
Rania, Dehan dan Derana telah sampai di rumah Gilang. Biasanya setiap weekend mereka pergi ke rumah sakit untuk menemani Ibu, tapi karena minggu ini ada acara open house jadi Rania berpikir untuk pergi ke rumah Gilang.
Seperti yang Rania tahu daritadi wajah Dehan tidak terlihat bahagia, ia bahkan tidak tersenyum sedikitpun karena akan bertemu Gilang pria yang pernah disukai oleh istrinya dulu saat Rania pergi ke Jogja.
"Mas senyum dong! Masa nanti ketemu temen aku kamu ga senyum, ntar keliatan sombong"
"Biarin, aku mau tinju muka Gilang"
Rania tidak menggubris perkataan Dehan, seperti biasa Rania mengenakan dress sederhana terbuka tapi Dehan ingin bagian dada dan kaki Rania tertutup. Rania menuruti perintah suaminya itu, Derana memakai baju seperti kemeja dan celana jeans. Dehan yang memang tidak berniat pergi hanya memakai kaos distro serta celana bahan berwarna coklat muda.
Mereka sampai juga di rumah baru Gilang, saat memasuki rumah Derana sudah berlari ke taman belakang yang sudah ada taman bermain khusus anak-anak. Gilang sengaja membuat itu karena ia memiliki banyak sepupu anak kecil seusia Derana, Rania yang telah bertemu Gilang saat dulu langsung berjabat tangan.
"Ya ampun!! Apa kabar Rania?? Makin cantik saja"
Ucap Gilang semangat
"Alhamdulillah baik. Amin ya kamu juga makin tampan dan banyak rezeki"
"Cih"
Dehan berdecih geli melihat istrinya yang memuja Gilang.
"Oh pak Dehan, akhirnya kita berjumpa lagi di sini"
Gilang berjabat tangan dengan Dehan, mau tidak mau Dehan membalasnya tanpa senyuman.
"Jangan sok tampan di depan istriku"
"Maaf pak Dehan, saya dan Rania hanya rekan bisnis dulu. Juga kami.. pernah bertemu di Jogja kemarin"
"Jika berbicara tentang masa lalu aku akan meninju mu"
Rania yang tidak enak langsung berbicara sambil mencubit perut Dehan sedikit
"Hehe.. Aduhh, Gilang maaf ya suami aku emang gini. Maaf banget ya"
"Oh santai, kalian silahkan makan-makan dulu. Nanti kita bicara lagi, saya melayani tamu dulu"
"Ah iyaa silahkan"
Dehan masih melihat sinis terhadap Gilang, Rania menarik tangan Dehan ke tepi keramaian.
"Mas, jangan gitu ke Gilang. Kamu ga ingat dulu waktu kita berantem aku kabur ke Jogja, kamu dapat informasinya juga dari story ig Gilang kan?"
"Iya tapi aku juga tahu kamu pernah deket sama Gilang"
Dehan masih kesal lantaran dulu Rania pernah bilang bahwa selama di Jogja ia menyukai Gilang dan pernah berpikir untuk menjadi istri bagi Gilang.
"Tapi itu dulu, sekarang kan aku punya kamu"
Rania memegang rahang tegas suaminya, kemudian mencium bibir. Dehan yang tadinya marah seketika mereda saat dicium oleh Rania
"Sekarang kamu ganti baju ya? Malu Papa pake baju kaos gini ketemu orang-orang pebisnis, aku sengaja bawa kemeja buat kamu"
Dehan mengangguk kemudian mengambil tote bag dari tangan Rania, ia mencari kamar mandi untuk berganti bajunya. Sembari menunggu Dehan, Rania mencicipi makanan yang tersedia di sana. Seketika indra penciuman Rania menangkap aroma jagung bakar
__ADS_1
"Hueekk"
Rania merasa mual saat mencium aroma tersebut, ia yang tidak kuat akhirnya menunggu Dehan di depan pintu kamar mandi. Dehan telah selesai dan membuka pintu melihat wajah Rania yang pucat
"Kamu kenapa sayang? Kamu sakit?"
"Enggak kok, aku cuma mual aja sedikit. Tapi sekarang udah gak, mas jangan ke tempat makanan ya please?? Itu ada bau jagung bakar"
"Kenapa sama jagung bakar?"
