TAKDIR CINTA DERAN (Dehan Rania)

TAKDIR CINTA DERAN (Dehan Rania)
46. Ibu


__ADS_3

Siang berganti malam Dehan terus saja mendekati Ibu dengan cara yang halus, ia menggunakan Derana sebagai umpannya.


"Nenek!! Aku bawa ini"


Derana memberikan Ibu kalung emas dengan liontin berbentuk hati, sangat cantik.


"Makasih ya Derana ganteng"


Dehan dan Rania tersenyum melihat Ibu yang berinteraksi dengan Derana. Bagaimanapun juga Derana itu cucunya Ibu, nenek mana yang tidak menyayangi cucu sendiri. Rania menyenggol lengan Dehan sebagai kode untuk mendekati Ibu,


"Ibu..." ucap Dehan lembut sambil merendahkan tubuhnya


Derana masih dalam pangkuan neneknya


"Makasih" jawab Ibu ketus


"Dehan sayang banget sama Ibu... Bagaimanapun juga Ibu itu yang melahirkan wanita secantik Rania istriku"


Ibu tidak menjawab apapun melainkan hanya bermain dengan Derana. Dehan merasa terabaikan sekarang, dia sedih tapi ini adalah balasannya atas perbuatan ia dahulu.


"Maafin Dehan ya bu? Dehan gak mau kehilangan Rania dan Derana lagi.. Dehan sayangggg banget sama keluarga kita"


"KITA? IBU BUKAN MERTUAMU LAGI DEHAN!"


"Bu...."


"Ceraikan Rania dan Derana akan tinggal di sini"


Dehan terdiam sambil menunduk bahunya bergetar tanda ia sedang menangis. Tidak! Sampai kapanpun Dehan akan tetap bersama Rania dan Derana.


"Aku tidak mau bercerai bu"


"TERSERAH , SEKUAT APAPUN KAU BERUSAHA IBU AKAN TETAP MENCERAIKAN KALIAN BERDUA!"


Ibu menurunkan Derana dari duduknya. Baru kali ini ia melihat Dehan menangis sesenggukan, Derana juga memeluk Papa nya sambil mencium pipi Dehan.


"Papa jangan nangis.... Dede sayang Papa"


Dehan memeluk tubuh kecil Derana sambil mengecup keningnya serta mengelus rambut Derana.


"Papa gak mau jauh dari kamu nak... Papa sayang banget sama dede, sama Mama Rania juga"


Rania yang tidak tahan lagi akhirnya menghampiri Dehan hingga mereka bertiga menangis bersama sambil berpelukan. Rangga serta Lisa juga ikutan untuk menenangkan mereka, jujur saja tak tahan melihatnya.


"Sudah.. Sudah... Jangan menangis, kakak akan berusaha semaksimal mungkin agar akte cerai dan apapun tidak terjadi pada kalian"


Ucap Rangga sambil menepuk-nepuk pundak Dehan. Rania menghapus air matanya agar tak terlihat cengeng


"Lisa, Derana tidur sama Ralis dulu ya?"


Lisa mengangguk mengerti kemudian Rania mengelus rahang tegas Dehan.


"Mas udah malem... Kita tidur yuk"


Dehan tak menjawab tapi ia bangkit dari duduk dan pergi ke kamar mandi untuk cuci muka. Dehan merebahkan tubuhnya di kasur lalu diikuti oleh Rania yang langsung memeluk tubuh suaminya itu.


"Derana tidur dimana Ma ?"


Tanya Dehan


"Dede tidur sama Ralis, kita berdua aja"


Rania mendongkak wajahnya naik ke dada bidang Dehan hingga wajah mereka saling bertatapan mata.


"Kenapa sayang?" Kata Dehan dengan suara beratnya mengelus rambut Rania


"Kamu gak apa-apa kan?"

__ADS_1


Rania khawatir dengan mental Dehan


"Selagi ada kamu sama Derana, aku baik-baik aja sayang"


"Mas.. Aku gak mau cerai"


Dehan menatap Rania, kemudian mencium bibirnya sekilas.


"Kamu pikir aku bakal mau ngelepasin kamu? Rania... Bagaimanapun aku ini seorang suami, pemimpin keluarga kita. Jadi aku yang harus mengahadapi semuanya"


"Aku ikut!" gerutu Rania


"Iya kamu ikut kalo ada aku sayang"


Rania beranjak dari ranjang, Dehan bangun untuk duduk memperhatikan apa yang akan Rania lakukan selanjutnya. Ia mengambil pil KB yang ada di dompet, kemudian membuangnya ke tempat sampah.


