
Hari terakhir keluarga Dehan di Jogja dihabiskan dengan berbelanja, bukan Dehan tapi Rania yang ingin membeli oleh-oleh untuk kerabatnya.
"Mas, baju Ralis ukuran segimana ya? Kalo ke Derana kekecilan"
"Aku gak tau sayang"
Rania sedang berada di butik guna memilih batik untuk Ralis, Lisa, Ibu dan juga kak Rangga. Dehan juga membelikan kedua orangtuanya makanan serta kain batik
"Mas, aku boleh beli 2 ga?"
Dehan hanya bisa mengangguk pasrah menuruti keinginan istrinya, untung saja Dehan banyak uang jadi tidak masalah sebanyak apapun istrinya berbelanja. Derana sibuk di area bermain anak-anak dengan anak pengunjung lainnya, Rania sengaja memilih butik yang children friendly agar anaknya betah.
"Sayang, kamu beli sebanyak ini?"
Tunjuk Dehan ke keranjang belanja Rania
"Iya.. Kenapa? Kamu gak suka ya? Kalo gitu aku balikin lagi ke tempatnya"
Dehan tersenyum, kemudian mengelus rambut Rania
"Bukan sayang, aku gak perduli sebanyak apapun istriku belanja. Aku cuma khawatir nanti bawa nya gimana"
"Mas, sekarang kan ada jasa pengiriman"
Dehan baru ingat kalau ada yang namanya jasa pengiriman online
"Oh iya aku lupa hehe"
"Tenang aja mas, aku gak akan habisin semua uang kamu kok"
Dehan hanya bisa pasrah, sama seperti suami-suami di Indonesia lainnya yang menemani istrinya belanja. Begitupun Dehan, dengan sabar menanti Rania.
****************
Setelah selesai dengan urusan perbelanjaan nya, mereka pulang ke hotel untuk membereskan baju-baju serta packing. Derana masih sibuk dengan mainan baru yang dibelikan Rania sebelumnya.
"Sayang, kita gak beli oleh-oleh makanan?"
Tawar Dehan
"Boleh. Di stasiun aja mas, biar nanti langsung bawa ke Bandung"
Setelah selesai mengemas barang, mereka pergi ke stasiun kereta untuk pulang ke Bandung. Sesuai janji Dehan, ia membelikan Rania oleh-oleh untuk dibawa ke Bandung.
****************
Pulang dari Jogja, Rania meminta suaminya untuk pergi ke rumah orangtuanya.
"Mas, aku mau tidur di rumah bunda boleh gak?"
Tanya Rania
"Sayang, kita kan punya rumah. Baru datang dari Jogja, kamu mau nginap di rumah bunda beneran?"
"Iya... Aku mau sekalian dibuatin minuman hangat, kayanya badan aku pegal-pegal deh"
Dehan mengangguk mengerti kemudian ia melajukan mobilnya ke arah rumah bunda. Tak sampai 15 menit dari stasiun mereka telah sampai di rumah bunda.
"Assalamualaikum.. Bundaaa ayaahhh"
__ADS_1
"Walaikumsalam, ehh.. Menantu kesayangan bunda udah pulang"
Bunda memeluk tubuh Rania sambil mengelus perut hamilnya.
"Gimana di sana, kamu capek gak?"
Rania mengangguk memasang wajah cemberut
"Kenapa?"
"Bunda, aku pegal-pegal punggungnya. Padahal yang bawa koper dan keperluan Derana itu mas Dehan"
Bunda mengajak Rania duduk di sofa
"Wajar, kamu kan lagi hamil. Bunda buatin jahe merah ya buat kalian tunggu sebentar"
Rania terdiam sejenak, Dehan masuk ke dalam menggendong Derana yang tertidur pulas memindahkannya ke kamar tamu. Rania yang melihat suaminya tampak kasihan, pasalnya dari di Jogja semua diatur oleh Dehan. Saat Rania ingin membawa tas tote bag saja dilarang oleh Dehan
"Maaaass"
Rania memanggil Dehan untuk duduk bersama di sofa. Dehan mendekatkan diri
"Kenapa sayang?"
