
Malam ini Rania mengajarkan pada Dehan tentang perusahaan saat ia koma kemarin, karena Rania yang mengurusinya jadi Dehan tertinggal jauh untung saja Rania istri yang cerdas jadi Rania langsung mengerti cara menjaga saham perusahaan dan mengelolanya.
"Jadi ini sudah pindah ke tempat C?"
Tanya Dehan
"Iya mas, aku kemarin pindahin. Soalnya kalo kita ga pindah nanti saham perusahaan mas Dehan bisa turun 25% kan rugi"
Dehan mengerti dan terus mendengarkan ucapan Rania dengan serius. Hatinya merasa kagum dengan Rania, selain cantik ia juga pintar tapi ia juga masih belum percaya seratus persen bahwa Rania itu istrinya.
"Mas... Kamu bisa sendiri kan? Aku ngantuk banget"
"Iya aku bisa sendiri. Makasih ya cantik"
Rania yang tadinya ingin pergi langsung melihat ke arah Dehan
"Mas tadi bilang apa??"
"Makasih ya CANTIKKKK"
Rania langsung tersenyum memandang Dehan yang sedang melihat ke arahnya juga ikut tersenyum. Dengan sigap Rania mencium Dehan sekilas, karena senang dipanggil cantik oleh Dehan
"Good night sayangku mas Dehan! Jangan tidur terlalu malem ya ntar kamu sakit, I love you!"
Dehan terus memperhatikan Rania, ia ingin sekali membalas ucapan selamat malam dari Rania tapi ia malu dan tidak percaya diri. Lantas Dehan hanya tersenyum memandang Rania hingga Rania rebahan pun Dehan masih menatap Rania
"Mungkin aku mulai tertarik dengan mu Rania" batin Dehan
Hingga akhirnya ia kembali ke laptopnya dan melanjutkan pekerjaan yang telah Dehan lewatkan selama sebulan lebih itu akibat koma, alhasil mungkin Dehan akan bergadang malam ini untuk mengerjakannya. Ia sangat berterimakasih kepada Rania karena telah meringankan pekerjaannya dan membantunya setulus hati tanpa balasan, Dehan sangat tersentuh malam ini.
Seperti biasa Rania bangun untuk solat subuh, ia melihat Dehan tengah tertidur di meja kerjanya dengan laptop yang sudah mati. Rania yang tidak tega berusaha membangunkan suaminya dengan lembut untuk pindah ke kasur
"Mas... Pindah ke kasur yuk, ntar kamu sakit badan kalo tidur di sini" ucapnya sambil mengelus bahu Dehan
Dehan sedikit tersadar dari tidurnya kemudian menuruti perintah Rania
"Sekarang jam berapa?"
"Jam 5 mas, Kamu mau solat subuh?"
Dehan mengangguk sambil mengusap wajahnya agar segera tersadar, kemudian ia berjalan ke kamar mandi dan melaksanakan solat subuh bersama Rania.
"Mas aku mau kita terus kaya gini"
Dehan melihat ke arah Rania
"Kenapa?"
"Iya, dulu mas susah diajak solat subuh. Tapi sekarang kamu mau solat"
__ADS_1
"Kan kamu yang ngajak Rania, sebagai ucapan terimakasih atas semalam bantu kerjaan ku"
Rania yang tadinya sumringah berubah menjadi datar
"Oh"
Rania langsung beranjak dari tempat solat, lalu menyiapkan pakaian Dehan untuk kerja dan sarapannya. Kurang baik apa Rania, di tengah hamil muda ia masih melayani Dehan meski Dehan tak pernah tersentuh ingatan tentang mereka dulu setidaknya mereka masih status suami istri.
"Mas, mau aku bawain bekel ga buat makan siang?"
"Gak usah.. Di kantor banyak kantin, aku berangkat dulu ya Rania"
Rania mencium punggung tangan Dehan dan melihat kepergian suaminya ke kantor.
'*Biasanya sebelum berangkat kantor mas Dehan suka cium aku dulu, tapi sekarang... Ya sudahlah*' batin Rania kecewa
Jujur saja Rania rindu Dehan yang dulu selalu hangat, perhatian, memanjakan Rania seorang. Meskipun demikian Gladys pelakor sering menggoda Dehan tapi semenjak Rania kabur dari ke Jogja justru Dehan menjadi suami idamannya. Hal itu membuat Rania tak bisa jauh dari Dehan, namun saat hamil muda Rania bisa melihat jelas Dehan sudah berubah.
