TAKDIR CINTA DERAN (Dehan Rania)

TAKDIR CINTA DERAN (Dehan Rania)
35. Cerita


__ADS_3

Derana sudah selesai makan lalu Rania membawa anak itu untuk diasuh oleh bunda dan ayah. Dehan langsung menarik tangan Rania untuk duduk di bangku taman belakang rumah bunda, guna menceritakan segalanya sejelas-jelasnya pada Rania.


"Sayang... Jadi aku baru sadar ketika Gladys mempermalukan ku di club malam"


Baru saja Dehan buka suara, Rania sudah ingin beranjak dari duduknya dengan wajah kesal tapi Dehan menariknya untuk duduk kembali


"Aku belum selesai"


"Tapi mas bilang ke club malam ngapain?? Pasti ngelakuin hal-hal gitu kan??!"


Dehan mulai menceritakan tentang Gladys bagaimana ia dijebak hingga bangkrut dan di point terkahir Dehan menceritakan bahwa rumah mereka di jual.


"Kenapa kamu tega sih jual rumah kita dulu??! Itu kan hasil kerjasama kita mas!!"


"Maaf sayang... Aku khilaf"


"DASAR BUAYA DARAT!!!"


Rania hendak meninggalkan Dehan, tapi Dehan malah menarik tangan Rania hingga wanita itu jatuh di pangkuan Dehan


"Maafkan aku sayang"


Rania malah membuang muka


"Tatap aku" ucap Dehan dengan suara beratnya


"GAK!"


"Rania Ghandita Wardhana alias istriku yang paling cantik dan seksi"


Rania masih enggan memberikan respon pada Dehan, hingga akhirnya Dehan merampas bibir ranum Rania dengan kecupan hingga Rania tersadar dan melihat ke mata Dehan.


"Laki-laki memang tempatnya salah dan khilaf, tapi jangan sepelekan niat lelaki ketika ingin berubah menjadi pria yang baik untuk wanitanya. Aku memang bukan suami yang baik untukmu tapi sekarang aku ingin berusaha bahkan saat bisnisku bangkrut, aku memulainya dari nol untuk biaya hidup kita bersama sayang"


Rania menatap mata Dehan, sudah jelas bahwa perkataan Dehan serius tapi Rania bukan wanita yang selemah dulu. Dia masih tidak mempercayai perkataan Dehan


"Oh ya? Apa ada buktinya?"


Dehan menyatukan alis tebalnya dia tidak tahu apa yang dimaksud Rania


"Mas Dehan... Aku butuh bukti bukan janji-janji manis atau gombalan buaya darat"


"Kamu mau bukti?"


Rania mengangguk lantas Dehan malah ******* bibir Rania, karena Rania tidak menikmatinya dia mendorong tubuh Dehan.


"BUKAN BUKTI SEPERTI INI!"


Ucap Rania tegas


"Tunggu saja sayang, aku akan membuktikan semua perkataan ku padamu"


Dehan membalas perkataan Rania dengan mimik wajah menantang dan suara berat, tapi Rania malah salah fokus pada kumis tipis Dehan hingga ia memainkannya


"Suruh siapa berkumis seperti ini?"


"Rania, aku tau kamu gak suka cowok berkumis tapi aku pengen punya kumis tipis biar kaya laki-laki macho lainnya. Apa aku jelek ya pake kumis atau kamu mau aku cukuran? Aku siap sayang"


"Iya, kamu jelek banget bukan di kumis tapi di kelakuannya"


Rania bangkit dari pangkuan Dehan dan pergi tapi langkah Rania diikuti oleh Dehan dari belakang. Ada rasa bahagia bisa mencium Rania serta memangku wanita yang ia rindukan, tapi sakit juga saat Rania bilang kelakuan Dehan sangat jelek. Tapi Dehan akan menjadikan ucapan pedas Rania akan acuan untuk menjadi lebih baik lagi.

__ADS_1


Karena hari sudah sore Rania bersiap-siap untuk pergi tidur dengan Derana, ia belum mau satu ranjang dengan Dehan maklum Rania masih ragu untuk menerima Dehan kembali di hatinya.


