
Semenjak pulang dari Jogja tiga hari yang lalu, mereka baru ada waktu untuk menjenguk orangtuanya masing-masing. Rania sangat beruntung bisa memiliki mertua sebaik bunda dan ayah Dehan yang menganggapnya anak bukan sekedar menantu.
"Rania... Kamu kenapa pergi ke Jogja tanpa mempedulikan Dehan? Kalo kalian lagi ada masalah cerita dong ke bunda" ucap bunda
"Aku gak apa-apa kok bun, aku cuma kesel aja waktu itu sama mas Dehan"
Acara makan bersama seakan tegang sekarang karena membahas kepergian Rania kemarin.
"Kasihan anak bunda satu-satunya. Gak pernah mau makan, tiap hari mondar-mandir cariin kamu, terus setiap bunda tanya Dehan selalu telfon polisi buat cari tahu kabar kamu setiap menit"
Rania memandang Dehan yang sedang menonton televisi di sana, Dehan sudah beres makan duluan jadi dia memilih bersantai sebentar ia merasa menyesal karena perbuatannya.
"Maafkan Rania bund... Rania emang istri yang gak baik buat mas Dehan, Rania---"
"Udah gak apa-apa, yang penting sekarang kalian udah rujuk lagi kan. Bunda seneng deh akhir-akhir ini bunda melihat sepertinya ada benih-benih cinta diantara kalian, bahkan Dehan juga yang awalnya bunda perhatikan cuek sekarang lebih perhatian sama kamu"
Rania tersenyum bahagia mendengar penuturan bunda, dia juga berterimakasih kepada keluarga suaminya yang sudah menerima Rania apa adanya.
"Bunda.. Bunda masih inget kan kalo aku punya kakak?" tanya Rania
Bunda mengangguk
"Aku sudah bertemu dengannya saat di Jogja kemarin"
Ayah yang tadinya hanya mendengar obrolan dari kedua wanita ini, langsung menoleh kearah Rania
"Kakak Rangga, nanti dia mau ke sini bersama pacarnya buat tunangan di depan keluarga kita. Bunda tahu gak? Ternyata tunangannya itu mantan mas Dehan, si Lisa!"
UHUK UHUK UHUK
Ayah batuk mendengar penuturan dari Rania, Dehan yang tadinya menonton televisi langsung menghampiri mereka. Rania tidak tahu apa yang terjadi antara mertuanya dengan Lisa, kemudian Dehan menarik tangan Rania dan membawanya ke kamar di lantai atas.
"Maaassss lepasin... Iiihh ada apa sih??" kata Rania sambil meronta-ronta
Dehan melepaskan tangannya dari pergelangan Rania, dia menatap wajah cantik Rania lembut
"Sayang... Jangan membicarakan Lisa di depan bunda dan ayah ya? Kalau kamu mau cerita kak Rangga gak apa-apa, tapi jangan bawa-bawa Lisa"
Jawaban Dehan membuat Rania heran dan penasaran
"Memangnya kenapa mas? Ada masalah apa bunda ayah ke Lisa? Mas Dehaaannn jawab aku dong"
Dehan menenangkan dirinya untuk menjawab pertanyaan Rania
"Rania sayang... Dulu mas di suruh untuk menikahi Lisa bahkan keluarga kita sudah sepakat, kami sudah sangat bahagia karena waktu itu mas juga mencintai Lisa. Tapi ada satu kejadian dimana keluarga Lisa tiba-tiba saja menolak pernikahan dari keluarga ku"
"Kenapa?"
"Keluarga mas dituduh sebagai tukang penguras harta orang-orang miskin, korupsi di bank-bank besar dunia, dan aku sering di bilang laki-laki bajingan. Padahal itu kejadian masa lampau saat kakek masih ada memang keluarga ku sempat terjerat kasus mafia dengan bank-bank besar dunia, bahkan kakek pernah ikut Yakuza" jawab Dehan
Rania sangat tersentuh oleh ucapan Dehan, dia bisa merasakan perasaannya saat itu.
__ADS_1
"Mas Dehan, maafin aku.. Aku gak bermaksud---"
Ucapan Rania terhenti karena Dehan memeluknya
"Kamu gak salah sayang... Kamu gak salah, seharusnya aku yang cerita semuanya dari awal aku lahir di dunia ini. Aku emang suami pengecut"
Rania membalas pelukan Dehan dengan usapan lembut punggungnya
"Jangan bersedih mas, aku juga istri yang gak baik buat kamu.. Kita bisa perbaiki sifat buruh ini bareng-bareng ya?"
