TAKDIR CINTA DERAN (Dehan Rania)

TAKDIR CINTA DERAN (Dehan Rania)
38. Tolakan


__ADS_3

Sudah seminggu Rania tinggal di rumah orangtua Dehan, sekarang saatnya ia serta Derana pulang ke Jakarta.


"Jangan bosan-bosan main ke sini ya... Bunda sayang kamu dan Derana"


"Iya bunda!!! Ayah Bunda jaga kesehatan ya? Mas Dehan juga"


"Iya sayang pasti kok!"


Rania menaiki mobilnya dan keluar dari gerbang


"HATI-HATI DIJALAN! AKU AKAN MENYUSUL KALIAN KE JAKARTA"


Teriak Dehan yang didengar oleh Rania, kemudian ia tersenyum manis lalu melajukan mobilnya untuk pulang ke Jakarta kembali.



Rania sampai di Jakarta malam hari setelah magrib, tiba-tiba Lisa menarik tangan Rania



"Aduuh Lis, hati-hati dong! Aku lagi gendong anak nih!"



"Cerita-cerita gimana reaksi Dehan pas ketemu anaknya?"



"Besok aja ya Lis? Aku capek banget"



Lisa sangat tertarik dengan pengalaman Rania ke Bandung. Tapi Rania malah mengabaikannya untuk istirahat, hingga esok pagi Lisa datang kembali untuk bertanya-tanya pada Rania



"Cerita Rania!!!! Kamu udah janji loh semalam!"



Rania menceritakan apa yang terjadi saat di Bandung



"Terus KB nya ga berguna dong?"



Rania mengangguk



"Yaahh"



"Tapi aku mau lanjut kok, takutnya tiba-tiba mas Dehan ke Jakarta"



"Ngapain si Dehan ke sini?"



"Aku bilang ke dia, kalau mau balikan harus minta maaf dulu ke kamu, kak Rangga sama Ibu"



Lisa bertepuk tangan

__ADS_1



"Bagus! Ini baru wanita yang patut diperjuangkan"



Lisa memeluk Rania untuk menyemangatinya.



Dehan berencana membuka bisnisnya di Jakarta karena ia juga akan mengurus dokumen-dokumen pemasaran di sana. Sekalian ia akan meminta maaf kepada Rangga dan Ibu, sesampainya di sana Dehan mengetuk pintu rumah asisten rumah tangga yang membukanya


"Cari siapa ya?"


"Rania, ada di rumah?"


Pembantu tersebut mempersilahkan Dehan masuk kedalam untuk duduk di ruang tamu. Dehan terkesima melihat interior rumah Rangga, sangat mewah dan besar bahkan melebihi rumah bunda nya. Pantas saja Rania betah tinggal di sini, setelah menunggu sepuluh menit Rania turun dari tangga betapa terkejutnya ia melihat Dehan hampir lima bulan yang lalu.


"Mas Dehan?"


"Rania sayang"


"LISAAAA!!! IBU!! KEMARI ADA MAS DEHAN"


Rania memanggil mereka berdua, lalu menyuruh pembantunya untuk menjemput Ibu karena Ibu menggunakan kursi roda. Dehan tersenyum memperhatikan Rania ia sangat cantik bahkan badannya tak pernah berubah meski sudah memiliki anak


"Mas Dehan, kok bisa sampe sini sih?"


Tanya Rania


"Aku kangen kamu sayang"


Jawab Dehan dengan suara beratnya, Rania mendekati Dehan lalu berjabat tangan tapi Dehan malah menarik tubuh Rania hingga mereka berpelukan


"Aku akan membuktikannya sekarang"


"Ehem!"


"Ibu... Apa kabar?"


Kata Dehan sambil berjongkok di kursi roda


"Mau apa kamu ke sini?" Sewot Ibu


"Dehan mau minta maaf"


"Baru sadar kamu?!"


Dehan terdiam sejenak kemudian menciumi tangan Ibu dan bertekuk lutut


"Maafkan Dehan bu... Dehan lalai menjaga anak Ibu, Dehan tidak sadar saat melakukannya"


"Ya, memang laki-laki seperti itu"


Jawab Ibu, lalu Lisa menjawab


"Dehan itu playboy Bu, jangan pernah percaya lagi kita titipin Rania apalagi Derana"


Ibu semakin marah


"Suster bawa saya kembali ke kamar. Saya malas melihat laki-laki tak tahu diri ini"


Asisten Ibu menuruti perintah Ibu untuk kembali ke kamar, menyisakan Rania Lisa dan Dehan


"Lis, tolong..." mohon Dehan


"Apalagi sih Dehan??!"


