TAKDIR CINTA DERAN (Dehan Rania)

TAKDIR CINTA DERAN (Dehan Rania)
47. Rahasia Derana


__ADS_3

Belanja bahan-bahan masakan sudah selesai, sekarang para wanita itu pergi ke salah satu store yang menjual barang branded. Namun sebelum memasuki toko Rania meminta izin kepada Lisa untuk menelepon Dehan.


"Assalamualaikum sayang, ada apa?"


"Mas, aku...."


"Kenapa? Ngomong yang jelas sayang"


Ucap Dehan dengan lembut dan suara beratnya.


"Gini... Aku kan diajak Lisa ke Mall, terus dia mau beli barang branded aku boleh ga beli?"


"Hahahaha" Dehan malah tertawa karena pertanyaan istrinya itu


"Iiihh mas Dehaaaannnn!! Aku serius minta izin ke kamu" Rengek Rania dengan suara manja


"Ya beli aja dong ngapain minta izin ke aku. Toh uangku uang kamu juga"


"Mas tapi ini mahal banget, dulu aku suka beli di brand ini. Aku lagi butuh tas sama sepatu"


"Beli aja sayang, selagi itu kebahagiaan kamu aku bakal kasih semuanya. Uang bisa dicari kapan lagi liat kamu bahagia, ga ada salahnya aku bahagiakan istri sendiri justru rezeki ku ngalir terus karena kamu dan Derana"


Rania tersenyum dengan handphone yang masih menempel di telinga sebelah kirinya, ia senang karena ucapan Dehan yang tulus.


"Ya udah, aku bungkus ya hihihi makasih mas Dehan suamiku yang palingggg aku sayang muaaahhh"


Suara Rania sengaja di manjakan, Dehan cekikikan hingga mereka saling berpamitan di telfon karna Dehan juga sebentar lagi ada jadwal meeting. Rania segera memasuki toko fashion kalangan atas


"Gimana?" tanya Lisa


"Yeaahhh!!! Ayo kita shopping bestiee"


Kedua wanita itu sudah mencoba berbagai fashion di toko tersebut dirasa sudah cocok mereka beli sesuai dengan selera masing-masing, Rania hanya mengunjungi tiga toko untuk shopping sedangkan Lisa lebih dari lima toko branded.


Rania sengaja menahan diri agar tidak terlalu menghamburkan uang Dehan, padahal Dehan membebaskan Rania untuk berbelanja apapun itu. Tetap saja, Rania menghargai usaha suaminya lagipula ada anak yang harus ia pikirkan.


Setelah puas, mereka pulang ke rumah. Namun tidak untuk Rania


"Mau kemana lagi Ran?"


"Aku mau ke suatu tempat, kalian pulang aja duluan aku sama Derana nyusul nant"


"Oh okey"


Lisa menutup pintu mobil dan menjalankan mobilnya untuk pulang, Derana memegang tangan kanan Rania.


"Mama kita mau kemana?"


Tanya Derana polos


"Ada deh, pokonya dede temenin mama aja"


Rania memanggil taxi, lalu menyuruh supir untuk ke rumah sakit karena semalam ia sudah membuat janji dengan dokter kandungan. Selang beberapa menit sampailah mereka di rumah sakit, genggaman tangan Derana makin kencang bahkan berkali-kali anak itu berusaha untuk kabur.


"Aku gak mau disuntik maa... Dede takut"


Rania berjongkok di depan anaknya

__ADS_1


"Sayang.. Mama mau periksa ke dokter kandungan, dede mau gak kalo punya adik?"


Di saat itu Derana tersenyum lebar lantas menjawab dengan semangat


"MAU MA!! AKU MAU PUNYA ADIK KAYA DEDE RALIS!!"


Rania mengelus rambut Derana dengan lembut


"Tapi kamu harus nurut ya selama mama periksa, jangan buat dokternya marah. Terus jangan kasih tau papa, tante lisa, om Rangga sama semua orang kalo mama ke sini"


"Kenapa?"


"Pokonya ini rahasia kita berdua okey?!"


Rania menunjukkan jari kelingkingnya kemudian Derana menautkan jari yang sama ke jari ibunya.


"Okey mama!!"


Ibu dan anak itu berjalan di koridor rumah sakit, lalu duduk di depan ruangan untuk spesialis kandungan dan reproduksi. Setelah beberapa saat menunggu nama Rania terpanggil juga, ia masuk bersama Derana.


Dokter mulai USG perut Rania untuk memastikan kesehatan organ kewanitaannya.