Masih dalam posisi berpelukan Dehan mengangguk mengerti, Rania yang nakal mencoba menghibur Dehan dengan menggodanya
"Mas mau hadiah?" bisik nya di telinga Dehan
Dehan melepas pelukannya lalu menatap wajah Rania heran sekaligus bahagia
"Mau! Apa itu sayang"
Rania mulai membuka seluruh pakaiannya tanpa ada sehelai benangpun, lalu dia menyamping di atas kasur sambil menggigit jarinya
"Mas Dehan, aku tahu kau suka hal-hal seperti ini? Sini sayang... Aku akan menghibur mu" ucap Rania sensual
Tentu saja, tidak ada laki-laki yang bisa menolak hal seperti ini apalagi jika wanita itu Rania. Dehan juga pria normal dia sangat candu dengan bentuk tubuh Rania, bahkan saat Rania memakai baju pun terkadang Dehan selalu membayangkan betapa indahnya ciptaan Tuhan terhadap istrinya ini.
Mereka bermain tidak lama hanya satu jam saja, karena setelah ini akan ada agenda untuk mengunjungi Ibu Rania. Rania dan Dehan memakai bajunya masing-masing, setelah itu turun ke bawah untuk meminta maaf karena perkataan Rania tadi yang membahas Lisa.
Untungnya saja orangtua Dehan tidak mempermasalahkan masa lalu, mereka sudah menerima kenyataan dan ikhlas dengan apapun yang terjadi. Rania ikut senang sekali bahkan orangtua Dehan mengizinkan Rangga dan Lisa menikah, bunda juga ingin segera bertemu dengan kakak kandung Rania.
"Assalamualaikum Ibu... Ini aku dan mas Dehan"
Ibu sedang di kamar memandang ke arah jendela, aku menyalami Ibu begitupun dengan Dehan.
"Menantu ibuuu... Nak Dehan!!!" jawab Ibu girang
Ia memeluk Dehan dibandingkan memeluk anaknya sendiri, aku sudah biasa jika ibu lebih sayang kepada mas Dehan ketimbang aku anaknya sendiri. Aku juga tidak marah sama sekali, malahan aku senang Ibu bisa mencintai suamiku
"Iiihh Rania... Kalian kemana saja selama ini ?"
__ADS_1
Aku ikutan dipeluk oleh ibu sama seperti yang tadi Dehan lakukan, kami bertiga bercerita sebentar. Mas Dehan dari tadi membetulkan selang oksigen Ibu, aku juga menggenggam tangan Ibu
"Ibu, Rania mau ngomong sesuatu tentang kakak"
Ibu yang tadinya tertawa dengan mas Dehan tiba-tiba terdiam dan menatapku dengan penuh harapan.
"Kak Rangga sekarang akan datang kemari menjenguk ibu"
Ibu langsung menangis kencang kemudian menatapku lalu memeluk.
"Raniaaaa.... Dimana Rangga?? Dimana kau menemukan kakakmu??" ucapnya sambil menangis sesenggukan
"Ibu jangan menangis, nanti selang oksigen ibu beruap. Aku menemukannya di Jogja bu, kemarin aku dan mas Dehan pergi ke sana"
Tanpa ada jawaban, Ibu hanya mengelus rambut ku dan mencium pipiku sekilas. Saat momen hari itu terjadi, tiba-tiba ada seseorang yang mengetuk pintu hingga masuk ke dalam. Kak Rangga, setelah berpuluh-puluh tahun baru kali ini ia melihat ibunya lantas langsung bersujud di kaki Ibu sambil meminta maaf dan menangis.
"Ibu... Ini Rangga Gandhi Wardana, maafkan aku.. Aku memang anak durhaka tidak pantas untuk hidup"
Kak Rangga terus menangis begitupun kami semua di ruangan ini, aku menegakkan tubuh kak Rangga dan Ibu sepertinya sangat rindu bertemu dengan anaknya. Ia hanya diam membisu sambil menangis, kemudian Ibu memeluk erat Rangga.
"Kau memang anak yang durhaka!" kata Ibu
"Tapi, apakah ibu tahu bahwa aku selalu mengirimkan uang setiap bulannya untuk Ibu?"
Ibu tidak menjawab, ia hanya mengelus rambut Rangga, sedangkan aku bersender di tubuh mas Dehan. Hari ini benar-benar menyedihkan, tapi aku bersyukur kami masih dipertemukan kembali.
__ADS_1