TAKDIR CINTA DERAN (Dehan Rania)

TAKDIR CINTA DERAN (Dehan Rania)
70. Candi Borobudur 2


__ADS_3

Sesampainya di Candi, Dehan menggendong Derana untuk turun dari mobil tak lupa ia juga membawa tas Rania.


"Gak usah, aku masih bisa bawa mas"


Ucap Rania


"Biarin. Kamu lagi hamil gak boleh capek-capek sayang"


Kedua tangan Dehan penuh dengan pegangan, yang kanan menggendong Derana sebelahnya lagi membawa tas Rania. Melihat itu Rania membangunkan anaknya


"Dede sayang... Udah nyampe nih, anak petualang waktunya cari harta karun"


Rania mengusap pipi Derana lembut, anak itu terbangun lalu melihat sekeliling nya.


"HOREEEE UDAH NYAMPE!! PAPA TURUNIN AKU"


Dehan menurunkan tubuh anaknya untuk berjalan kaki


"Sekarang tangan yang ini buat gandeng aku"


Kata Rania dengan nada manjanya, tentu Dehan terpikat. Ia mencium pipi Rania sambil bilang


"Nggeh, bumil cantik istriku tersayang"


Selama di Candi, mereka berfoto-foto ria dan Derana yang berlari kesana-kemari dengan riang gembira. Dehan meminta tolong pada pengunjung lain untuk mengambil foto keluarganya


"Permisi kak, boleh minta tolong but fotoin kami?"


"Oh boleh om"


Anak muda yang usianya seperti belasan tahun itu memotret keluarga kecil Dehan selama beberapa jepretan, setelah di rasa cukup Dehan mengucapkan terimakasih. Rania pun melihat-lihat kualitas foto mereka


"Lucu banget yang ini, perut aku lagi buncit hihihi"


Rania terkekeh geli melihat dirinya, Derana yang digendong Dehan juga ikut tertawa. Sungguh pemandangan keluarga cemara bukan, setelah selesai mereka beralih ke taman bermain. Rania sudah capek sekali


"Mas, aku capek.. Jalannya pelan-pelan dong"


Dehan menelfon pihak pengelola candi untuk meminjamkan kursi roda untuk Rania, selang beberapa saat datang juga


"Pak Dehan yang menelfon tadi? Ini pak kursi rodanya"


"Betul. Terimakasih ya"


Rania duduk di kursi roda, lalu Dehan mendorong nya


"Sekarang udah ga capek kan bumil?"


Tanya Dehan lembut, Rania mengangguk sambil tersenyum manis. Setelah selesai mengelilingi Candi, keluarga kecil Dehan makan siang di sebuah kedai dekat dengan objek wisata tersebut. Rania melihat-lihat menu yang tidak ia mengerti


"Mau makan apa?" kata Dehan pada Rania


Rania masih terus melihat menu


"Bingung"


Lantas Dehan mengelus perut Rania sambil bilang


"Dede bayi mau makan apa? Nanti Papa suapin ya"

__ADS_1


"Dede bayi mau makan coto, papaaa"


Jawab Rania dengan suara imut khas anak kecil


"Oke, tunggu sini aku pesen ya. Derana pasti juga mau makan soto juga"


Dehan ke meja kasir untuk memesan makanan sekaligus membayarnya, sedangkan Rania dan Derana duduk di tempatnya


"Kakak Derana tadi belajar apa aja di Candi?"


Tanya Rania pada anaknya


"Aku tadi belajar liat patung, terus juga di lubang batu nya ada patung lagi duduk sila. Kata Papa itu Dewa"


"Iya sayang... Terus apalagi"


"Dede bisa tau sekarang kalo candi itu terbuat dari batu campur pasir yakan mah?"


Rania mengangguk mengerti


"Nanti kalo adik bayi di perut Mama udah lahir, dede jangan panggil dede lagi. Derana, nanti Mama panggil kakak"


"Emang dede bayi nya kapan keluarnya?"


Pertanyaan polos Derana


"Hmmm... 4 bulan lagi sayang"


Derana nampak menautkan jari tangan nya lalu menghitung, meskipun ia belum bisa berhitung


"Masih lama ya mah, segini lagi"


"Sepuluh gini"


Kata Derana menunjukkan jari kedua tangan nya. Ia tahu bahwa setiap tangan memiliki lima jari tapi ia belum bisa menghitung dengan tepat, karena Derana masih berumur empat tahun dan di sekolah masih belajar mengenal angka serta abjad.


