TAKDIR CINTA DERAN (Dehan Rania)

TAKDIR CINTA DERAN (Dehan Rania)
8. Dimana Rania ?


__ADS_3

Siang telah berganti sore hari, Dehan membersihkan meja kerjanya yang berantakan karena pekerjaannya menumpuk karena liburan kemarin. Gladys tak henti-hentinya menggoda Dehan untuk balikan, tapi Dehan tidak tertarik karena sekarang Rania sudah memiliki obat untuk hamil jadi yang dia pikirkan hanya menghamili wanita yang ia cintai.


"Dehan sayangg.... Jangan gitu dong! Please.. Kita balikan ya? Aku udah ngasih semuanya ke kamu tau! Bahkan keperawa---"


Belum selesai berbicara Dehan mendorong tubuh Gladys hingga menyebabkan wanita itu jatuh ke lantai dan menangis.


"Ayang Dehan jahat!! Huaaaa ....."


Dehan hanya cuek saja dan berlalu meninggalkan Gladys tujuannya hanya satu yaitu rumah. Dia sangat ingin melakukan hubungan intim dengan Rania akibat saat jam istirahat tadi Dehan tak sengaja melihat film biru yang dikirim oleh karyawannya. Jadi dia menahannya dari siang, agar malam nanti bisa memuaskannya pada Rania.


Saat mobil Dehan terparkir di garasi dia merasa aneh dengan lampu-lampu rumah yang masih mati.


"Rania kemana?"


Dehan langsung masuk ke dalam dan memanggil nama Rania, bahkan setiap ruangan ia kunjungi tapi nihil. Istrinya tidak ada di rumah hingga Dehan menghubungi nomor Rania tapi tidak ada balasan, bahkan nomor Rania tidak aktif.


"AHH SIALAN!! KEMANA PERGINYA RANIA??"


Dia masih meracu sendiri sambil mengacak-acak rambutnya dan menelfon ke sana kemari berharap Rania mengangkatnya. Tapi respon masih tetap ponsel Rania tidak aktif, Satu-satunya yang bisa Dehan tuju adalah rumah ibu nya. Ya! Pasti Rania ke sana.


Dehan langsung mengambil kunci mobilnya dan bergegas menuju ke rumah Ibu dengan kecepatan tinggi. Tak pedulikan ucapan kasar pengguna jalan lain, tujuan Dehan adalah bertemu Rania dan melakukan ritual suami-istri.



Malam itu Rania pergi berpamitan kepada ibunya untuk pulang ke rumah, padahal dalam hati Rania akan pergi ke luar kota dan mencari kostan di sana. Karena ibu Rania tidak ingin membuat Dehan suaminya khawatir akan keberadaan Rania di rumah, jika bisa dibilang ibu sangat menyayangi Dehan karena di mata ibu Dehan pria yang baik-baik dan pantas bersanding dengan Rania harapan satu-satunya.



"Hufft... Aku harus apa di sana?"



Aku mengoceh sendiri di dalam bus tidak tahu tujuan akan kemana tapi hatiku berkata bahwa aku harus mencari kakak kandungku. Karena saat tadi aku membersihkan kamar bekas kakak di rumah, aku melihat buku diary kakak di dalamnya dia menuliskan kota Jogjakarta. Lantas dengan sikapku yang nekad memberanikan diri untuk pergi ke Jogjakarta malam-malam tanpa sepengetahuan siapapun, bahkan aku sengaja mematikan ponsel karena malas melihat nama Dehan.


__ADS_1


Bus yang ku naiki bukan bus antar daerah tapi bus antar kota, jadi aku harus beberapa kali naik turun karena jika tidak aku tidak bisa ke Jogjakarta. Apalagi jika ingin naik transportasi antar daerah harus pesan tiket jauh-jauh hari, tapi ini menandakan jadi aku melakukan seperti ini. Tak terasa selama seharian penuh tiba juga di Jogjakarta, aku menghirup udara segar dan membuangnya sesaat. Rencananya aku ingin pergi ke sanggar tari seketika pikiranku mengingat saat bersama Dehan.



"Eh mbak Rania??" ucap seorang pelatih tari Bu Dwi



"Ibuu..."



Aku memang sudan dekat dengannya saat berkunjung ke Jogja yang lalu, memang aku sangat menyukai seni tari dan selama di Jogja mungkin kali ini akan berlatih dengan keras untuk menjadi guru tari.



