TAKDIR CINTA DERAN (Dehan Rania)

TAKDIR CINTA DERAN (Dehan Rania)
54. Quality Time


__ADS_3

Setelah pulang dari Jakarta, Rania serta Dehan menjalani aktifitas seperti biasanya. Derana juga tiap pagi diantar sekolah paud oleh Dehan, sedangkan Rania di rumah layaknya ibu rumah tangga.


Pagi itu Rania sedang melihat-lihat kotak surat di depan rumah, ia melihat sebuah surat undangan open house dari Gilang.


"Ya ampun, Gilang masih mengingatku ternyata"


Rania tersenyum melihat surat tersebut, jujur saja Rania masih menyukai Gilang namun Dehan sangat overprotektif dengannya. Bahkan Rania tidak diperbolehkan untuk dekat-dekat Gilang lagi, namun ia akan berusaha membujuk Dehan nanti.


Siang hari Rania menjemput Derana di taman kanak-kanak


"Mamaaaaaaa"


Derana berlarian menuju pelukan Rania


"Hallo sayang, gimana sekolahnya hari ini? Are you happy?"


"Iya, aku tadi belajal gambal sama ngitung satu dua tiga"


Derana masih saja cadel meskipun usianya sudah 3 tahun lebih, Rania tidak memaksa anaknya untuk berbicara R' biar saja ia belajar sendiri.


"Pinter dong anak Mama!"


"Mama aku main lagi ya sama temen-temen"


Derana berlari ke taman bermain, Rania bersama para orang tua anak di sekolah Derana sedang berdiskusi untuk makan siang bersama. Layaknya ibu-ibu rempong pada umumnya, Rania hanya bisa ikut serta dalam kegiatan tersebut.


*Chatting


*Rania: Mas aku izin ya mau makan bareng ibu-ibu sekolah Derana


Dehan; Iya sayang, kalau mau pulang kabarin aku.


Rania: oke*!


Rania dan ibu-ibu sekolah Derana makan bersama di sebuah restoran yang cukup terkenal di daerah Bandung, anak-anak mereka juga ikut makan. Biasalah mereka bergosip ria, karena ibu-ibu yang Rania ikut ini kelas sosialita maka mereka hanya bergosip seputaran perusahaan suaminya masing-masing dan skandal di dalamnya.


Setelah selesai acara makan bersama, Rania meminta Dehan menjemputnya. Tak butuh waktu lama Dehan datang mobil Hyundai Palisade milik nya, Dehan sengaja memilih mobil SUV karena ia ingin mengajak keluarga serta Rania berjalan-jalan bersama.


"Papa, dede tadi udah belajal gambal sama ngitung loh di sekolah"


Ocehan Derana terdengar di dalam mobil


"Oh ya? Hebat dong berarti anak Papa udah bisa ngitung hihi"


Dehan sangat senang mendengar Derana bercerita, karena ia ingin menjadi sahabat bagi anaknya.


"Bisa dong! Satu... Dua.. Tiga... Empat... Lima... Sepuluh."


Katanya sambil memainkan jari mungilnya.


"Nanti belajar lagi ya di sekolah, masa udah lima jadi sepuluh"


Rania memberitahu Derana dengan lembut, Dehan yang sedang menyetir mobil hanya terkekeh kecil mendengar penuturan Derana.

__ADS_1


"Iya Mama tadi aku lupa deh abis lima berapa ya?"


"Abis lima itu enam, tujuh, delapan, sembilan, sepuluh"


Rania sedang mempraktikkan jarinya di hadapan Derana, untuk belajar menghitung. Anak itu hanya memperhatikan Rania meskipun ia sedikit mengantuk, namun ia tetap memperhatikan.


"Kalian udah makan kan? Mau jajan apa? Jadwalku kosong hari ini setengah hari doang"


Tanya Dehan pada anak dan istrinya.


"Aku mau ke Mall boleh ga mas? Hehe foundation, serum, sama lip gloss ku habis"


"Cuma beli make up doang? Ga mau shopping?"


Rania menggelengkan kepalanya, Derana malah semangat saat Papa berbicara seperti itu


"DEDE MAU MAINAN PAPAA!!!"


"Oke!"


Dehan mengarahkan kendaraan nya ke Mall, lagipula ia sedang pusing akhir-akhir ini karena pekerjaan jadi tak ada yang salah bukan jika menghabiskan uang untuk melihat anak dan istrinya bahagia.


