TAKDIR CINTA DERAN (Dehan Rania)

TAKDIR CINTA DERAN (Dehan Rania)
62. Ibu sadar


__ADS_3

Setelah dua bulan lamanya Ibu koma akhirnya sudah sadar juga, meskipun Ibu masih lemas dan tidak bisa bergerak/berbicara terlalu lama. Dokter mendiagnosa Ibu mengalami penurunan ingatan dan stroke ringan, Rania hanya bisa pasrah dengan keadaan ibunya.


Sekarang Rania tengah menyuapi Ibu makan siang, ia dengan bahagia sekali sampai tersenyum getir melihat wajah nya


"Aku ndak suka wortel!" ucap Ibu


"Bu, ini enak tau" kata Rania


"TIDAK! AKU TIDAK MAU MAKAN LAGI!"


Rania berhenti menyuapi Ibu, kini ia menyingkirkan piring berisi makanan digantikan dengan gelas dan obat.


"Nah... Sekarang Ibu minum obat dulu ya?"


Ibu menurut saja, karena Ibu sedikit amnesia jadi ia tidak mengingat bahwa Rania sudah menikah. Di pikirannya Rania masih lajang seperti dulu saat merawatnya sakit Rangga, Lisa dan cucunya sendiri pun Ibu tidak ingat.


"Ibu lihat tidak kalau Rania sedang hamil?"


Ibu memperhatikan perut Rania yang sudah mulai membesar, tapi tidak terlalu besar juga karna baru 3 bulan kehamilan.


"Kau sudah hamil? Dengan siapa? Mana laki-laki itu?"


"Dengan Dehan, aku kan sudah menikah sejak enam tahun yang lalu"


Ibu kebingungan, pasalnya ia tidak tahu sama sekali


"TIDAK! KAU MASIH GADIS RANIA, MANA MUNGKIN BISA HAMIL??"


Rania menyuruh Dehan, kedua orangtuanya dan Derana untuk pergi ke rumah sakit. Tentu saja Dehan senang mendengar kabar Ibu mertua sadar dari koma begitupun Derana yang sangat menantikan neneknya.


"Bu, sebentar lagi kita akan kedatangan tamu yang sangat spesial untuk Rania"


"Siapa? Kamu jangan bawa orang lain lagi Rania... Cukup yang kemarin ngaku-ngaku Rangga Lisa sama anak kecil itu siapa namanya?"


"Ralis"


"Iya.. Ibu gak tau mereka siapa, yang Ibu kenal cuma Rania anak ibu satu-satunya"


Rania hanya mengiyakan saja perkataan Ibu, jujur ia merasa kesal karena siapapun yang berhadapan dengan ibu pasti ibu marah karena merasa mereka semua orang asing. Dokter bilang Ibu hanya mengingatkan masa lalu saat Rania masih sekolah, perut buncitnya saja Ibu membantahnya. Sangka Ibu, Rania itu hamil di luar nikah. Padahal ia sudah bersuami dan beranak.


****************


Dua jam kemudian Dehan dan keluarganya sudah sampai di rumah sakit. Orangtuanya juga ikut, ia sangat bahagia ibu mertuanya sadar. Tentu Dehan tidak datang dengan tangan kosong, jauh-jauh hari sebelum Ibu siuman Dehan telah membeli kalung berlian dan juga baju baru. Sedangkan orangtuanya membelikan makanan saja, mereka mengetuk pintu kemudian masuk ke ruangan Ibu


"Assalamualaikum"


"Walaikumsalam" Jawab Rania dan Ibu nya


Rania langsung mencium tangan mertuanya dan Dehan. Derana mendekati nenek yang baru siuman

__ADS_1


"NENEEEKKK!!! Nenek udah bangun, aku kemarin gambarrr ini"


Ucap Derana pamer hasil gambaran dan ucapannya karna berhasil mengucapkan R


" Siapa?" tanya Ibu


"Aku Derana Kenzie Wardhana. Anaknya Mama Rania sama Papa Dehan"


Ibu menatap Rania, tentu saja Rania mendekat ke ibu


"Bu, ini anak aku sama mas Dehan"


Dehan mendekat juga ke arah Ibu


"Assalamualaikum bu, aku Dehan yang pernah Ibu jodohkan dulu. Ibu masih inget ga?"


Tanya Dehan lembut, Ibu hanya menggeleng tanda tidak tahu


"Bu, ini mertua aku juga ini bunda dan ini ayah"


Kedua mertuanya berjabat tangan dengan Ibu, meskipun Ibu masih diam.