"Rania sayang, kamu gak kasian sama mas? Bujuk ibumu dong"

__ADS_1


Pinta Dehan pada Rania sambil menatap mata


"Maaf mas, aku gak bisa. Kamu harus berjuang sendirian"


"Lagian sih salah lo sendiri!! Bersyukur punya istri sesempurna Rania. Eh, lo malah main api karma!!"


Lisa beranjak dari duduknya dan pergi masuk kembali kedalam kamar


"Sayanggg" rengek Dehan


Dehan juga memeluk Rania untuk meminta bantuan agar Ibu serta Lisa merubah pikirannya.


"Gak bisa mas, kamu mau tunggu kak Rangga pulang gak? Bentar lagi dia pulang kok biasanya"


Dehan mengangguk selain menunggu kak Rangga dia juga ingin berduaan dengan Rania. Apalagi tidak bertemu selama lima bulan, mereka mengobrol tentang kedai Dehan serta perkembangan Derana layaknya suami-istri pada umumnya.


Hingga akhirnya suara mobil terhenti di luar sana dan muncullah seorang Rangga


"DEDEMIT!! NGAPAIN LO ADA DI RUMAH GUE??!"


Teriak Rangga, ia langsung menarik kerah baju Dehan kencang. Rania tidak membela suaminya karena Rania ingin melihat seberapa besar perjuangan Dehan padanya


"Kak... Lepas.. uhuk uhuk.."


Rangga tak peduli ia menyeret Dehan keluar rumahnya


"JANGAN PERNAH DATANG LAGI!! KALO LO MAU KETEMU RANIA ATAU DERANA, GUE GAK TERIMA KEDATANGAN LAKI-LAKI BRENGSEK KAYA LO! PAK SATPAM! BAWA DEDEMIT INI PERGI JAUH!"


Dehan melepaskan cengkraman tangan satpam itu


"Lepas pak! Saya mau ngucapin selamat malam dulu buat Rania!! Selamat malam sayang, tidur yang nyenyak biar bisa jagain anak kita. I love you"


"HALAHH TA* LO!!"


Rangga menyeret Dehan keluar bersama satpamnya, setelah dipastikan Dehan keluar kak Rangga menarik tangan Rania kencang untuk masuk kedalam rumah. Lalu Rangga mendudukkan Rania di sofa


"Ngapain si brengsek itu ke sini??"


Tanya kak Rangga mengintimidasi Rania


"Nanyain kabar Derana doang kak, terus aku juga ngobrol sebentar ga lebih"


Rangga mengacak-acak rambutnya kasar


"Aduuhh... Rania, si Dehan itu playboy! Inget dedemit yang nyakitin kamu dulu, sampe kamu pernah sekurus ini"


Rangga memperlihatkan foto Rania saat baru kabur dari Bandung, terlihat tubuhnya kurus karena Dehan


"Kak... Aku udah percaya---"


"JANGAN JADI WANITA BODOH RANIA!!! SAMPAI KAPANPUN KAKAK GAK AKAN PERNAH MAAFIN DEHAN ATAU KAMU KETEMU DEHAN LAGI TITIK!!!"


Bentak Rangga setelah itu meninggalkan Rania di ruang tamu sendirian, tentu saja Rania menangis sesenggukan. Ia sudah memaafkan Dehan, apalagi saat di Bandung kemarin bunda menunjukkan bukti-bukti bahwa Dehan sudah berubah.


"Kenapa tidak ada yang percaya padaku? Mas Dehan juga"


Rania menangis sambil melihat pantulan dirinya di cermin sebrang sofa, ia sangat berharga dibandingkan apapun.


"Aku berharga, aku seorang Ibu dari anak kecil yang lucu. Aku Rania Gandhita Wardhana meskipun aku masih istri Dehan tapi aku tetap jaga jarak selama Dehan belum dapat kata maaf"


Ia menghapus air matanya lalu kembali ke kamarnya untuk tidur dan memeluk Derana


"Mama sayang banget sama kamu, mungkin kalau Derana udah ngerti kamu juga bakalan sama ya kaya kak Rangga. Tapi Derana ga boleh nakal sama Papa, bagaimanapun itu kan Papa kamu suaminya Mama"


Rania mengecup kening Derana pelan karena takut anak itu terbangun. Hingga ia merebahkan tubuhnya di samping Derana memandang wajah anaknya


"Kamu mirip Papa Dehan ya. Idungnya, matanya, tapi bibirnya kaya Mama hihihi"


"Tapi gak apa-apa kamu ganteng kaya Papa, Derana kan laki-laki asal perilakunya jangan kaya Papa aja. Good night sayangnya Mama"

__ADS_1


Setelah mengucapkan itu Rania tertidur pulas sambil memeluk Derana.


__ADS_2