Rania memijat tangan Dehan lembut
"Mas capek ya? Maaf ya udah repotin kamu"
"Apa sih sayang... Justru aku gak mau liat kamu kecapekan, kamu lagi hamil cantik"
Rania menyenderkan kepalanya di bahu Dehan
"Aku sayang banget sama mas Dehan, tetap sehat ya"
Dehan mencium dahi Rania, memeluk tubuh istrinya sambil sesekali mengelus perutnya.
"Kamu udah lima bulan kan?"
Rania menganggukkan kepalanya
"Sayang kata dokter kandungan kemarin, diatas empat bulan udah boleh berhubungan intim"
Rania tahu pasti suaminya ini sudah tidak tahan
"Terus?"
"Eeee... Anuuu"
Dehan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Anu apa? Mas mau?"
Dehan tersenyum manis pada Rania
"Jangan di rumah bunda, besok aja ya? Aku juga mau mas udah lama banget kita gak---"
"GAK APA?"
Ucapan Rania tiba-tiba terpotong oleh suara bunda yang membawa nampan berisi jahe merah hangat.
__ADS_1
"Gak nginep di rumah bunda hehehe"
Canda Rania untuk mencairkan suasana.
"Jangan malu-malu, udah suami istri masa hal kaya gitu masih malu sih hahaha"
Bunda tertawa kecil dengan tingkah keduanya yang seperti anak baru pacaran. Padahal hal tabu seperti itu kan sudah biasa untuk pasangan suami-isteri, apalagi mereka akan memiliki dua anak.
"Bunda kasih tau ya Rania... Sebagai seorang istri harus patuh dengan keinginan suami, kamu bisa melawan kalo hak kamu diancam atau disakiti"
"Gak kok bunda, mas Dehan baik banget"
Bunda hanya tersenyum saja.
"Malam ini kalian nginep ya di rumah bunda? Bunda kangen sama Derana"
"Iya bund, aku juga lagi gak mau pulang ke rumah. Besok juga mas Dehan masih libur kok"
Mereka semua berbincang-bincang tentang di Jogja, Derana sudah tidur duluan. Setelah jam 10 malam Rania juga pamit untuk masuk ke kamar karena sudah mengantuk, Dehan masih terjaga. Ia memutuskan mengambil rokoknya dan pergi ke teras rumah sambil menikmati suasana malam hari.
Dehan memikirkan hal-hal yang menggangu pikirannya saat ini, seperti chatting dari orang yang tidak dikenal bahkan untuk menyuruhnya bunuh diri.
"Siapa orang dibalik isi pesan ini huuuffttt"
Ucap nya sambil menghembuskan asap rokok dari mulutnya. Ayah datang mendekati Dehan
"Ayah??"
Dehan menjauhkan rokok dari ayahnya, tapi ayah malah ikut merokok barsama Dehan
"Mikirin apa kamu?"
Tanya ayah sambil menikmati rokoknya
"Biasa, masalah laki-laki"
"Ayah juga laki-laki, bicara sama ayah"
Dehan memainkan puntung rokok di asbak
"Ada yang chat Dehan pake kalimat ancam keluarga yah"
Ayah menatap Dehan
"Kamu udah tau siapa yang ngirim? Atau berspekulasi siapa gitu?"
Dehan menggelengkan kepalanya
"Mau ayah bantu? Kebetulan ayah punya kenalan seorang detektif"
Dehan yang mendengar itu langsung menatap wajah ayahnya
"Boleh! Dehan mau ayah!!"
"Boleh dong, nanti ayah telepon dulu orangnya"
Ayah Dehan menelfon seseorang untuk meminta bantuan, Dehan berharap dengan bantuan ayahnya Rania serta Derana baik-baik saja.
"Terimakasih ayah, Dehan benar-benar tidak bisa berbuat apapun"
__ADS_1
"Tenang saja nak... Bagaimanapun kau itu anak ayah dan Rania juga menantu kesayangan ayah, jadi ayah akan melakukan apapun untuk melindungi kalian"
Dehan tersenyum ke arah ayahnya, malam ini mereka berbincang mengenai semua hal dari sudut pandang laki-laki. Ayah juga memberikan wejangan kepada Dehan seputar berkeluarga, menjaga anak dan istri agar hubungan tetap langgeng hingga tua. Dehan merasa nyaman berbicara dengan ayah, karena ayah selalu mengerti apa yang dirasakan Dehan.