Setelah beres dengan pekerjaan rumah, Rania bosan dulu ia masih bisa kerja menjadi guru di TK tapi semenjak Dehan koma ia memutuskan untuk berhenti apalagi untuk menjaga tubuhnya agar tidak terlalu capek. Maka Rania pergi ke rumah mertuanya untuk menemani kekosongan jiwa ketika Dehan pergi bekerja
Panggil Rania sambil membawa kue yang tadi ia buat sebelumnya
"Eh Rania sayang... Ya ampun, tau kamu mau ke sini bunda panggil supir buat jemput kamu. Bunda takut kamu kenapa-kenapa apalagi lagi hamil cucu bunda"
Beruntungnya Rania dikelilingi orang-orang baik bahkan mertua yang sangat sayang dengan Rania.
"Tidak usah bun... Selagi masih sehat Rania bisa sendirian kok"
Bunda memeluk tubuh Rania tanda sayang kemudian mereka berdua berbincang tentang perkembangan Dehan dan kandungan Rania yang sudah memasuki usia tiga bulan kehamilan. Dehan anak tunggal jadi kehadiran cucu sangat dinantikan oleh bunda dan ayahnya, apalagi rumah mereka megah jadi sangat sepi jika hanya berdua.
Di sisi lain Dehan tengah mengerjakan pekerjaannya di ruangan, Gladys selalu mendekati Dehan tentu saja Dehan melayaninya. Saat makan siang tiba Dehan selalu mengajak Gladys ke restoran favoritnya
"By, aku mau kamu cepet gugat cerai Rania! Aku pengen jadi istrimu"
Dehan sedikit berpikir untuk keinginan Gladys yang satu itu, ia tidak ingin kehilangan Rania meski Dehan belum yakin bahwa Rania istrinya tapi Dehan menyadari Rania sedang hamil dan anaknya yang akan ia nafkahi.
__ADS_1
"Sebentar ya baby, untuk yang itu aku belum pasti"
"Kau itu laki-laki by! Harusnya punya keputusan yang kuat!"
Rengek Gladys, Dehan bingung dengan keinginan pacarnya.
"AKU TIDAK INGIN MEMISAHKAN RANIA DENGAN BUNDA!"
Suara Dehan mulai meninggi dan meninggalkan Gladys keluar dari restoran. Shelly sedang mengendarai mobilnya sekilas melihat Dehan dengan wanita lain
"Itu Dehan kan? Kok sama cewek lain bukan Rania?"
Shelly mengambil foto kedua orang di depannya, tapi Shelly berpikir untuk menunjukkannya suatu saat karena Rania sedang hamil ia tidak ingin sahabatnya itu kenapa-napa.
Dehan pulang ke rumah seperti biasa, Rania juga masih sama seperti kemarin tanpa ekspresi menyambut Dehan. Dia masih kesal selama ini perjuangannya tak dianggap, lantas Rania hanya bisa melayani Dehan sebagai istri tanpa perasaan.
"Rania, kau masak apa?" tanya Dehan sambil duduk di meja makan
"Ayam Kecap"
Rania tahu betul Dehan sangat suka dengan ayam kecap buatannya, hingga membuat Dehan mendekat untuk mencium aroma masakan Rania.
"Hmmm... Wangi, pasti ini enak"
Masih dengan raut wajah datar Rania samar-samar mencium minyak wangi wanita dari baju Dehan dan membuatnya mual.
"Uweekkk"
Rania muntah di wastafel sebelah kompor, Dehan khawatir segera mengelus bahu Rania.
"Kamu kenapa? Sakit? Atau ngidam?"
"Mas Dehan sana mandi! Baju kamu bau orang lain!"
Dehan menurut kemudian ia langsung pergi ke kamar mandi, sedangkan Rania masih berkecamuk dalam pikirannya.
'*Wangi siapa itu? Pasti Gladys sih. Secara hanya dia yang Dehan cintai... Awas saja kau Dehan! Jika kau lebih memilihnya aku tidak segan untuk pergi jauh*!' batin Rania
__ADS_1