"Ran.. Ibu gak tau ini mereka semua siapa?? Kenapa tiba-tiba gini?? Kamu juga bisa hamil"


"Aku kan udah nikah lama, buktinya aku punya Derana yang bentar lagi umurnya empat tahun dan ada lagi bayi di perut ku ini"


Ibu tidak mau menjawabnya karena ia mash kebingungan


Ucap Dehan menenangkan Rania yang masih memaksa Ibu untuk mengingat kembali


"Lagian aku sebel deh, Ibu gak inget siapapun kecuali aku doang"


Dehan mengelus pundak Rania lembut


"Nenek... Gak inget sama aku juga?" tanya Derana


"Nenek?? Aku punya cucu selain anak kecil yang kemarin Ran?"


"IYA, IBU MAU OTW PUNYA TIGA CUCU" sewot Rania


Ibu masih memandang wajah-wajah baru di depannya sekarang, tak lama kemudian ia merasa pusing lalu pingsan.


"Astaghfirullah, Bu... Ibu kenapa?? Ran, Ibu mu"


Bunda khawatir melihat Ibu pingsan, sedangkan Rania malah santai saja.


"Itu reaksi amnesia Ibu bun, biarin aja nanti juga sadar kok"


Bunda dan yang lainnya di ruangan itu menjauh agar Ibu bisa beristirahat sejenak. Kebetulan hari ini Ibu sudah bisa di bawa pulang ke rumah, jadi Rania serta Dehan mengurus perizinan dan tebus obat.

__ADS_1


"Sayang, kamu yakin Ibu gak kenapa-napa?" tanya Dehan


"Iya mas.. Lagian aku yakin Ibu pasti sembuh, ibu cuma amnesia sementara. Ini kesempatan emas kamu buat dapet restu Ibu"


Dehan tidak membalas ucapan Rania, ia malah sibuk sendiri. Walau bagaimanapun Ibu Rania juga mertuanya, jadi Dehan harus menghormati hak Ibu. Setelah mereka selesai tebus obat Rangga datang untuk menjemput Ibu


"Bu, mau naik mobil siapa? Rangga atau Dehan?" tanya Rangga


Ibu tidak merespon pertanyaan Rangga, Ibu malah melihat ke Rania


"Ibu mau sama Rania aja"


Lantas Ibu memasuki mobil Dehan, selama perjalanan bunda Dehan mengajak ngobrol untuk tau isi hati Ibu. Akan tetapi perkataan ibu kemana-mana, maklum namanya juga amnesia.


"Ibu ingat tidak dengan cucu nya?" tanya bunda sambil memangku Derana


"Nenek inget aku?" tanya Derana polos


Ibu hanya menggeleng tidak tahu


"Bu, ini cucu kita namanya Derana Kenzie Wardhana. Anak Rania dan Dehan"


"Mana mungkin Rania sudah menikah, dia masih gadis"


Ibu terus saja terjebak dalam masa lalunya, Rania yang mendengar itu langsung membalas


"Ibu pegang perut ku"


Ibu mengelus perut buncit Rania


"Kamu hamil?"


"Berapa kali pun aku bilang Ibu tidak percaya kalo aku sudah menikah, bahkan sudah punya Derana dan anak di perut ini"


Rania cemberut menatap Ibu


"Sudah Ran, wajar ibumu sedang sakit harap maklum ya" jawab bunda


Akhirnya mereka semua sampai di rumah Rangga dan Lisa, Ibu di tuntun bunda serta Dehan untuk masuk ke dalam. Daritadi Ibu celingak-celinguk memperhatikan rumah, ia tidak ingat ini dimana


"Rania, ini rumah siapa?"


"Ini rumah kak Rangga sama Lisa"


"Rangga? Laki-laki ini" kata Ibu menunjuk jari nya ke depan Rangga


"Iya Bu" jawab Rangga


"Kerja apa kamu sampe punya rumah segede ini?"

__ADS_1


"Pengusaha Bu, kebetulan cabang ku udah dimana-mana"


Jawab Rangga santai, Lisa berdiri di sebelah Rania. Jujur saja Rania sedang labil emosinya karena hormon hamil, maka apapun yang ibu tanyakan rasanya ia ingin berbicara panjang lebar tentang dirinya serta Rangga. Apa boleh buat ia harus bersabar untuk menunggu waktu yang tepat.


__ADS_2