku membuat Dehan bangun dari tidur dan melihat ke arahku dengan muka bantal dan suara beratnya.
"Sayang... Ada apa?" tanyanya dengan wajah yang disembunyikan di celuk leherku
"Mas kamu lucu banget sih haha... Masa nama baby sinner itu diganti jadi babi *****, terus juga isi pesannya bikin aku sakit perut tau Hahaha"
Mas Dehan melihat ku sambil tersenyum tulus, tanpa aba-aba dia langsung mencium pipiku sambil berkata
"Aku sudah bilang tidak akan menyembunyikan apapun lagi darimu Rania, aku hanya ingin hidup bersamamu sampai hari tua"
Aku melihat ke wajah bantal Dehan dan aku mencium bibirnya karena posisi kami masih telanjang bulat, tanpa sengaja lenganku menyentuh area sensitif Dehan dan membuatnya lebih beringas menciumi bibir.
"Mas Dehan.... Jangan, aku lelah karena semalam dan aku juga masih lemas bahkan tidak masuk kantor"
Kemudian Dehan berhenti mencium bibirku, dia meminta maaf karena kesengajaan ku telah membuat adik kecilnya bangun.
"Tapi kau sudah membuat ku ingin melakukannya lagi"
Aku melototi Dehan, apakah suamiku ini tidak lelah? Mengapa dia sangat senang sekali membuat istrinya capek karena permainannya.
"Iya Rania... Maafkan mas, aku akan pergi mandi dan membelikan sarapan untukmu"
Dehan beranjak dari tempat tidur kemudian mandi besar, setelah selesai dia hendak keluar kosan Rania dengan pelan-pelan agar orang-orang tidak curiga padanya. Akhirnya Dehan sudah di luar area kosan Rania, dia melambaikan tangannya ke kamar ku dan aku hanya tersenyum melihat ke arah Dehan.
Aku mengambil ponsel Dehan lagi dan kembali mengecek nya, dia sengaja menitipkan handphonenya padaku agar aku tidak curiga lagi katanya. Dehan keluar untuk mengambil mobil sewaannya yang ia parkir di depan sanggar tari Bu Dwi, dia juga menceritakan kesulitannya tanpa ku saat di Bandung dan tidak makan nasi selama 3 hari karena mencari ku.
Dehan kembali ke kosan Rania dengan membawa sarapan pagi, karena Dehan tanggung jawab maka dia akan mengurus Rania yang sedang sakit akibat ulahnya. Setelah itu, Dehan juga memandikan Rania dan mengajaknya untuk jalan-jalan keliling kota.
Tapi Rania merengek meminta agar Dehan mengantarnya ke tempat Rangga, sebenarnya Dehan sangat malas saat Rania cerita bahwa kakak kandungnya itu tunangan Lisa. Jadi Dehan akan menurut saja dengan keinginan istrinya itu.
"Mas Dehan... Gendong" ucap Rania sambil cemberut gemas membuat Dehan tak tega menolaknya.
Dehan menggendong Rania di punggungnya sambil masuk ke apartemen milik Rangga. Untungnya ada lift jadi Dehan tidak perlu naik tangga, hingga akhirnya mereka sampai di depan pintu apartemen Rangga.
"Kakak ini aku Rania!"
Setelah beberapa detik pintu di buka dan muncul sosok Rangga, Dehan menatap Rangga dengan sorotan tajam sedangkan yang ditatap kebingungan karena dia tidak tahu siapa pria yang menggendong adiknya.
"Ayo masuk Rania"
__ADS_1
Dehan mendudukkan tubuh Rania dan dia juga ikut duduk di sebelahnya.
"Kau siapa? Menggendong adikku?" tanya Rangga curiga
"Dia suamiku kak. Namanya Dehan Kavindra Perdana, kita sudah menikah selama dua tahun"
Dehan tersenyum karena Rania yang menjawabnya, ingin sekali sekarang ia menciumi bibir istrinya itu tapi ia sadar diri sekarang sudah ada pawangnya.
"Oh.. Jadi ini suami kamu yang Lisa bilang dia playboy"
"BOHONG!"
Dehan membuka suara beratnya untuk membela diri karena dia sudah tidak ingin lagi menjadi seperti itu
"Kak Rangga, walaupun kemarin kita marahan dan aku bersalah tidak menjaga adikmu dengan baik. Maka kedatangan kami di sini ingin bilang bahwa kami rujuk kembali"
Jawab Dehan tegas dan membuat Rania terkesima saat ini. Rangga memperhatikan Dehan secara seksama untuk menilai apakah dia pria yang baik untuk adiknya atau hanya main-main.
Rangga berbicara seolah menantang untuk berduel dengan Dehan, asal kalian tahu saja bahwa Dehan saat SMA sebagai kapten basket bahkan sekolahnya sering menang turnamen karena Dehan yang dijuluki sebagai *king of ring* . Rania tidak tahu harus berbicara apalagi, mengingat Dehan tidak suka di remehkan oleh orang lain.
"Siapa takut. Sayang aku akan membuktikan padamu bahwa aku sangat mencintaimu dan aku seorang *king of ring*!" suara berat Dehan membuat Rania tergila-gila sekarang
Rania hanya mengangguk dan tersenyum membuat Dehan dengan sengaja mencium bibir Rania di hadapan kakaknya, lantas dengan sigap Rangga menarik rambut Dehan agar menjauh dari adiknya.
"Aduh... Sakittt!! Kak Rangga!!" rengek Dehan membuat Rania merasa kasihan
"Kak Rangga udah dong kasian mas Dehan iiiihhhh"
Rania memukul lengan Rangga agar melepaskan jambakan dan usaha itu berhasil juga.
"Sore ini ku tunggu kau di lapangan olahraga jam 4 nanti"
__ADS_1
Setelah itu Rangga masuk kamar dan membiarkan Rania serta Dehan di ruangan tamu
"Sayangg aku sakit huhuhu..." ucap Dehan pura-pura kesakitan sambil memeluk tubuh Rania
"Sudah jangan nangis ya bayi besar ku"
Rania mengelus rambut Dehan agar dia berhenti meringis, padahal Rania tahu itu hanya modus tapi tidak peduli. Baginya bermesraan seperti ini sangat indah, apalagi dengan suami sendiri.
"Sepertinya aku butuh minum susu"
Perkataan Dehan membuat Rania melongo mendengarnya, pikiran Dehan itu mesum pasti dia ingin yang macam-macam di apartemen kakaknya.
"Mas, jangan di sini"
"Terus di mana? Kosan kamu kan khusus wanita kalo siang-siang gini pasti ketat penjaganya, apa kita sewa hotel"
Dehan berkata seperti itu sambil menaik turunkan alisnya sudah seperti orang mesum.
"Tidak! Bawahku masih sakit!" jawab Rania kesal
"Ya sudah main atas saja sayang"
"Kau ini memang yang semalam belum puas hah?!"
"Belum.. Bagaimana aku puas jika menahannya selama sebulan"
"DASAR SUAMI CABULI ISTRI!!!"
Rania hendak berdiri tapi dia lupa bahwa yang di bawah masih perih alhasil dia hanya bisa meringis dan pasrah.
"Aku sedang ingin sayang.. Please?? Aku tidak akan sentuh yang bawah, kita main di mobil saja ya??"
Mau bagaimana lagi, Rania hanya bisa menurut saja dengan ajakan suaminya.
__ADS_1