
Dehan, Rania, dan Derana sudah tinggal bersama layaknya keluarga. Dehan berencana membeli rumah baru di Bandung karena Rania telah diusir oleh keluarganya. Jujur saja Rania merasa bersalah dan bodoh memilih Dehan ketimbang keluarga, padahal kan Dehan juga suaminya hal itu membuat Rania terkadang melamun sendiri di waktu senggang.
"Kenapa?"
Dehan datang memeluk tubuh Rania dari belakang. Rania tetap diam tak bergeming
"Rania sayang, jawab aku" ucap Dehan lagi
Rania menghembuskan nafasnya
"Mas.. Aku merasa bersalah karena pilihanku"
"Apa?"
Dehan memeluk Rania sambil menopang dagunya di pundak kanan Rania. Membuat wanita itu merasakan hembusan nafas Dehan dengan suara beratnya.
"Aku ingin kita menjadi keluarga bukan seperti ini"
"Huffft.... Andai saja aku dulu tidak mengenal Gladys, mungkin tidak akan serumit ini"
Rania melepaskan diri dari pelukan Dehan kemudian membalikkan badannya menghadap sang suami.
"Aku mau tanya sama kamu"
Dehan menaikan alisnya bingung
"Mas, si ****** itu sekarang kemana?"
"Aku gak tau dan gak mau tahu lagi. Dia bukan urusanku mulai sekarang"
"Beneran gak tau???"
Nada Rania menggoda Dehan, siapa tau suaminya masih mencintai Gladys
"Sayang... Sekarang cuma kamu dan Derana yang ada di hatiku, jangan bahas orang lain"
Rania mengangguk mengerti sambil tersenyum, Dehan memeluk tubuh istrinya lagi dibarengi elusan rambut.
"Rania sayang.... Aku ingin kita seperti ini selamanya, aku bahagia bila memelukmu... Untuk urusan keluarga biar aku yang mencari jalan keluarnya, kamu jangan kebanyakan mikir. Aku pemimpin keluarga kita sudah seharusnya aku yang bertanggungjawab atas kebodohan ku dulu"
Perkataan Dehan sangat tulus, bahkan tak terasa Rania meneteskan air matanya dalam pelukan hangat Dehan. Mereka berdua berpelukan tiga menit lamanya seakan nyaman dan tenang, kemudian Rania lebih dulu melepaskannya.
"Tepati perkataan mu mas... Aku dan Derana akan selalu berada di sisimu"
"Pasti!"
Dehan menjawabnya sambil tersenyum memandang wajah cantik Rania, ia juga mengelus pipi chubby nya.
"Kamu lucu kalo chubby sayang"
Kata Dehan sambil mencubit pipi Rania tanda gemas
"Aaww sakit!!! Iihhh mas Dehan!!"
Rengek Rania manja, Dehan yang tak tahan ingin mencium bibir akhirnya terlaksana juga. Rania mendorong tubuh Dehan karena ini di balkon atas rumah, siapa tau ada orang lain yang melihat mereka.
"Jangan di sini malu"
Rania pergi meninggalkan Dehan, biasanya Dehan menyusul Rania tapi kali ini ia yang ikut memikirkan nya. Rania yang tadinya akan pergi malah menyadarkan Dehan dengan menepuk pundaknya
"Mas, ini masih sore Derana juga ada di rumah bunda. Kamu gak mau sentuh aku?"
Goda Rania pada Dehan yang melamun, selama Rania kabur Dehan memang belum berani menyentuh tubuh Rania karena ia juga ragu jika Rania ingin dirinya. Apalagi selama pindah Derana tidur satu ranjang dengan mereka, bagaimana bisa melakukan hal itu. Jadi saat mendengar penuturan Rania mata Dehan yang tadinya tertuju pada halaman kemudian melihat ke arah Rania yang sudah membuka piyamanya.
"Memang boleh?" tanya nya
Rania hanya mengangguk
"Ntar kalo hamil gimana?"
Dehan belum siap memiliki anak lagi, apalagi Derana masih berumur dua tahun. Dehan ingin fokus membesarkan Derana dengan kasih sayang saat sudah masuk sekolah TK barulah Derana bisa memiliki adik.
"Aku udah keluarga berencana mas"
Rania menarik tangan Dehan untuk menuju ke kasur, tak perlu ba-bi-bu lagi mereka berdua sudah berpengalaman. Sore hari ini mereka melakukan aktivitas yang dirindukan oleh keduanya, sudah lama sekali terhitung sejak Derana lahir. Melakukan ritual suami-istri memang harus dilandasi dengan cinta jika tidak hanya ada penghianatan di dalamnya.
