
Setelah selesai dengan bu Dwi, keluarga kecil Dehan kembali ke hotel untuk istirahat. Mereka berencana untuk pergi ke candi Borobudur esok hari, malamnya Dehan menceritakan tentang sejarah Candi Borobudur ke anaknya.
"Papa, emang candi buat apa?"
"Buat sembahyang agama Hindu-Buddha"
Jawab Dehan lembut sambil mengelus rambut Derana
"Agama kita apa? Kenapa kita ga ibadah di candi?"
"Gama kita Islam sayang, setiap agama beribadah di tempatnya masing-masing. Nanti dede kalau sudah besar akan ketemu orang-orang yang berbeda keyakinan, tapi kamu harus toleransi ya"
"Toleransi itu apa?"
"Menghargai kepercayaan agama orang lain, jangan olok-olok Tuhan dan agama temen dede yang beda"
Derana nampak berpikir keras
"Oke Papa! Dede ga sabar loh, mau ke Candi Borobudur besok"
"Sekarang tidur dulu ya... Besok kita semua ke candi oke?!"
Derana mengangguk mengerti, kemudian Dehan menepuk-nepuk punggung anaknya. Rania sudah terlelap tidur duluan, Ibu hamil itu kecapean karena menari di sanggar tari tadi. Dehan mengecup kening Rania sekilas lalu mengecup kepala Derana juga.
"Papa sayang kalian berdua"
Saat hendak pergi tidur, tiba-tiba saja ponsel Dehan berdering menandakan ada pesan masuk ke ponselnya. Lantas ia melihatnya
Dehan tersentak kaget, langsung membuang ponselnya.
"Siapa orang itu? Kenapa ia mengirim pesan menyeramkan seperti itu malam-malam?"
Dehan menarik nafas lalu membuangnya, ia takut tapi ia juga ingin tahu. Kemudian ia mengambil ponselnya lagi dan melacak nomor pengirim di aplikasi, namun nihil nomor itu tak terdeteksi.
"Aaarrggghh sialan!!"
Ia meletakkan ponselnya di meja sebelah kasur, sembari menunggu waktu mengantuk Dehan mengacak-acak rambutnya karena stress dengan pesan barusan. Sampai ia tertidur di jam 1 malam.
...****************...
Rania bangun untuk menunaikan shalat subuh, melihat suami serta anaknya sedang lelap dalam mimpi jadi ia diam-diam pergi ke toilet untuk wudhu. Seperti biasanya Rania yang bangun terlebih dahulu bermain ponsel dan menghirup udara segar di balkon kamar, ia juga meminum susu Ibu hamil serta sarapan sepotong roti sambil melakukan stretching dikit.
Tak lama kemudian Dehan berteriak dalam mimpi
"TIDAAK!! JANGAN GANGGU AKU!! KAU BUKAN ANAKKU!!! PERGI SANAAA"
__ADS_1
Seketika itu pula Dehan terbangun dari tidurnya, Rania khawatir langsung melihat suaminya
"Mas kenapa? Mimpi apa sampe teriak gitu?"
Rania terduduk di samping Dehan, tak ayal Dehan memeluknya erat sambil menangis karena ketakutan.
"Aku mimpi dikejar-kejar bayi setan"
"Kenapa bisa? Mas lupa baca doa kali pas mau tidurnya"
"Enggak sayang, aku serius baca doa-doa sebelum tidur. Tapi ada pesan aneh di ponsel ku semalam"
Rania meraih ponsel Dehan, kemudian membaca pesan masuk yang semalam meneror suaminya.
"Ini nomer siapa mas? Salah kirim kali"
Rania masih positif thinking, mungkin saja ini hanya nomer salah kirim seperti orang jahil yang ingin mengerjai suaminya.
"T--api.. Dia tau nama aku"
Ucap Dehan terbata-bata
"Mungkin karyawan kamu sebarin nomer mas, atau bisa jadi ada karyawan yang minta naik gaji dengan cara teror-teror begini kan bisa aja"
Dehan nampak terdiam sejenak, jujur saja ia masih shock dengan pesan semalam.