"Hahahaha"


Rania tertawa dengan tingkah anaknya, kemudian membenarkan jari tangannya membentuk empat jari.


"Segini sayang"


Derana mengangguk saja, tak lama kemudian Dehan sudah datang ke tempat mereka


"Kayanya seru banget nih, dede lagi ngapain?"


"Papa, kata Mama adik bayi keluar nya segini lagi"


Kata Derana menunjukkan empat jari nya ke Dehan


"Ohhh... Berarti bentar lagi dong, perut Mama aja udah besar. Nanti kita cari nama ya? Derana mau nama adiknya siapa?"


"Bingung aku"


Disaat mereka tengah berbincang-bincang tiba-tiba notifikasi handphone Dehan berbunyi, Rania inisiatif mengambilnya dan membaca pesan masuk


'Kalian tengah bahagia di atas penderitaan orang lain'


Rania tampak menautkan kedua alisnya, siapa? Jika orang iseng tidak mungkin mengirimkan pesan seperti ini.

__ADS_1


"Mas, ini nomer siapa? Kamu kenal?"


Dehan melihat ponselnya


"Nggak sayang. Dari kemarin itu aku dapet WhatsApp kaya gitu, makanya aku rada takut pegang handphone"


Rania yang percaya diri membalas pesan tersebut, lalu meletakkan ponsel suaminya kembali.


"Kau pikir aku takut dengan pesan seperti itu, dulu saja aku pernah menjadi korban pelet"


"Hah?! Kapan?" tanya Dehan penasaran


"Waktu kamu sama Gladys... Udahlah, sekarang kita fokus liburan aja. Ada anak yang harus diperhatikan"


Mereka kemudian melanjutkan makan siang di dekat Candi Borobudur sambil mendengarkan radio kecil dari suara Derana, anak itu sedang aktif-aktif nya berbicara dan mengeksplore berbagai hal disekitarnya.


...****************...


Setelah selesai makan, Derana masih ingin berlama-lama di Candi. Untungnya saja Dehan masih kuat, jadi ia masih bisa mendorong kursi roda Rania.


"Sayang, sepertinya kita harus memperkerjakan suster untuk anak-anak"


Saran Dehan kepada Rania


"Kenapa? Apa aku kurang menjaga Derana?"


"Bukan, bukan gitu... Kamu lagi hamil, apalagi nanti punya anak bayi. Aku gak mau kamu terlalu capek sayang"


"Mas, aku mau jadi peran Ibu buat anak-anak kita. Kamu gak usah khawatir ya? Kerjaan rumah dan anak biar aku yang handle"


Rania tidak mau ada asisten rumah tangga ataupun suster untuk melakukan pekerjaan rumahnya.


"Kamu yakin sayang?? Kalau suatu saat kamu capek, jangan sungkan bilang aku.. Masalah uang jangan khawatir, aku bisa bayar berapapun yang kamu mau"


Kata Dehan meyakinkan Rania


"YAKIN MAAASS... Aku kalo lagi capek juga kan ada orang yang kamu suruh di rumah buat bantuin aku beres² rumah"


"Tapi kan itu sementara doang sayang, kamu lahiran nanti orangnya udah ga kerja di rumah kita lagi. Aku mau nya adain art aja gitu buat kamu"


Ditengah-tengah perdebatan suami istri yang mempermasalahkan asisten rumah tangga, Derana berteriak di bawah sana.


"MAMAAAAAAA PAPAPAAAA HUWAAAAAAA"


Ternyata anaknya terjatuh dari anak tangga yang ada di sekitar candi tersebut.


"Kenapa sayang?? Apa yang sakitt??"


Derana menunjukkan luka di lututnya yang berdarah tapi tidak parah, Dehan membasahinya dengan air mineral kemasan yang dibeli di warung tadi. Rania mencari plester di tasnya kemudian memberikan ke Dehan


"Mama bawa plester, nih pakein pah"


Dehan mengambil plester dari istrinya, lantas memasangnya di luka Derana.


"Aaawww sakiitt.. Papa pelan-pelan"


Katanya sambil menangis, Rania hanya bisa mengelus kepala Derana dari kursi roda. Setelah selesai Dehan berkata


"Udah, Derana jagoan kan? Lukanya pasti sembuh kok.. Sekarang kita pulang ke hotel ya? Mama udah kecapean tuh"

__ADS_1


Derana mengangguk mengerti, akhirnya mereka sekeluarga memutuskan untuk pulang ke hotel guna berisitirahat setelah seharian berkeliling di Candi Borobudur.


__ADS_2