"Aku pengen hamil"


Dehan tersenyum memandang Rania


"Sayang.... Derana baru tiga tahun, kamu gak capek ngurus anak bayi lagi?"


Rania menggeleng


"Justru, aku pengen punya anak banyak. Bunda kamu juga pengen kan banyak cucu biar rame, lagian kan mas anak tunggal biar selagi aku sanggup aku sepenuh hati untuk sayangi anak-anak kita"


Senyuman Dehan makin lebar dan ia sangat senang mendengar ucapan istrinya itu. Rania mulai membuka seluruh pakaiannya di depan laki-laki yang selalu bergairah dalam hubungan mereka. Hingga akhirnya Dehan tak tahan ia menarik tubuh Rania untuk berbaring hingga terjadilah malam panas mereka berdua.


Tak terasa sudah hampir tiga jam mereka berdua beradu kasih, Dehan yang lemas berbaring di sebelah Rania. Wajah mereka memerah untuk saling berhadapan dengan nafas memburu.


"Hah... Hah... Semoga jadi ya"


Ucap Dehan dengan nafas yang tercekat


"Makasih ya mas... Aku pengen kita barengan terus, biar Ibu juga ga berisik suruh cerai mulu"


Dehan mengecup kening Rania sebentar lantas mereka pun pergi ke alam mimpinya.




Pagi harinya Rania menyiapkan sarapan seperti biasa, Ibu masih enggan makan dengan mereka. Rania selalu membuat makanan khusus lansia untuk Ibu lalu menyuruh suster untuk mengantarnya ke kamar.



"Sampai kapan ya Ibu seperti itu?"



Ucapnya keluh. Lisa yang berada di samping Rania hanya bisa mengelus bahu Rania



"Sabar ya Ran, Ibu itu keras kepala sama kaya kamu pas dulu kekeh balikan sama Dehan"



Rania tersenyum getir sambil mengaduk adonan pancake untuk sarapan bersama, pagi ini Dehan harus pulang lagi ke Bandung karna urusan pekerjaan. Sedangkan Rania masih ingin tinggal di Jakarta bersama keluarga sebelum mendapatkan restu ibunya.



"Sayang.. Aku berangkat dulu ya. Jaga diri baik-baik, jangan terlalu dipikirkan"



Dehan memberi salam kepada istrinya itu dibarengi dengan kecupan mesra di dahi. Kemudian Dehan menggendong Derana

__ADS_1



"Anak papa yang paling ganteng sedunia, dede Derana papa kerja dulu ya. Jagoan papa jagain Mama ya selama papa kerja, papa sayang banget sama Dede"



"Hahahaha papa udah papaaaa"



Ia menciumi seluruh wajah Derana membuat anak itu tertawa karena merasa geli, Rania yang melihat itu juga ikut tersenyum. Dehan mengembalikan Derana ke gendongan Rania lagi



"Mama cantik I love you"



Dehan mencium bibir Rania sekilas dan mengelus rambut coklat istrinya sambil saling menatap.



"Papa aku mau juga!"



Teriak Derana ke papanya, otomatis Dehan mencium anaknya lagi.



"Udah ah mas, nanti telat sana pergi cepet!"



"Hehe iya sayang... Makasih yang semalem ya semoga kamu cepet hamil lagi plus Derana punya adik"



"IYA SANA PERGII!!"



Rania mulai kesal karena Dehan selalu mengulur waktu untuk hal tidak berguna, akhirnya Dehan mengalah dan masuk mobil. Setelah kepergian suaminya, Rania menjalani aktifitasnya seperti ibu-ibu biasa.



"Ran, katanya kamu mau ajarin aku cara membuat kue biji ketapang?"



Tanya Lisa yang menghampiri Rania ke dapur.



"Ya ampunn... Aku lupa, ayo kita buat sekarang! Eh, tapi bahannya ga ada Lis"



"Kita belajar, sekalian shopping udah lama kita ga hangout bareng kan??!"



Lisa menggoda Rania untuk pergi ke Mall, tentu saja Rania ikut sekalian mangajak kedua anak mereka. Untung saja Lisa memiliki suster untuk menjaga Ralis jadi Derana juga ikut terjaga dengan nya.



Rania mulai memasukkan bahan-bahan membuat kue biji ketapang dan tak lupa ia juga membeli bahan untuk kue bolen (bolu gulung pisang) kesukaan Ibu.

__ADS_1


__ADS_2