TAKDIR CINTA DERAN (Dehan Rania)

TAKDIR CINTA DERAN (Dehan Rania)
74. Penculikan


__ADS_3

Dehan pergi ke rumah Ibu di Jakarta, berharap istrinya ada di sana. Menempuh jarak sekitar 2 jam lebih di malam hari tidak membuat nya takut, meskipun tangan kanannya sedang cidera rasa sakitnya tidak seberapa dibandingkan khawatir terhadap wanita yang ia cintai.


"Aaarrggghh... Sshhhh"


Sesekali Dehan meringis kesakitan karena menyetir mobil, tapi ia tepiskan sekuat tenaga untuk segera sampai di Jakarta. Setelah sampai di rumah Ibu, Dehan segera memutari seluruh ruangan di rumah itu.


"RANIAA?? INI AKU DEHAN... KALIAN DI MANA? DERANA PAPA PULANG!!"


Dehan memanggil nama anak dan istrinya secara lantang, Rangga baru pulang dari kantor langsung pergi ke rumahnya.


"HEY DEHAN! BERISIK!"


Rangga menyuruh Dehan untuk diam, Dehan menurut kemudian turun ke lantai bawah untuk berdiskusi dengan Ibu serta Lisa.


"Kau kemana saat Rania masih di rumah?"


Tanya kak Rangga


"Aku kerja di kantor, oh ya. Pagi itu kantorku di bobol maling"


"APA??!"


Rangga kaget, dia baru mendengar kabar bahwa kantor Dehan kemalingan


"Lalu, apa saja yang hilang?"


Dehan menceritakan kejadian-kejadian yang baru ia alami. Mulai dari saat ia kena teror, kantor kemalingan dan Rania serta Derana yang hilang tiba-tiba.


BRAAKKK!!


Rangga menggebrak meja, ia sangat marah pada orang yang meneror adik iparnya.


"Tidak bisa dibiarkan!! Harus aku yang turun tangan!"


Rangga pergi ke balkon atas, Dehan hanya melihat dari kejauhan ia tidak ingin menyusul kakak iparnya. Ibu dan Lisa berusaha menenangkan Dehan, sudah dia kali Dehan kehilangan Rania.


Dulu saat itu, Rania kabur dari rumah karena Dehan yang berselingkuh. Kemudian sekarang Rania diculik beserta anak-anaknya, tentu hal itu selalu membekas di ingatan Dehan ia berharap istri serta anak-anaknya selamat.


...****************...


Rania bangun dari tidurnya, ia melihat sekeliling ruangan kamar yang tidak begitu luas dan ia tidak kenal dengan tempatnya. Derana masih terlelap di sebelahnya

__ADS_1


"Sayangnya mama"


Rania memeluk tubuh Derana serta menciumnya, ia berjalan ke arah jendela tapi kaca nya sudah di block menjadi hitam jadi ia tidak bisa melihat apa-apa serta dikunci tanam. Tak lama kemudian Derana bangun dari tidurnya, lantas memeluk Rania


"Mamaaa, ini kita dimana?"


"Mama gak tau sayang, tapi selagi kamu ada di samping mama semuanya akan baik-baik saja"


Jawab Rania meskipun ia sama ketakutan nya, sebisa mungkin Rania bersikap tenang agar tak menimbulkan masalah. Rania mengelus lembut Derana juga melihat perutnya yang sudah memasuki usia kehamilan tujuh bulan.


KREEEKKKK


KREEEEKKKK


KREEEKKKKK


Ada suara dari luar pintu, Rania lantas menuju ke bagian pintu kamar untuk membalas suara tersebut. Ia mengetuk nya kencang


"HEY!!! SIAPAPUN YANG DI SANA! ADA SEORANG IBU HAMIL DAN ANAK BALITA TERJEBAK DI SINI!!!! TOLONG KAMI"


Suara kunci terdengar, orang itu membuka pintunya dengan membawa nampan makanan serta susu.


Setelah berucap demikian, pria berbadan besar dengan begitu mengunci pintu kembali. Rania masih diam membeku, setelah itu ia kembali mengomel.


