
Rania dan Derana sudah pulang ke rumah, kemudian ia menidurkan Derana ke kamarnya setelah itu pergi ke dapur untuk bersiap-siap membuat kue. Lisa sedang menonton televisi sambil menunggu kepulangan Rania, saat melihat Rania ke dapur Lisa langsung beranjak ke dapur
"Dari mana aja sih Ran? Kayanya penting banget tadi??"
Tanya Lisa penasaran sambil ia mengikat rambutnya
"Abis ketemu temen tadi, udah lama ga ketemu jadi ngobrol dari a-z"
Jawab Rania dengan muka datar agar tidak ketahuan Lisa jika ia berbohong. Lisa percaya saja kepada Rania, toh yang penting mereka pulang dengan selamat sampai di rumah.
Rania dan Lisa mulai membuat kue biji ketapang serta kue bolen untuk Ibu. Selama proses pembuatan kue mereka berdua bergosip mengenai Galih
"Ran kamu mau tau gak sekarang Galih pindah kemana?"
"Mau"
"Ekhem.. Kayanya ada yang masih suka nih sama Galih" goda Lisa
Wajah Rania memerah lantaran malu, jujur saja Rania sempat suka pada Galih saat hubungan ia dan Dehan renggang dulu.
"Apaan sih Lis!! Aku cuma kepo aja kok ga lebih"
"Hahaha... Gilang sekarang pindah ke Bandung, siapa tau kamu nanti bakal ketemu sama dia"
"Apa hubungannya aku udah sama mas Dehan"
"Siapa tau kalo Dehan ngelakuin hal buruk lagi tinggal calling Galih, lagian dia juga sahabat deket nya mas Rangga"
Rania tidak menjawab pernyataan Lisa, ia hanya diam saja.
"Kamu masih suka sama Galih Ran?"
Lisa bertanya pada Rania
"Sedikit sih, aku cuma sekedar suka aja ga ada rasa cinta atau selebihnya"
"Oohh gitu, tapi kalo misal nih tiba-tiba Galih suka balik ke kamu gimana?"
"Lis udah ah, aku gak mau bahas lagi. Cukup! Cuma mas Dehan yang aku cinta!!"
"Maaf beb"
Lisa hanya meminta maaf kemudian terdiam, padahal ia menyampaikan pesan jika Galih sering menanyakan Rania seperti
'Bagaimana keadaan nya?'
'Apa Rania dan anaknya baik-baik saja?'
'Rania sedih tidak? Aku ingin bertemu'
Sudah jelas bahwa Galih menyukai Rania, apalagi dulu mereka pernah dekat saat Rania hamil Derana dan ditinggalkan Dehan. Sejak itu hubungan mereka dekat, Rangga ingin menjodohkan adiknya dengan Galih. Namun Rania tetap memilih Dehan yang pengecut, baginya cinta Dehan saja sudah cukup.
Pembuatan kue telah selesai, Lisa sudah membawa dua toples kaca kue biji ketapang ke kamar nya guna tidak ada orang lain yang memakan nya. Sedangkan Rania masih menata sisa kue biji ketapang tadi ke toples lainnya, untuk persediaan di rumah Ibu kalau-kalau ada tamu datang.
Tak lama kemudian, suara bel oven berbunyi tanda bahwa kue bolen untuk Ibu telah matang. Rania mengambilnya dengan menggunakan sarung tangan, wangi kue itu sangat harum serta menggiurkan siapapun yang mencium aromanya.
"Hmmm... Akhirnya jadi juga kue untuk Ibu, tinggal tunggu dingin lalu pindahkan ke tempat makan kedap udara"
Ucap Rania dengan senang hati, memang ia perempuan yang serba bisa. Dulu saat masih gadis banyak laki-laki yang mengejarnya untuk dijadikan sebagai istri, namun ia menolak semua ajakan itu guna menjaga Ibu yang sedang sakit dan fokus berkarier. Hingga Ibu menjodohkan Rania dengan Dehan, hingga Dehan lah yang beruntung mendapatkan istri sempurna seperti Rania.
Setelah dirasa cukup dingin, Rania menata kue bolen tersebut di tempat makan lalu sisanya ia letakkan di piring kecil.
"Semoga Ibu masih suka dengan kue buatan ku"
Ia membawanya ke kamar Ibu dengan tangan sebelah kiri ada air teh hijau hangat, Rania tau kebiasaan Ibu ketika makan kue manis selalu minum teh hijau.
