
"Tapi jika Rania adalah istriku, kenapa hanya dia yang tidak bisa kuingat yah? Padahal aku mengingat semua orang yang pernah kutemui dan ku kenal hanya Rania seorang yang tidak bisa"
Tanya Dehan kesal sambil mengacak-acak rambutnya, Rania yang disebelah Dehan mengusap bahu Dehan
"Mas... Kamu gak apa-apa ga inget tentang aku, selagi kita masih tinggal berdua aku akan menjadi istri yang baik tapi aku juga sedang hamil jadi tolong jaga perasaanku"
Dehan reflek mengusap rambut Rania lembut
"Rania aku memang bukan suami mu saat ini bahkan kehilangan memori tentang kita. Tapi aku ingin berusaha untuk merangkainya dan bayi ini.... Aku ingin menjadi Papa untuk anakmu"
"Anak K-I-T-A mas.. Aku tidak bisa hamil sendiri tanpamu"
Rania senang bukan main dia langsung memeluk tubuh Dehan erat-erat inilah yang ia rindukan pelukan sang suami saat istrinya hamil. Dehan juga membalasnya, yang ada dipikiran Dehan hanya bayi Rania bagaimanapun ia harus menjadi Papa untuk bayi yang dikandung oleh Rania. Meski Dehan belum tahu pasti apakah Rania istrinya atau bukan? Tapi saat Dehan menatap mata Rania ada kekuatan sayang dan cinta dalam dirinya, namun tiba-tiba hilang. Aneh memang
Rangga menarik tangan adiknya untuk keluar
"KITA PINDAH KOTA SEKARANG!"
"GAK MAU!!"
Rania meronta karena tidak ingin ikut keluarganya pindah kota ke Jakarta, bukan karena masalah atau apa Rangga di Jakarta memiliki perusahaan di sana. Sisi ain juga Rangga ingin adiknya ikut pindah apalagi setelah Dehan lupa ingatan, ditambah Rania sedang mengandung takut jika suatu hal tidak diinginkan terjadi.
"Kak.. Rania bisa jaga diri sendiri di sini, ada ayah dan bunda. Walaupun mas Dehan lagi ga sehat tapi Rania masih jadi istri sah mas Dehan"
"Hufftt... Susah juga punya adik keras kepala"
Rangga gemas dengan sifat keras kepala Rania, tapi mau bagaimana lagi ia harus percaya bahwa adiknya akan baik-baik saja.
"Ya sudah.. Kalau kamu ada apa-apa langsung hubungi kakak oke?! Nanti biar kaka yang urus si Dehan sialan!" ucap Rangga sambil mengepalkan tangannya
"Iya kak, aku akan berusaha sekuat mungkin untuk anakku dan diriku sendiri"
Rangga memeluk tubuh Rania
__ADS_1
"Jaga diri baik-baik ya adikku... I love you"
Rangga pergi duluan ke Jakarta, sedangkan Lisa dan Ibu akan packing terlebih dahulu sebelum pindah rumah. Rania juga ikut membantunya sepulang dari rumah sakit, hanya sedikit barang yang ia kemas karena Rania tidak boleh kecapekan.
"Aku akan membawa buku diary ku ke rumah Dehan.. Untuk boneka-boneka pemberian Dehan dulu, mungkin dibawa ke Jakarta"
Ucap Rania seorang diri di kamarnya, memang rumah Ibu sederhana maka dari itu Rangga pindah ke Jakarta selain disamping urusan bisnis. Ia juga telah membeli rumah mewah untuk keluarganya apalagi Rania akan memiliki anak dan mungkin kelak istrinya Lisa juga akan hamil, maka Rangga membuat halaman luas untuk anak-anak.
"RANIAAAA" panggil Ibu
Dengan segera Rania menghampiri Ibu
"Iya? Ada apa Bu?"
"Ini ada baju-baju bekas mu sewaktu kecil masih bagus, kamu mau Ibu bawa ini buat anakmu nanti?"
"Oke! Ibu akan membawa ini ke Jakarta ya, buat baju ganti anakmu atau Lisa nanti di rumah"
Ibu mengemasi baju-baju kecil ke dalam kotak, Rania juga ikut membantunya sembari membayangkan betapa lucunya jika nanti anaknya memakai baju bekas Rania. Seakan melihat masa lalu, Rania tidak ingin anaknya lahir tanpa ayah apalagi Dehan sekarang masih seperti itu
"Ibu"
"Kenapa sayang"
Rania memandang baju-baju anak sambil meneteskan air mata
"Bu, aku tidak ingin anak ku terlahir tanpa ayah sepertiku dulu.. hikss .."
__ADS_1
Ibu merangkul Rania sambil menghapus air matanya
"Ibu yakin Dehan tidak seperti itu.. Dia hanya sakit biasa, Rania anakmu akan lahir dengan ayah yang hebat"
Kata-kata Ibu untuk motivasi Rania
"Tapi bu.. Mas Dehan saja sekarang seperti itu, entah sampai kapan dia sembuh. Aku takut kedepannya mas Dehan meninggalkanku"
Rania menangis sesenggukan, Ibu memeluknya dari samping mengelus perut Rania.
"Sayang... Ibu akan mendoakan yang terbaik untuk hidupmu dan cucu Ibu, semoga Allah membalikan hati Dehan"
"Kenapa mas Dehan seperti itu? Kenapa mas Dehan harus sakit?? Kenapa? Kenapa Gladys harus hadir di duniaku?? Kenapa takdir ku menjadi buruk? Apa aku jahat? Apa aku di masa lalu menjadi orang biadab hingga semesta membalikkan kenyataannya sekarang?"
Rania terus meracau sambil menangis, Ibu sangat sakit hati mendengar penuturan Rania. Orangtua mana yang mau melihat anaknya menderita karena orang lain? Ibu memiliki hati yang lembut dan penuh kasih sayang, ingin melawan Dehan pun rasanya tidak bisa. Karena Dehan sudah menyelamatkan ekonomi keluarganya dulu saat peninggalan suami Ibu, bahkan Rania sekolah dibiayai oleh keluarga Dehan sebelum Rangga datang.
"Jangan bersedih nak.. Ibu akan senantiasa menjaga mu diwaktu apapun"
Rania memeluk Ibu juga
"Terimakasih telah menjadi Ibu yang sangat baik untuk Rania. Terimakasih Ibu... Rania belum menjadi anak yang baik, aku akan berusaha sekuat mungkin untuk anakku atau cucumu untuk saat ini"
Ibu mencium pipi Rania tanda sayangnya, Rania membalasnya juga.
Setelah selesai Rania pamit pulang ke rumah Dehan untuk membersihkan diri, karena besok suaminya sudah boleh pulang dari rumah sakit. Meskipun Rania kesal dengan Dehan tapi dia masih suaminya
"Rania! *Kau harus bertahan demi anakmu! Jangan terlalu pedulikan mas Dehan, yang terpenting bayi ini! Bayi ini harus bertahan bersama-sama*!!" batin Rania
Selama perjalanan Rania terus mengelus perutnya, meskipun ia masih mencintai Dehan tapi untuk saat ini Rania harus membaginya. Rania harus menjadi wanita kuat akan perasaannya, apalagi Gladys semakin gencar mendekati suaminya. Jika Dehan sudah keterlaluan tekadnya sudah kuat untuk berpisah dengan Dehan, dan ikut keluarganya pindah ke Jakarta.
__ADS_1