"HEEYY!!! AKU TIDAK MAU DI SINI!! KAMI INGIN PULANG"


Tak ada jawaban lagi setelahnya. Rania memandang nampan berisi makanan berat, satu botol besar air mineral, satu gelas susu dan dot yang berisi susu juga. Berhubung Rania lapar, ia memakan makanan tersebut begitu juga Derana yang ia suapi.


Ketika sudah selesai makan, ia melihat ada kertas kecil di belakang nampan


'Susu di gelas khusus ibu hamil dan yang di dot untuk anak balitanya'


Rania nampak heran bagaimana ada orang yang tahu tentang dirinya serta Derana, ia kemudian mencium bau air susu di kedua gelas tersebut apakah merek nya sama atau tidak. Ternyata sama seperti yang ada di rumahnya.


"Aneh... Bagaimana orang ini tau dengan merek susu formula untuk ku dan Derana?"


Meskipun berpikir Rania tetap meminumnya karena ia sedang hamil jadi harus ada nutrisi baik yang masuk ke dalam janinnya. Derana juga melakukan hal yang sama, anak itu dengan iseng menyalakan tv karena bosan.


TV itu menyala bahkan ada saluran YouTube serta Netflix.


"Mama.. tv nya sama kaya di rumah kita" ucap Derana kegirangan

__ADS_1


Dengan begini Derana tidak bosan lagi, ia bisa menonton acara kartun kesukaannya. Tapi Rania masih bingung tentang kamar ini, ia melihat ke pojokan dinding terdapat cctv di sana. Rania mulai mencari kertas dan pulpen untuk menulis sesuatu, ia membongkar isi buffet dan meja siapa tau ada.


Benar saja, terdapat buku kecil yang masih kosong serta pulpen warna hitam. Rania itu wanita yang cerdas kemudian ia mulai menuliskan


'Besok jadwal ku untuk check kandungan di Dokter ****Hasbi, jika tidak aku bisa malnutrisi di sini****!'


Setelah menulis itu di kertas, Rania menunjukkan tulisannya ke arah cctv. Terlihat cctv itu sedang merekam kertas Rania, tentu saja ia merasa senang tidak diabaikan.


...****************...


Dehan masih mencari-cari keberadaan istri dan anaknya, bahkan sampai mengumumkan di berbagai platform media serta baliho.


"Hallo pak??!! Bagaimana apakah ada tanda-tanda istri dan anak saya?"


Dehan menjawab telepon dari polisi


"Maaf pak, kami masih berusaha melakukan penyelidikan terkait nyonya Rania dan Derana"


Dehan menghembuskan nafas, ia hanya bisa berdoa dan pasrah saat ini. Tentu Dehan sangat frustasi bahkan ada pikiran untuk bunuh diri karena galau, semoga saja cepat bertemu dengan Rania dan Derana.


...****************...


Keesokan harinya, Rania terbangun dari tidur ia pergi ke kamar mandi untuk bersih-bersih.


"Biasanya setelah bersih-bersih badan, aku membuatkan sarapan buat mas Dehan. Terus juga buat bekel di kantornya"


Rania rindu akan kehadiran suaminya


"Udah gitu aku siapin baju kerja mas Dehan, mandiin Derana buat sekolah, sarapan bareng, ciuman... Iiihhh mas Dehan, kamu kenapa ga selamatkan akuu hiksss"


Mood swing hamil Rania mulai muncul lagi, yang tadinya dia biasa saja sekarang menangis terisak-isak karena Dehan yang tega tidak mencarinya. Padahal baru semalam, tapi Rania ingin Dehan ada sekarang juga untuk memeluknya.


"Mas Dehan.... Jemput akuuu... Hiksss.. Jemput Derana juga, kamu kemana sih?"


Pagi ini Rania terus menangis setelah merasa capek ia melihat cermin.


"Jelek banget sih Rania masa gitu aja nangis! Dedek bayi di perut Mama... Sabar ya sayang, papa nanti dateng kok buat kita sama kakak Derana ya"


Ketika Rania tengah mengusap-usap perutnya, tiba-tiba ia mendengar suara ketukan pintu. Dengan semangat Rania menuju ke asal suara kemudian seorang laki-laki berbadan besar muncul seperti kemarin.


"Cepat bersiap-siap. Kami akan mengantarmu ke dokter Hasbi"

__ADS_1


__ADS_2