TOK
TOK
TOK
Ketukan pintu kamar terdengar, suster di dalam membukanya.
"Nona Rania? Ibu ini ada Rania"
"SURUH DIA PERGI!! JANGAN MASUK KE DALAM"
__ADS_1
Ibu berteriak agar Rania tidak usah masuk ke dalam.
"Tidak apa-apa sus. Aku baru aja bikin kue bolen kesukaan Ibu, tolong dikasihkan ya mumpung masih hangat"
Suster menerima kue dan teh hijau hangat, Rania langsung menutup pintu kamar Ibu dalam hatinya berbicara
"Semoga Ibu bisa berdamai denganku"
Ibu mulai memakan kue bolen buatan Rania sudah lama sekali rasanya tidak menikmati kudapan favoritnya.
"Rasanya masih sama enaknya"
"Bu sepertinya nona Rania ingin---"
"DIAM!!"
Potong Ibu dengan suara kerasnya.
"Jangan berbicara tentang itu lagi atau selera makan ku hilang!"
Suster hanya bisa meminta maaf dan izin keluar sebentar agar Ibu bisa leluasa untuk memakannya. Rania yang melihat itu langsung mendekati suster
"Gimana? Ibu makan ga?"
"Alhamdulillah!!!"
Rania bersyukur, tidak sia-sia juga ia membuat kue hari ini. Tangisan Derana menggelegar sehingga Rania segera beranjak ke kamar
"Mamaaaaaaaaa huwaaaa....."
"Kenapa sayang??"
Derana memeluk Rania dengan erat sambil menangis sesenggukan. Sebagai seorang Ibu Rania mengelus-elus tubuh anaknya itu sambil menenangkannya, setelah dirasa cukup tenang Rania menanyakan Derana
"Dede kenapa bangun tidur siang langsung nangis? Biasanya dede pinter"
"Aku mimpi papa ga sayang lagi, terus tinggalin aku ma"
Rania memangku Derana wajah anak itu ia tangkup
__ADS_1
"Sayang... Papa sama mama ga akan tinggalin Derana sampai kapanpun itu. Dede tetep anak kesayangan kita semua"
Ia terdiam sambil menghapus air matanya sendiri.
"Dede mau telpon papa"
Rania mengambil handphone nya di meja rias, kemudian mencari kontak suaminya dan menghubungi nomor tersebut.
"*Assalamualaikum istriku, dede udah mendingan kan*?"
"*Walaikumsalam mas, udah kok. Ini dia mau telpon kamu*"
Dan terjadilah percakapan random antara anak serta ayah yang membicarakan mimpi Derana, sepertinya anak itu tidak bisa sehari saja tidak menelepon Dehan. Pernah suatu waktu Rania dan Dehan sedang marahan, ia tidak mau satu kamar dengan suaminya. Sedangkan Derana masih membutuhkan Rania, hingga mau tidak mau Rania mengalah oleh ajakan anaknya.
Hanya bertahan tiga hari setelah itu mereka balikan lagi demi Derana. Separah apapun emosi Rania anaknya bisa menjadi penengah, begitupun Dehan ia akan melakukan apapun agar istrinya luluh kembali.
"Mama nih"
Derana mengembalikan handphone Rania, kemudian hanya mereka berdua yang melanjutkan percakapan
"Sayang, kamu kapan pulang?"
Tanya Dehan di telfon
"Gak tau nih mas, aku pengen pulang tapi aku juga pengen Ibu luluh"
"Ya udah kamu pulang aja dulu. Kan bisa sesekali ke Jakarta nengokin Ibu biar aku antar nanti"
Rania menutup telefon secara sepihak, lalu turun ke bawah untuk bertemu Ibu. Ia mengetuk pintu kamar sehingga suster membukanya
"Assalamualaikum Ibu, aku ingin---"
"SANA PERGI SAJA!! JANGAN KEMBALI LAGI SEBELUM KAU BERCERAI DENGAN DEHAN!!!"
Rania hanya diam menunduk, detik selanjutnya ia membuka suara
"Bu, kenapa Ibu sangat membenci Dehan? Padahal dulu Ibu mendukung ku saat pergi dari Bandung?"
"Itu dulu! Sudahlah sana!!"
__ADS_1
Rania pergi meninggalkan kamar Ibu sambil matanya berkaca-kaca, saat itu pula ia menangis. Untung saja Derana sedang bermain di taman belakang jadi tidak ada satupun yang tahu tangisan nya.