TAKDIR CINTA DERAN (Dehan Rania)

TAKDIR CINTA DERAN (Dehan Rania)
61. Derana sudah besar


__ADS_3

Rania pulang ke rumah Lisa diantar supir pribadi kakaknya. Derana melihat Mama langsung memeluk Rania


"MAMAAAAAAAAA!!!!!"


Rania membalasnya dengan kecupan


"Sayangkuuuu... Udah makan belum anak Mama?"


"Udah pake sayul ijo"


Rania menggangguk paham, kemudian ia pergi ke kamarnya untuk membersihkan diri lalu makan malam. Saat ia membuka ponselnya sudah banyak notifikasi pesan dari Dehan, dari pap sedang menyetir mobil sampai saat di rumahnya ia mengirim foto pada Rania.


"Hahaha apaan banget sih mas Dehan laporan gini, yang ada bikin memori handphone aku penuh tau"


Rania membalasnya dengan berfoto selfie tersenyum manis, tak selang 3 detik ia mendapat balasan


**chatting


Dehan: WOW!! Cantiknya istriku, ayo menikah lagi denganku!


^^^Rania: Haha gak jelas!! Sok baku bahasanya tau^^^


Dehan: I miss you sayang 😭 aku baru ada free time hari Rabu nanti. Gimana ya?


^^^Rania: Terserah kamu, btw I miss you too Papa Dehan 🖤^^^


Dehan: Oke aku ke sana! Kamu udah makan? Minum susu? Derana juga?


^^^Rania: Iya udah sama Derana juga. Mas kamu jangan begadang ya, ga sehat loh!^^^


Dehan: AKU BEGADANG MIKIRIN KAMU, GAK BISA PELUK BANTAL MAUNYA PELUK KAMU 😘


^^^Rania: @L4Â¥^^^


*Chattingend*


Rania tidak membalas pesan Dehan lagi karena ia merasa geli melihat pesan suaminya sendiri. Maka Rania lebih memilih tidur, Derana tidur di kamarnya yang sudah disediakan oleh Rangga.


...****************...


Sebisa mungkin Dehan menyelesaikan pekerjaan nya cepat karena ia tidak sabar menahan rindu dengan istri serta anaknya. Dehan memasukkan susu Rania, susu Derana, buah-buahan, dan sayuran yang ada di kulkas ke dalam tote bag untuk dibawanya ke Jakarta. Dirasa semuanya sudah di masukan, Dehan pun berangkat ke Jakarta untuk bertemu Rania.


Tak terasa sudah tiga hari lamanya Rania berada di sini, setiap hari menemani Ibu lalu sore pulang ke rumah. Sudah menjadi rutinitas bahkan Rania tidak mempedulikan dirinya sendiri padahal jelas-jelas ia sedang hamil, yang ada di pikirannya adalah Ibu serta Derana.


"Nenek? Nenek kapan bangun bobok nya?"


Tanya Derana polos, Derana sedang ada di rumah sakit hari ini bersama dengan Rania.


"NENEK!!! Dede sekalang udah bisa makan sayul ijo loh, aku bisa jadi Spiderman!"


Rania terkejut mendengar kalimat terakhir yang diucapkan oleh Derana.


"Dede ngomong apa tadi? Bisa jadi Spiderman?"


"Iya supaya aku bisa nempel di gedung tinggi"


"Bukan.. Coba ngomong Spiderman"


Pancing Rania


"Spiderman"


"HOREEEE KAKAK BISA NGOMONG R"


Derana masih diam saja, sedangkan Rania kegirangan bahagia.


"Sekarang ngomong gini RRRRRRR coba"

__ADS_1


"RRRRRRR.... BISA MAH.. RRRRR"


Derana terus berbicara R dengan nada nya sendiri, layaknya anak-anak kecil yang baru bisa berbicara R.


"Coba sekarang namanya siapa?"


"Derana Gandhita Wardhana"


Derana menyebutkan namanya sendiri, kemudian berbicara di depan Ibu Rania


"NENEK AKU BISA NGOMONG R RRRRRRR... NIH YA, DERRRRANA GANDHITA WARRRRDHANA"


Rania yang melihat anaknya bisa mengucapkan abjad R sangat bahagia campur terharu, baginya Derana sudah besar dan bukan anak-anak lagi. Tak terasa ia pun meneteskan air matanya sedikit


"Derana, sini sayang"


Anak yang dipanggil namanya itu langsung mendekati Rania


"Iya Mama?"


Rania menyuruh Derana duduk di pangkuannya, lalu memeluknya.


"Anak Mama udah besar ya, udah bisa ngomong R lagi. Dulu dede masih bayi banget, masih Mama gendong-gendong. Masih Mama susuin sambil nyanyi twinkle twinkle little star. Dede sayang... Anak Mama yang paling baik dan pintar"


Rani mengucapkan itu sambil menangis karena ia tidak menyangka anaknya pertamanya sebentar lagi akan berumur 4 tahun.


