
Di tengah reunian, staff acara mengadakan game yang diikuti semua peserta. Rania ingin sekali ikut tapi ia sadar diri tengah hamil, Dehan juga memaksa Rania untuk tidak ikut berpartisipasi dalam kegiatan tersebut jadi Rania menjadi penonton saja.
Dehan mulai memimpin permainan basket, seakan kembali ke masa SMA nya. Rania hanya menyemangati suaminya di pinggir lapangan, tak lama Tiara datang bersama teman-teman nya dulu. Ia duduk di sebelah Rania, namun Rania tak menyadarinya.
"AYO DEHAN! KAMU PASTI BISA!!!"
Teriak seorang wanita di sebelah Rania, tentu saja Rania langsung sinis pada Tiara
"Dia suamiku! SU-A-MI KU"
Rania sengaja mengeja kata itu untuk memberitahu Tiara bahwa hanya dia yang bisa mendukung Dehan.
"Maaf ya Rania, tapi gue udah menaruh hati pada Dehan sebelum lo muncul"
Rania menarik nafas dalam-dalam dan hembuskan perlahan
"Oke.. Tapi lu harus lihat perut ini, di dalam sini ada anak gue dan mas Dehan. Jelas siapa yang Dehan cintai sekarang, bahkan ini... Cincin kami saat menikah enam tahun yang lalu"
Rania dapat sombong sekarang, ia berbalik badan melihat Dehan yang tengah bermain basket di sana.
"Lo yakin Dehan setia kaya gitu? Lo gak mau dengerin ceritanya tentang rencana aborsi?"
Rania melihat Tiara penasaran
"Aborsi?"
"Ya... Suami yang lo banggain pernah menghamili gadis lain jauh sebelum mengenal Lisa dan lo!"
Rania mengerutkan keningnya menatap Tiara seakan-akan ia bertanya-tanya benarkah? Siapa gadis yang pernah Dehan hamili?
"Males gue basa-basi sama cewe polos, setidaknya anak itu masih hidup sampe sekarang"
Tiara pergi begitu saja meninggalkan Rania, di dalam benak Rania bertanya-tanya mengenai suaminya. Jika benar tega sekali Dehan selama ini telah berkhianat, ia menikahi Rania untuk balas budi pada orangtuanya. Bahkan dulu juga pernah berselingkuh dengan Gladys, sekarang? Rumor dari Tiara.
Tak terasa air mata Rania menetes seketika, di tengah kerumunan supporter basket ia meninggalkan tempat nya lalu pergi ke tempat yang lebih sepi. Rania menangis sesenggukan karena merasa bingung dengan suaminya, se-nakal apa Dehan di masa lalu? Kenapa Dehan mau bersama gadis baik-baik seperti Rania.
"Nak... Mama capek sama Papa hikssss"
Rania menangis karena merasa dibohongi, padahal belum tentu rumor itu benar adanya. Perut yang besar hanya Rania elus lembut, ada yang harus ia lindungi setelah Derana.
Score pertandingan masih seri, artinya mereka harus mencetak point untuk hasil akhir. Para pemain beristirahat untuk mengisi tenaganya, Dehan mulai menyadari bahwa istrinya tidak ada di bagian penonton.
"Erlina, lo liat istri gue ga? Yang tadi duduk di sini??"
Ucap Dehan bertanya pada teman SMA nya
"Tadi istri lu nangis tiba-tiba abis ngobrol sama si Tiara, tau dah kemana sekarang"
Dehan langsung berlarian ke sana kemari mencari keberadaan istrinya tersebut, ia juga menanyai orang-orang sekitar siapa tau ada yang melihat Rania. Dehan tidak menyerah, ia menelusuri tempat yang sepi karena ia tahu Rania jika menangis mencari tempat sepi.
Benar saja mata elangnya melihat Rania tengah terduduk di lorong belakang kelas yang sepi, Dehan mendekatinya lalu berjongkok di hadapan Rania.
"Kenapa nangis?"
Dehan berinisiatif menghapus air mata Rania, namun Rania meronta
"Jangan sok peduli! Aku tidak menangis!"
"Ini apa?"
Tunjuk jari Dehan yang basah karena mengusap air mata Rania.
"Kenapa? Cerita sama aku, gara-gara ucapan si Tiara?"