"Aku gak suka bau nya! Pokonya kamu yang ambilkan makanan aku ya, aku gak mau ke sana"
"Iya sayangku. Tunggu di ruang tamu ya, aku ambilkan makanan kamu dulu"
Dehan bergegas menuju tempat makan untuk mengambilkan makanan serta minuman untuk Rania. Derana menggandeng tangan anak kecil perempuan lantas memperkenalkan pada Rania
"Mama, ini temen aku namanya Anna"
"OMG!! Kamu lucu bangettt!!"
Rania mengelus-elus pipi chubby Anna teman baru Derana
"Umurnya berapa tahun sayang?"
"Aku tiga tahun"
"Seumuran dong sama Derana ya, tante boleh pangku kamu gak?"
Anna mengangguk malu-malu, tapi ia mau juga. Derana yang ikut-ikutan duduk di pangkuan Rania
"Aku anaknya mami Diana sama papi Gilang"
DEG!
Rania terkejut mendengar penuturan Anna
"Hah? papi Gilang?"
"Iya aku anak papi Gilang, tante"
Rania langsung terdiam, Dehan telah selesai kemudian membawanya ke tempat Rania duduk. Ia melihat Rania tengah memangku Derana dan anak lain, Dehan ikut duduk di samping mereka.
"Hay anak bayi! Namanya siapa?"
"Aku Anna om"
"PAPA INI TEMEN BALU AKU LOH"
Kata Derana semangat, Dehan kemudian melihat raut wajah Rania yang terdiam.
"Ya sudah, kalian lanjut main ya sayang? Mama sama Papa mau makan dulu"
"Oke! Ayo Anna kita main petak umpet lagi"
Derana pergi membawa Anna ke taman bermain, Rania masih speechless dengan ucapan anak tadi. Dehan yang penasaran lalu bertanya
__ADS_1
"Itu tadi anak siapa?"
"Anak Gilang" jawabnya singkat
"HAH?? SERIUS ITU ANAK SI GILANG? SEJAK KAPAN??"
Dehan terkejut begitupun Rania yang masih shock dengan ucapan anak kecil tadi.
"Aku juga gak tau mas, tapi anak kecil tadi bilang gitu"
"HAHAHAHA"
Dehan malah tertawa dan hal itu membuat Rania merasa heran
"Kenapa ketawa?"
"Bagus! Artinya kamu udah gak bisa berharap sama Gilang lagi"
Rania malah memukul tangan Dehan, bukannya menenangkannya malah tertawa. Daripada ia berbicara lebih baik makan saja, kesal lama-lama meladeninya. Setelah mereka selesai makan Dehan yang sudah membaik menyapa rekan-rekannya di sana, Rania masih penasaran bagaimana mereka bisa menikah.
Ia pergi ke tempat bermain anak-anak lalu memanggil Anna
"Anna cantik, tante mau ketemu Mami kamu."
"Itu mami yang itu"
Katanya sambil menunjuk ke salah satu wanita cantik dengan wajah Eropa. Rania memberanikan diri bergabung dengan para wanita di sana
"Hallo! Bolehkah saya ikut di sini?"
Para wanita itu memperbolehkan Rania bergabung dengan mereka, pastinya mereka tahu yang di undang Gilang bukan orang-orang sembarangan. Jadinya mereka memperbolehkan Rania bergabung
"Kau siapa?" tanya salah satu diantara mereka.
"Perkenalkan namaku Rania Gandhita Wardhana, istri dari Dehan Kavindra Perdana."
Mereka semua mengangguk, seperti basa basi biasanya Rania juga melakukan trik itu. Diana wanita berparas khas Eropa tersebut memanggil Anna untuk makan bersama.
"Anna! Let's eat with your friends!"
"Yes Mami!"
Diana sepertinya tidak terbiasa dengan bahasa Indonesia, jadi Rania mulai membuka suara nya
"Sorry, Diana. Anna it's your daughter?" (maaf Diana, Anna itu anakmu?)
"Sure! My daughter from Gilang" (Tentu, anak ku dari Gilang)
"Did you guys married? When? I only know Gilang is single" (apa kalian menikah? kapan? setahuku Gilang itu jomblo)
"No, we're not married but we already have Anna" (tidak, kami tidak menikah tapi kami punya Anna)
Rania terdiam sejenak, ia tidak ingin lagi mengetahui lebih detail karena itu privasi orang. Lantas ia berpamitan untuk ke toilet, padahal Rania akan pergi ke tempat Dehan.
Ia melihat Dehan sedang berbincang dengan rekan-rekan bisnisnya, padahal tadi saat pergi ia terlihat kesal. Dehan bahagia saat mengetahui bahwa Gilang sudah punya anak, tentu saja itu artinya ia sudah menang untuk Rania.
__ADS_1