Dehan menarik tubuh Rania untuk dipeluknya
"Karena kamu, aku udah gak terlalu takut lagi. I love you Rania istriku tersayang"
Ucapnya dengan suara berat khas laki-laki bangun tidur, Dehan menatap wajah Rania kemudian menciumi seluruh wajah istrinya.
"Mas kamu lupa ga cium yang di sini"
Rania menunjukkan perut hamilnya, Dehan lantas beralih menciumi perut Rania
"Papa juga sayang adek bayi di sini, sehat-sehat di dalam sana sayang"
Dehan melihat Rania
"Udah apalagi?"
"Derana ga dicium juga? Pasti anak kita sedih Papa nya cuma sayang sama adik+Mama nya doang"
Ucap Rania dengan raut wajah sedih, Dehan menghela nafas sesaat lalu mencium Derana.
"Papa sayang kalian semuanya"
__ADS_1
Setelah selesai menuruti perintah Rania, Dehan bergegas ke kamar mandi. Sembari mandi di bawah shower, ia menutup mata mimpi yang semalam masih terbayang-bayang di benaknya.
"SIALAN!"
Dehan mematikan air keran, bergegas untuk bersiap-siap untuk pergi ke Candi Borobudur. Derana dan Rania sudah siap, Derana memakai baju seperti bolang (bocah petualang).
"Dedeee... lucu banget"
Dehan memeluk anaknya lantas menciumnya dengan gemas
"Dede kan mau ke candi, kata Papa candi itu tempat sejarah. Jadi aku disuruh Mama buat petualang di sana sama Papa"
Dehan hanya tersenyum manis pada Derana, Rania sudah siap untuk ke Candi. Ia memakai dress motif bunga matahari dengan sepatu kets nya tentu saja Dehan terpukau melihat kecantikan Rania.
"Aku tau aku cantik"
Rania dengan pedenya berbicara seperti itu di depan Dehan, sang suami hanya bisa tersenyum lalu merangkul pundak Rania sambil berbisik
"Ya, istriku memang cantik. Itu sebabnya aku ingin memiliki banyak anak denganmu agar keturunan ku good looking"
Rania menginjak kaki Dehan
"AAAAHH SAKIT" rintihannya
"Jangan lupa mas, aku juga wanita galak huh"
Rania jalan mendahului Dehan untuk turun ke lobby hotel, Dehan menyusul anak serta istrinya. Tapi ia pergi ke parkiran untuk mengambil mobil, saat sudah masuk ke dalam mobil di kaca mobilnya ada tulisan
'Kau seorang pengecut yang tak tahu malu'
Dengan tulisan berwarna merah, kalian tahu bukan bahwa Dehan tidak suka disebut pengecut/kekalahan. Baginya kekalahan sama saja menginjak-injak harga diri, setiap kegagalan Dehan akan membuktikan dia bisa di level teratas. Ia mengambil kertas itu lalu membuangnya ke tempat sampah
"Siapapun yang mengirim ini aku akan mencarinya. Mereka tidak tahu apa bahwa aku tidak suka diremehkan, pengecut? Aku akan membunuhmu!"
Dehan menyalakan mesin mobilnya, kemudian menjemput Rania dan Derana di lobby. Rania peka melihat wajah Dehan yang berubah
"Kamu kenapa mas?"
Tanya Rania
"Enggak, aku cuma sedikit capek aja gara-gara semalam gak bisa tidur"
Kata Dehan sambil fokus menyetir, Rania tidak menjawabnya lagi. Tapi ia yakin suaminya sedang kesal karena sesuatu, mungkin soal pekerjaan pikir Rania. Selama perjalanan Derana bernyanyi, bercerita, dan tertidur pulas.
Namanya juga anak-anak berusia empat tahun, usia dimana mereka mulai banyak ingin tahu tentang dunia begitupun Derana. Untung saja Rania adalah Ibu yang sabar menghadapi anak kecil, berhubung ia juga dulu pernah menjadi guru TK dan senang dengan anak-anak kecil.
Itulah alasan mengapa Dehan menikahi Rania disamping dari perjodohan ternyata wanita yang dijodohkan oleh orangtuanya memiliki sifat dan sikap yang menurut Dehan idaman setiap pria. Terkadang pilihan orangtua memang benar yang terbaik untuk anak-anaknya.
__ADS_1