__ADS_1
Rania tidak menjawab ia malah membuang muka dari Dehan
"Ayo dong sayang cerita.. Jangan bikin aku pusing gini, aku masih bisa sabar dengerin kamu"
Tetap tidak ada respon, Dehan memeluk tubuh Rania erat. Rania melepas nya
"Jujur sama aku, kamu udah hamilin siapa sebelum nikah sama aku??"
Dehan menatap Rania heran
"JAWAB AKU MAAASS"
Dehan terdiam, wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apapun.
"Ohhh jadi gara-gara itu kamu marah, gini ya Rania sayang... Tiara itu big fans aku, entah sampai sekarang juga mungkin"
Rania terdiam menatap Dehan, ia sedikit kesal
"Jangan dengarkan kata mereka, kamu percaya aku kan? Aku bukan Dehan yang dulu lagi sayang"
Dehan memeluk tubuh Rania, wanitanya menangis di pelukan Dehan
"Kau sedang hamil, tetaplah berada di sisiku agar selalu aman"
Rania mengangguk dalam pelukan Dehan, ia melepaskan pelukan Dehan kemudian menatap suaminya
"Iya sayang, kamu mau kapan? Naik apa?"
"Kamu bisanya kapan? Nanti aku izin ke sekolah Derana"
Dehan membuka ponselnya melihat jadwal pekerjaan, dia menemukan jadwal kosong selama lima hari
"Lusa depan aku libur 5 hari sayang"
"Aku mau naik kereta aja ya mas, pasti Derana seneng liat pemandangan"
"Iya sayang... Apapun akan aku lakuin buat kamu sama anak-anak kita"
Wajah kesal Rania berubah menjadi senyuman yang manis, Dehan tak berkedip melihat kecantikan wajah istrinya
"Aku beruntung memiliki istri sepertimu.. Aku ingin selamanya bersamamu Rania sayang"
Dehan mengambil bibir tipis Rania, sepasang suami-istri itu tengah berciuman di tempat yang sepi. Untung saja tak ada siapapun di lorong belakang kelas, hanya ada suara kicauan burung penghuni atap gedung.
Selang semenit mereka berciuman, Rania melepasnya
__ADS_1
"Udah ah mas, takut ada orang di sini"
"Gak ada, ayo lagi sayang... Aku suka permainan lidah kamu"
"Udah aku haus mau minum... Aaarrggghh"
Rania ingin beranjak tapi badan dia pegal-pegal
"Kenapa sayang??" tanya Dehan khawatir
"Badan aku pegel banget mas"
"Kita pulang aja ya? Kamu pasti kecapekan"
Dehan membopong tubuh Rania, karna Rania tengah hamil jadi berat badan Rania jelas bertambah. Sesekali Rania ingin turun karena kasihan dengan Dehan
"Mas, udah turunin aku... Aku bisa jalan sendiri"
"Tidak apa-apa, aku gak mau kamu capek sayang"
Mereka meninggalkan acara reunian lebih dulu, tapi di tengah jalan Rania mengeluh ingin makan es durian. Aneh sekali, padahal Rania sama sekali tidak suka durian bahkan mencium nya saja dia bisa mual-mual.
"Aku mau es krim durian"
"HAH??!" Dehan kaget dengan penuturan Rania
"Aku pengen banget makan es krim durian mas Dehan sayaanggg"
"Oke bumil ku yang cantik"
Dehan menuruti kemauan istrinya yang sedang hamil, ia berhenti di sebuah kedai es krim dan memesannya. Rania melahap es krim tersebut dengan nikmat
"Tumben kamu suka es krim durian, padahal aku tau banget seorang Rania Gandhita Wardhana benci buah durian"
Tanya Dehan penasaran
"Bukan aku yang mau, anak kamu"
"Iya iya sayaanggg"
Dehan hanya menjawab iya daripada panjang lebar, tapi saat Rania menyendok es krim di suapan ke lima ia malah tidak mau lagi. Dehan kembali bertanya
"Kenapa lagi?"
"Gak enak es krimnya, sekarang aku mau cilok pake kuah lontong sayur"
__ADS_1
Dehan menepuk jidatnya, jujur saja ia harus bersabar untuk memenuhi ngidam Rania. Sebagai seorang suami memang harus seperti itu bukan? Dehan juga selalu memenuhi keinginan istrinya, jika makanan tidak habis ya Dehan yang menghabiskannya.