"Bu Dwi, saya boleh gak jadi murid Ibu? Karna saya ingin menjadi guru tari di sini"



Tanyaku membuat Bu Dwi memandangi tubuh dari atas hingga bawah. Tubuhku bisa terbilang proposional dengan payudara indah dan bokong yang lumayan besar, apalagi wajahku yang kebanyakan orang bilang cantik dengan kulitku yang putih mulus. Hal ini yang selalu membuat Dehan tertarik denganku bahkan dia pernah bilang bahwa tubuhku adalah candu nya, bodo ah! Aku tidak ingin memikirkan dia




"Jadi aku diterima untuk menjadi murid ibu?"



Bu Dwi mengangguk dengan senyuman ramahnya dan aku juga sangat senang bisa menjadi guru tari, setelah kami mengobrol dengan kontrak kerja. Aku memutuskan pulang guna mencari kostan khusus wanita di sekitaran sanggar tari, ada banyak sekali yang menawarkan harga murah tapi aku lebih memilih untuk mencari kost dengan keamanan yang tinggi. Hingga bertemulah dengan kost yang cocok denganku meskipun lumayan jauh dari sanggar tapi setidaknya kostan ini dekat dengan industri dan restoran.



Setelah bersih-bersih dan mengganti baju, aku mengelilingi restoran untuk melamar pekerjaan atau kegiatan yang menghasilkan uang. Aku tidak ingin menghubungi Dehan meskipun saat ini sedang melihat ponsel penuh dengan nama Dehan, dia bilang mencintai Rania sehingga berkali-kali mengirimkan pesan dan panggilan.

__ADS_1



"*Rania sayang kau dimana*?"


"*Sayang tolong jangan seperti ini, apa salahku*?"


"*RANIA GANDHITA* *WARDHANA, ISTRIKU YANG PALING CANTIK. KAPAN KAU ANGGAP AKU SUAMIMU*?"



Aku tidak memperdulikan pesan Dehan aku sangat benci dengannya. Bahkan aku tidak ingin pulang atau berbicara dengan suamiku sendiri.



Dehan setiap selesai sholat Subuh dia bergegas untuk bersiap-siap berangkat kerja, ralat. Dia selalu menunggu di depan gerbang sekolah TK yang menjadi tempat istrinya kerja, sebenarnya Dehan tidak ingin Rania bekerja cukup di rumah saja mengurusnya. Tapi karna ini cita-cita Rania sedari kecil maka Dehan harus mengalah.


Setengah 6 mobil Dehan sudah terparkir di sebelah gerbang sekolah, pak satpam berkali-kali mengingatkan Dehan untuk pergi tapi ia tak peduli. Yang ada di otak Dehan sekarang adalah melihat sosok Rania, wanita yang sangat ia cintai atau istrinya. Hingga kedua mata Dehan menangkap Shelly, Dehan masih ingat betul perawakannya karena kemarin Rania menunjukkan foto mereka tengah menghabiskan waktu bersama.


"Shelly!!"


Orang yang dipanggil namanya langsung melihat ke arah Dehan, lali ia pun berlari ke arahnya.


"Dehan? Kemana Rania?? Ku dengar dia cuti selama sebulan"


Ucapan Shelly membuat Dehan bertanya-tanya


"Cuti? Bahkan dia tidak ada di rumah sudah dua hari. Justru aku ingin bertanya dimana Rania? Jangan bilang kau menyembunyikannya??"


Shelly terkejut dengan pernyataan Dehan, memang kemana sahabatnya itu? Perasaan saat pergi ke tabib kemarin dia senang-senang saja bahkan bilang ingin segera memiliki anak dengan Dehan.


"Aku mana mungkin menyembunyikan sahabatku sendiri dari suaminya! Tunggu.. Apa kalian sering bertengkar?"


Dehan sedikit berpikir dan mengangguk, memang benar akhir-akhir ini Rania sering curiga terhadap suaminya sendiri. Begitupun Dehan yang tidak mau semua kebohongannya terbongkar.


Shelly tidak habis pikir dengan suami sahabatnya itu, dia juga memukul lengan Dehan kencang.

__ADS_1


"BODOH SEKALI DIRIMU!!"


Shelly mengabaikan Dehan yang kesakitan sambil mengejarnya untuk mengetahui keberadaan Rania, beberapa kali juga Shelly menolaknya karna dia juga tidak tahu dimana Rania berada.


__ADS_2