"Dok, rencananya aku mau hamil lagi. Sebelumnya aku punya riwayat minom tapi setelah pengobatan alternatif langsung ham anak pertama yang itu. Apa aku ada peluang lagi?"


"Jika tidak ada rasa nyeri lagi biasanya minom akan sembuh dengan sendirinya karna itu merupakan jenis kanker jinak. Ibu lancar menstruasi?"


"Lancar dok" jawab Rania


"Bagus, saya lihat di layar USG juga sehat-sehat saja. Ibu jika ingin hamil mulai sekarang berhenti KB, selang 5 bulan ke depan bisa check ke sini lagi ya"


Rania hanya mengangguk sambil matanya melihat ke arah Derana, anak itu sedang melihat layar USG dengan serius dan hening.


Tanya Rania, lantas Derana mengangguk


"Masih kecil udah mau punya adik, waahh nanti jadi abang dong hehe" Canda Dokter


"Doktel, doktel... Tv nya kok jelek sih"


Derana yang polos berkata seperti itu sambil menunjuk layar USG, sontak dokter kandungan itu tertawa dibarengi Rania.


"Sayang.. Ibu dokternya lagi periksa mama, itu layar USG buat liat dalem perut mama"


"Telus, itu kenapa ada bulat-bulat mama?"


"Itu tempat dede bayi" dokter menjawab


"Ooohh... Mama diapain pelutnya kok pake itu?"


"Mama lagi di periksa biar bisa punya dede bayi sayang"


Derana terus mengoceh tentang ke ingin tahuannya yang ada di depan mata. Untung saja dokter senantiasa menjawab pertanyaan-pertanyaan polos anak usia tiga tahun tersebut secara logis dan mudah dimengerti. Hingga dokter balik bertanya


"Papa kamu kemana dek?"


"Papa aku ke Bandung kerja"


Dokter melirik ke arah Rania, sontak ia menjawabnya

__ADS_1


"Suami aku langsung balik ke Bandung dok, aku di sini sama Ibu kandung"


"Oh begitu ya, padahal tidak usah dijawab juga tidak apa-apa hehe"


Sesi pemeriksaan USG telah selesai dan hasilnya Rania harus menunggu selama 5-10 bulan untuk perkembangannya. Maka ia harus kontrol di waktu antara itu, Derana daritadi bertanya apakah mama nya hamil lagi dokter menjawab segera jika sudah baikan.


Dokter hanya memberikan suplemen vitamin serta resep obat herbal untuk kesuburan rahim, padahal niatnya Rania ingin segera hamil dalam waktu dekat untuk mendapatkan restu ibunya. Tapi apalah daya, Tuhan belum merestui.


Rania dan Derana pulang ke rumah menggunakan taxi lagi, selama perjalanan Rania memberikan amanat kepada anaknya.


"Dede jangan bilang ke semua orang ya kalo kita abis dari rumah sakit, nanti mama kasih es krim oke?!"


"Oke!"


Rania langsung memeluk tubuh mungil Derana sambil mencium nya.


"Anak mama yang paling mama sayang"


"Mama aku mau telepon papa"


Rania mengeluarkan handphone di tas nya untuk menghubungi Dehan menggunakan video call tak butuh waktu lama Dehan mengangkatnya.


"Papaaaa"


"Dedeeee"


"Papa aku abis ketemu doktel"


"Lho?? Dede sakit apa?"


Dengan sigap Rania merebut handphone nya dari Derana


"Sayang, Derana sakit apa? Bukannya kalian abis dari Mall??"


"Eh... mmmm gini pah, tadi kaki Derana pas di Timezone jatuh trs luka gitu. Jadinya aku bawa periksa ke dokter"


"Mamaaa" Rengek Derana


Rania membisikan kata 'rahasia di telinga Derana, anak itu paham langsung terdiam.


"Ya ampunn... Tapi udah baikan kan sekarang ma?"


"Udah pah, ini anaknya nanyain papa katanya kangen"


Rania mengarahkan ponsel nya ke Derana lagi


"Papa!! Aku pengen punya adik ya?"


Dehan terkekeh kecil


"Iya sayang... Nanti papa buat ya sama mama lalu--"


"STOP!!"


Mobil taxi itu tiba-tiba berhenti dan Dehan juga diam dengan celotehannya.


"Ada apa Bu?"

__ADS_1


"Maksud saya ke suami saya pak, bukan ke bapak. Lanjut jalan aja"


Sopir langsung melanjutkan jalannya dan Rania juga mematikan telefon nya secara sepihak. Derana menangis karena belum selesai berbicara kepada papa nya, sumpah Rania kesal sekarang.


__ADS_2