
Sebenarnya masih banyak ujian yang harus dilakukan Dehan untuk mendapatkan restu dari Rangga, namun Rania justru yang balik kesal dengan sikap Rangga. Dehan sering mengeluh sakit pinggang dan ototnya tegang, setiap malam Rania yang memijatnya.
"KAK RANGGA! INI SUDAH KETERLALUAN!!!"
Dengan terpaksa Rangga menghentikan penyiksaa nya. Rania pulang ke kosan untuk membereskan baju-bajunya, dibantu Dehan sesekali Rania melihat ke sekeliling demi mengingat moment pertama kali Dehan menemukannya di kosan ini dan malam panas itu terjadi.
"Kenapa melamun?"
Rania langsung memeluk Dehan dan dia hanya mengelus rambut Rania.
"Aku ingat saat pertama kali datang ke sini dan mas menemukan ku"
Dehan menenangkan hati Rania yang akan menangis
"Sudahlah kita akan pulang ke rumah"
Rania menatap wajah tampan Dehan, tidak bisa menjawab perkataan apapun. Sedangkan Rangga bilang akan menyusulnya nanti untuk bertemu Ibu yang ia tinggalkan, se durhaka nya Rangga dia masih ingat ibunya bahkan selama hidup Rangga diam-diam suka memberi uang bulanan untuk Ibu lewat pembantunya.
Rania dan Dehan berpamitan kepada Lisa serta Rangga, ia memeluk kak Rangga erat untuk berpisah sementara. Namun saat Dehan mendekat ke arah Rangga, dia malah melotot membuat Dehan enggan berdekatan lagi.
"Kak Rangga, Lisa aku pulang dulu ya. Nanti kita bertemu di sana, jangan lama-lama loh nanti aku rindu"
Ucap Rania dengan suara manjanya, hal itu membuat Dehan gemas lantas mencium pipinya. Kemudian Rania juga membalas kecupan Dehan, membuat Rangga berdehem
"Ehemmm... Sudah cepat masuk"
"Aaaww... So sweet banget, mas Rangga nanti kalo kita udah sah kaya mereka ya" ucap Lisa
Seketika wajah Rania memerah karena malu, mereka berpisah di bandara. Dehan sudah memesan tiker jauh-jauh hari setelah bertemu dengan Rania dia langsung memesan secara online. Selama di perjalanan, Rania melihat ke arah jendela hamparan awan putih dengan langit biru membuat Rania bersyukur masih bisa diberi umur panjang dan merasakan kebahagiaan dengan suaminya lagi.
"Sayang kau tidak mengantuk?" tanya Dehan
"Mas, jangan berubah lagi ya... Aku sudah menyerahkan hidupku padamu, tapi jika kau menyakitiku seperti kemarin aku bisa pergi lebih jauh dibandingkan ke Jogja"
Dehan yang ketakutan langsung memeluk Rania erat sambil menciumi rambutnya berkali-kali
"Tidak! Aku tidak akan membiarkan mu pergi lagi, hanya kau wanitaku.. Hanya kau Rania, yang akan menjadi ibu dari anak-anakku"
Rania tersenyum tulus kemudian membalas pelukan Dehan, hingga mereka berdua saling bermanjaan. Rania yang bercerita tentang kisah cinta Romeo and Juliet' Sedangkan Dehan malah bercerita tentang Spiderman' meskipun keduanya random, tapi entah mengapa keduanya saling tertawa karena kebodohan mereka sendiri.
Mereka sampai di Bandung sekitar jam tujuh malam, Rania membersihkan diri begitupun dengan Dehan. Karena sangat capek jadinya mereka langsung terlelap tidur.
Rania bangun dari tidur langsung melaksanakan solat subuh, setelah itu bersantai sebentar kemudian membuat sarapan pagi. Dehan hanya solat subuh lalu lanjut tidur lagi karena dia masih capek, jam sudah menunjukkan pukul setengah enam Rania membangunkan Dehan untuk segera siap-siap.
"Maaassss bangun.... Kamu gak kerja?"
Mata Dehan terbuka sedikit dan ia disuguhkan oleh pemandangan yang indah yaitu baju tipis Rania tanpa bra, membuatnya bergairah lalu menarik tubuh Rania untuk menindihnya. Tapi Rania menolak permintaan suaminya
"Jangan mas! Kita harus bekerja dulu, nanti malam saja mas" cegah Rania sambil kedua tangannya untuk menutupi bagian dada
__ADS_1
"Baju mu tembus pandang membuatku ingin sayang, apalagi hormon pria di pagi hari ini"
Dehan mencoba memaksa Rania untuk bercinta, dia menolaknya dengan keras. Untung saja ini sudah pagi jadi Rania bisa membuat alasan yang masuk akal
"Mas, aku kan sudah cuti jadi harus datang ke sekolah pagi-pagi sekali. MINGGIR!!"
Rania bangkit dari kasur lalu mengganti pakaian untuk bekerja kembali, sudah sebulan tidak bertemu Sara dan Rania sudah menyiapkan oleh-oleh untuknya juga Shelly. Di sisi lain Dehan menyelesaikan urusan yang tadi di tolak Rania di kamar mandi sendirian.
"Mas sudah selesai belum? Kok mandi nya lama amat sih?!"
..."*Sial! Rania sangat tidak peka*!" batin Dehan...
"TUNGGU SEBENTAR SAYANG!!"
Rania sudah menunggu Dehan dari tadi, Dehan muncul dengan dasi yang belum di sulam. Rania dengan sigap langsung mendekati Dehan
Wanita itu membenarkan dasi Dehan, kemudian Dehan menatap pakaian Rania syukurlah dia tidak memakai baju ketat lagi.
"Rania sayang... Kau boleh pakai baju ketat dan terbuka jika ada aku saja ya?"
Ia mengangguk mengerti
"Mas, aku boleh bertanya sesuatu?"
Dehan mengangguk
"Baby sinner itu siapa?"
__ADS_1
Dehan menarik nafasnya lalu menghembuskan nya
"Kau tahu Gladys yang waktu itu menabrak mu dan kau membuka tangan kemejanya?"
Rania mengingat-ingat lalu setelah itu mengangguk mengerti
"Dia baby sinner.. Tapi itu dulu, sekarang aku sudah menggantikan posisi Gladys menjadi bawahan ku bukan manajer lagi"
Mau tidak mau Rania mengerti perkataan Dehan, dia juga tidak memikirkan urusan hal itu lagi.
"Percayalah padaku Raniaaa..." ujar Dehan sambil menggenggam tangan Rania
"Aku bolehkan mas ke kantormu ? Dan mencampuri urusan mu?"
Dehan mengangguk
"Tentu saja! Kau istriku"
Rania senang mendengar penuturan dari Dehan, ia langsung memeluk tubuh suaminya itu sambil berbisik
"Tunggu siang nanti ya mas"
Rania langsung mencium bibir, kedua pipi, jidat, dan terakhir punggung tangan Dehan untuk berpamitan duluan.
"Aku pergi dulu!! Hati-hati di jalan, aku mencintaimu mas Dehan"
Dehan masih mematung di tempat, tidak tahu apa maksud dari perkataan Rania tentang siang yang tadi.
"Mungkin dia akan membawakan bekal makanan kesukaanku.. Dasar Rania, kau sudah membuatku semakin lama semakin mencintaimu"
__ADS_1
Dehan tersenyum lalu ia mengunci rumahnya dan bergegas pergi ke kantor.