"Mama nangis?"


Derana melihat wajah ibunya, kemudian mengusap air mata yang ada di pipi dengan jari kecilnya.


"Mama.. Aku juga sayang Mama sama Papa, jangan nangis ya"


Derana mencium pipi Rania, tentu saja Rania langsung tersenyum


"Mama jauh lebih sayang sama kamu terus juga bentar lagi kan dede mau jadi kakak"


Protes Derana


"Terus mau dipanggil apa dong?"


"Abang! Aku mau dipanggil Abang sama adik bayi"


Rania menggangguk paham lalu mencium pipi chubby Derana, ia memandang wajah anaknya itu tampak mirip seperti Dehan


"Dede mirip Papa, ganteng"


Lantas Rania mulai merindukan sosok suaminya itu


"Papa lama banget ya Mah, belum dateng aja?"


"Mungkin di jalan macet sayang, kita tunggu Papa ya?"


"Aku bosen main game sendirian terus"


Belum lama berselang kemudian, Dehan mengetuk pintu ruangan Ibu lalu masuk ke dalam.


"Assalamualaikum, hay istri dan anakku?!"


"PAPAAAAA!!!!"


Derana berlarian menuju Dehan lantas memeluknya erat, Dehan menggendong anaknya itu.


"Kangen ya jagoan sama Papa?"


Derana hanya membalas dengan anggukan kecil.


"Papa, dede udah bisa ngomong R tuh" kata Rania

__ADS_1


"Oh ya? Coba Papa mau tau, coba ngomong nama kamu"


Tanya Dehan penasaran


"DeRana Gandhita WaRdhana" katanya sengaja menekan huruf R


Dehan ikut senang mendengar penuturan anaknya


"OKEY! SESUAI JANJI, PAPA BAKAL BELIIN KAMU MOBIL REMOTE CONTROL!!"


"HOREEEE!!!!!"


Anak dan ayah itu berdansa kecil, Dehan berdansa sambil menggendong Derana. Ia juga memeluknya sesekali mencium kening anaknya. Dehan mendekati Rania


"Sayang, kita berhasil jadi orang tua untuk Derana"


Dehan mencium bibir Rania sekilas lalu memeluknya.


"Mama, kita beliin hadiah buat Derana ya"


"Boleh dong"


Derana tampak senang, ia memeluk Papa dan Mama nya serentak. Setelah itu pergi ke tempat neneknya yang sedang koma, Dehan menarik tangan Rania gantian sekarang Rania yang dipeluk Dehan


"Terimakasih sudah menjadi Ibu yang baik untuk Derana, dan telah menjadi istriku tersayang. I really miss you baby"


Dehan mengecup kening Rania, begitupun Rania yang balas mengecup bibir Dehan


"I really miss you more Papa Dehan"


Sepasang suami-istri itu melepas rindunya, padahal baru berpisah tiga hari. Tapi serasa bertahun-tahun lamanya Dehan bercerita tentang bisnisnya kepada Rania, Rania juga bercerita mengenai Ibu pada Dehan.


Entah sampai kapan Ibu akan bangun dari koma, Rania berharap Tuhan memberinya umur panjang. Agar Ibu bisa melihat adik Derana lahir ke dunia sembilan bulan lagi. Kak Rangga, Lisa dan Ralis datang ke rumah sakit untuk berganti shift dengan Rania.


"Sekarang gantian, kita yang jaga Ibu"


Rania menolak permintaan Rangga


"Gak, kita juga mau jagain Ibu"


"OM RANGGA! AKU BISA NGOMONG R LOH"


Derana datang dengan percaya dirinya


"Nih ya, Spiderrrrman... Om Rrrrrangga.. Tuh bisa kan aku!"


Rangga menggendong Derana


"Hebat sekali Derana udah besar ya sekarang!"


"PAPIII AKU JUGA BISA NANTI KAYA DELANA NGOMONG LLLL"


"Hahahaha"


Gelak tawa terdengar di seluruh ruangan Ibu, namun tidak dengan Rania. Ia berusaha menenangkan Ralis yang sudah menangis karena merasa di ejek orangtuanya sendiri


"Huwaaaaaaa.... Papi jahat!"


"Ralis juga nanti bisa kok, percaya sama tante. Derana juga dulu gak bisa, kalo anak yang suka belajar lama-lama bisa ngomong R"


Ralis memeluk Rania sambil menangis, meskipun tidak kencang.


"Kak Rangga jangan gitu sama anak sendiri, setidaknya hargain perasaan Ralis"


Rangga kemudian menurunkan Derana, lalu memilih Ralis untuk meminta maaf


"Iya, Ralisss... Anak papi yang paling cantik, maafkan papi ya sayang? Kita beli ice cream yuk??! Siapa yang mauu???"

__ADS_1


Tawar Rangga lantas membuat gadis kecil itu mau, Rangga menggendongnya. Tak lupa ia juga mengajak Derana turun ke bawah untuk pergi beli ice cream.


__ADS_2