Rania dan Dehan menjalani hidup seperti layaknya keluarga dengan satu anak, tapi yang menjadi permasalahan di sini adalah restu keluarga Rania. Semenjak Rania memilih Dehan hubungan nya retak bahkan jika Rania mengunjungi rumah kak Rangga ia selalu diusir
"MAU APA KE SINI? KAMU BUKAN ANGGOTA KELUARGA LAGI!"
__ADS_1
Selalu saja perkataan Ibu mengusir Rania, bahkan beberapa kali ibu menyuruh agar mereka bercerai. Tentu saja Rania tak ingin hal itu terjadi
"Bu, dulu Ibu yang selalu nyuruh aku buat nikah sama mas Dehan. Tapi sekarang??"
"Rania! Sekarang Ibu tak suka dengan Dehan! Dia sudah menyakitimu berkali-kali, dan juga... Ada kak Rangga yang sangat menyayangi Ibu daripada kamu!"
Rania hanya diam saja tak menjawab pertanyaan Ibu, ia sengaja datang sendirian ke sini.
"SUDAH SANA PULANG!!! JANGAN INJAKAN KAKI LAGI DI RUMAH INI!!!"
Ibu pergi mendorong kursi roda dibantu oleh suster, Rania tidak tau lagi harus bagaimana. Sangat susah untuk meluluhkan hati Ibu dan keluarga nya.
"Ibu aku ingin restu dari mu?"
Rania terus saja mengikuti Ibu kemanapun
"SANA PERGI!! IBU TIDAK PUNYA ANAK PEREMPUAN LAGI SELAIN LISA!!!"
"LISAAAA KEMARIII!!!" Ibu memanggil nya
Lisa datang menghadap Ibu, ia kaget melihat Rania yang sedang cemberut tepat berdiri disebelah kursi roda.
"Ibu?? Kenapa ada Rania?"
Lisa menuruti perintah Ibu tapi matanya masih menatap Rania. Bagaimanapun mereka berdua sudah dekat sebagai adik-kakak ipar, sering shopping bersama dan membuka bisnis bareng. Setelah sampai di kamar Ibu menarik tangan Lisa
"Lis.. Itu si Rania suruh cerai dari Dehan, Ibu juga pengen liat Rania dan Derana kumpul di rumah ini lagi"
"Tapi bu..."
"Sudah jangan tapi-tapi! Ingat tidak malam itu saat Dehan memukul suamimu??"
Lisa mengangguk
"Sudah sana bujuk Rania!"
Lisa keluar kamar dan menemui Rania, benar saja wanita itu sedang duduk di ruang tamu sambil menangis tanpa suara.
"Rania?" panggil nya
Rania menoleh ke arah Lisa sambil menghapus air matanya.
"Lis... I miss you..."
__ADS_1
Lisa duduk di samping Rania, ia juga memeluk adik iparnya itu. Rania malah menangis sesenggukan di pelukan hangat Lisa, kemudian ia melepaskan nya untuk berbicara.
"Lisa... Maafin aku, aku egois ya? Mas Dehan juga waktu itu khilaf sama kak Rangga"
"Ran..."
"Aku pengen banget kita bisa kumpul keluarga lagi..... Derana bilang kangen nenek, aunty Lisa sama om Rangga.. hikss.... aku.... Ibu yang gagal.... huaaa"
"Rania...." Lisa mengelus pundak Rania sambil sesekali menghapus air matanya
"Lis, Ibu tadi ngomong apa?"
"Tarik nafas dulu terus tenangkan diri kamu."
Lisa menginstruksikan Rania untuk menghirup udara agar tenang
"Udah tenang?"
Rania mengangguk sambil tersenyum
"Sebelumnya aku minta maaf sama kamu waktu itu kasar banget, aku kaget Dehan mukul mas Rangga istri mana yang terima suaminya babak belur!? Sumpah Ran, sampe seka aku benci sama si Dehan playboy!!"
"Iya Lis... Aku juga minta maaf banget karena mas Dehan semuanya jadi ribut malem itu"
"Tadi di kamar Ibu bilang ke aku, kalau kamu di suruh cerai"
Rania menarik nafas panjang dan menghembuskan kasar.
"Aku gatau lagi harus gimana Lis... CAPEK!!"
Lisa mengusap bahu Rania agar santai
"Ran, kamu itu kan tetep jadi adik ipar ku. Aku siap kok buat bantu kamu"
Rania menoleh ke wajah cantik Lisa sambil tersenyum bahagia.
"Serius??!"
Lisa mengangguk
"MAKASIH BANYAK KAKAK IPAR KU!!! AKU TAU BANGET LISA ITU ORANG BAIK HIHIHI.... I LOVE YOU MY SISTER-IN LAW"
Rania mencium pipi Lisa sambil memeluk nya, Lisa juga tertawa karena ulah kekanakan Rania. Mereka saling bercerita tentang apapun saat ini
__ADS_1