Selama di Mall, Derana kalap mengambil mainan. Rania sebagai orang tua mulai menerapkan sikap disiplin


"Dede cuma boleh ambil 3 barang, lebih dari itu Mama sama Papa gak mau bayar!"


"Tapi aku mau..."


Derana yang paham langsung berlari mencari mainan yang sangat ia perlukan, Dehan malah tepuk tangan


"Hebat! Istriku bisa tegas juga ternyata, makin sayang aku"


Dehan memeluk Rania sambil mencium pipinya, Rania yang risih langsung melepas nya


"Malu banyak orang dan anak kecil"


Rania berjalan menyusul Derana yang sedang sibuk mencari mainan yang mau ia beli, daritadi mondar-mandir kebingungan. Akhirnya ia telah menemukan beberapa mainan yang dimaui


"Mama aku mau ini ya"


Tanya nya sambil menunjukkan 3 mainan di tangan yaitu mobil-mobilan, dinosaurus, dan figura superhero.


"Tanya Papa, kan yang mau beliin mainan Papa"


Derana menunjukkan ke Dehan


"Oh itu... Masih mau beli lagi gak?"


Derana menatap Rania, namun ia malah terdiam


"Mama aku.."


"Gak!"

__ADS_1


Belum selesai berbicara Derana terdiam lagi


"Ya udah, kalo dede gak mau beli lagi. Kita bayar ya ke kasir"


Derana yang menurut perkataan Papa Dehan, sejujurnya anak itu masih ingin mainan lagi tapi melihat reaksi Rania ia mengurungkan keinginannya meskipun Dehan menawarkan diri. Setelah mereka selesai membeli mainan kini tiba saatnya giliran menyenangkan Rania, tentu saja Rania kalap dengan diskon kosmetik.


"Mama aku tadi beli mainan cuma 3, Mama kok beli ini banyak?"


Rania yang seakan malu dengan sifat khilaf nya langsung mengembalikan barang yang sudah ada di keranjang tadi.


"Eh, gak kok... Mama gak beli banyak, ini buat Oma sama Tante Lisa"


Dehan yang memperhatikan tersenyum jahil lalu berkata


"Tau ya dek, padahal tadi dede beli mainan ga boleh banyak-banyak tapi Mama beli banyak skincare"


Rania melototi Dehan, yang ditatap seakan tidak peduli ia bersiul sambil melihat-lihat produk kosmetik yang dipajang


"Mas bawa Derana ke luar toko!"


"Biarin aja dia tau kelakuan Mama kalo udah di toko kecantikan"


Rania yang kesal mendekati Dehan, tangan kanan Dehan sudah dicubit oleh Rania kemudian ia berkata di depan wajahnya


"Mas... Kalo ga nurut gak ada jatah loh minggu ini"


Dehan lebih takut tidak diberi jatah ketimbang disiksa Rania


"Siap sayang! Derana kita main ke Timezone aja yuk"


Dehan membawa Derana keluar dari toko tersebut, Rania yang merasa tenang melanjutkan belanjanya.


"Akhirnya pengganggu sudah pergi... Saatnya belanja dengan tenang dan hati senang"


Kartu kredit Dehan ada di tangan Rania sekarang jadi dia bisa belanja apa pun, tapi ia tidak ingin terlalu boros.


Di sisi lain, Derana dan Dehan tengah bermain balapan mobil. Keduanya tampak kompak menghabiskan waktu bersama di Timezone, Derana yang bahagia bersama Dehan.


"Ayo dek, tabrak mobil yang depan! Papa bantuin gas sama pindah gigi"


Karena Derana masih kecil jadi tubuhnya tidak sampai ke bawah untuk bermain gas jadi dia hanya bisa menyetirnya saja.


"Udah lah aku bosen, mau main yang lain"


"Oke!"


Dehan merekomendasikan Derana bermain basket di ring, tapi nyatanya yang bermain hanya Dehan sendiri. Anak kecil itu malah pergi ke tempat istana balon, Dehan tak menyadarinya saat melihat ke bawah sudah tidak ada Derana.


Ia yang khawatir langsung mengelilingi Timezone dan akhirnya berhasil menemukan Derana tengah berdiri memperhatikan anak-anak lain bermain di istana balon.


"Derana... Papa cariin kemana-mana, dede mau main itu?"


Derana mengangguk sambil tersenyum, Dehan yang tidak tega langsung membayarnya dan Derana masuk ke dalam untuk bersenang-senang.

__ADS_1


__ADS_2