"Kamu ga tidur di kamar Dehan?" tanya ayah


"Gak yah, aku belum siap tidur bareng mas Dehan"


Ayah hanya berdehem, ia mengerti apa yang dirasakan oleh menantunya tersebut. Rania pamit untuk masuk ke kamar sambil menggendong Derana tapi saat sampai di lantai atas Dehan sudah menunggunya


"Besok ikut aku ke kedai"


Dehan memperhatikan Rania dari atas hingga bawah, masih sama. Rania masih suka memakai baju tidur yang terbuka seperti dulu hingga membuat Dehan sedikit berpikir negatif


"Awas! Aku tau aku seksi dibandingkan si ******. Tapi maaf, aku tidak ingin disentuh pria playboy seperti mu"


Rania melanjutkan langkahnya untuk masuk ke kamar tamu, tak lupa ia juga menguncinya agar Dehan tidak bisa masuk. Dehan masih menatap kepergian Rania yang sudah masuk kamar


"Rania aku akan berusaha membuatmu percaya padaku dan aku akan menjadi Papa untuk Derana"


Dehan masuk ke kamar sebelahnya untuk beristirahat, sebelum tidur nyenyak Dehan memikirkan hal macam-macam karena pakaian Rania yang tadi hingga terbawa ke mimpinya.




Pagi hari Dehan terbangun dari tidur karena suara bunda, Rania, dan Dehan tengah tertawa bersama di balkon atas. Dehan mengintip dari balik jendela betapa indahnya pemandangan pagi ini melihat Derana tengah berenang di ember kecil sambil bernyanyi bersama bunda, Rania yang memperhatikan itu juga ikut tersenyum bahkan sesekali ia menjahili Derana.



Dehan keluar untuk bergabung bersama mereka




Derana melihat ke arah Dehan sambil berteriak-teriak kegirangan, hingga akhirnya Dehan mencium Derana yang sedang mandi di baskom kecil. Bayi itu malah mengajak Dehan untuk mandi bersama sambil mencubit pipi Dehan karena gemas.



"Deran jangan dong ntar Papa nya sakit"



Ucap bunda pada Derana yang masih gemas dengan Papa nya



"Bun, Derana kok bisa deket banget ya sama mas Dehan? Padahal kan mereka baru pertamakali ketemu" heran Rania



"Insting Ayah dan anak itu kuat, apalagi pada anak laki-lakinya. Derana sudah tahu bahwa Dehan itu Papa nya, jadi biarkan mereka menghabiskan waktu bersama"



Rania mengangguk sambil tersenyum manis



"Makanya kami cepet balikan gih sama Dehan.. Bunda pengen kalian akur lagi"


__ADS_1


"Luka batin itu susah disembuhkan bun, meskipun aku masih baik sama mas Dehan tapi untuk percaya kembali rasanya aku masih susah menerimanya"



Bunda yang mengerti hanya mengelus bahu Rania



"Tidak apa-apa sayang... Bunda menunggu waktu indah itu, setelah kalian bersama kembali tolong buatkan cucu yang banyak ya?! Bunda ingin sekali rumah bunda ramai suara anak-anak kecil, kamu tau sendiri kan Dehan anak tunggal"



"Iya bunda semoga ya, doakan saja rahimku subur"



Derana sudah selesai mandi lengkap dengan baju Dehan yang juga ikut basah. Anak dan Papa itu nampak kompak membuat Rania hanya bisa menggelengkan kepalanya



"Derana, ayo pake baju kita mau ke tempat kerja Papa"



Rania merebut Derana dengan handuk yang membalut tubuh kecilnya agar tidak kedinginan. Dehan yang merasa terabaikan balik bertanya



"Aku mana sayang?"



Kata Dehan sambil memasang wajah sedihnya



"Ambil sendiri, kamu kan udah gede mas!"



"Aku cuma gede di badan doang kok sayang"



Rania malah meninggalkan Dehan yang kebasahan untung di situ masih ada bunda, lalu bunda melemparkan handuk besar pada Dehan



"Dimata Rania kau sudah menjadi ayah, tapi di mata bunda kamu masih anak-anak seusia Derana"



Perkataan bunda membuat hati Dehan terenyuh hingga akhirnya Dehan mencium pipi bunda



"I love you my bunda..."



Setelah berkata seperti itu Dehan berlari masuk ke dalam untuk melanjutkan mandi dan bersiap-siap pergi ke kedai.

__ADS_1


__ADS_2