TAKDIR CINTA DERAN (Dehan Rania)

TAKDIR CINTA DERAN (Dehan Rania)
6. Shelly sahabatku


__ADS_3

Tak terasa liburan kami sudah selesai dan kembali ke Bandung untuk melanjutkan rutinitas kehidupan seperti biasanya. Jujur saja aku tidak merasakan vibe liburan, hanya di awal-awal sebelum aku menemukan pesan di ponsel Dehan.


"AARGGH MENGINGATNYA MEMBUAT DIRIKU KESAL SENDIRI!!!!"


Aku menutup data-data yang ada di ruang guru lalu pergi keluar melihat anak-anak kecil sedang berolahraga sambil bernyanyi khas TK. Karena ini hari Jumat, jadi sudah jadwalnya mereka berolahraga bersama. Aku juga ingin ikut bergabung bersama mengikuti instruksi dari guru di depan sambil sesekali membantu anak-anak yang kesusahan menggerakkan tubuhnya.


"Bunda... Aku mau pipis"


Tiba-tiba saja ada seorang anak kecil perempuan menarik bajuku sambil menahan buang air kecil. Aku sebagai guru yang baik hati sudah kewajiban ku, setiap guru di sekolah ini dipanggil dengan sebutan Bunda karena agar siswa dan guru dekat. Anak ini menyelesaikan urusannya di kamar mandi karna dia belum bisa membersihkan diri sendiri maka aku membantunya dan memakaikan celananya.


"Sudah selesai" ucapku lembut sambil menatap wajah lucunya


"Terimakasih bunda"


"Sama-sama.. Oh ya, siapa namamu?"


Kemudian anak itu menunjukkan papan namanya yang ada di seragam olahraga sebelah kiri.


"Sarah ? Sepertinya aku baru pertamakali melihatmu. Kamu baru pindah ya?" tanyaku polos


"Pindah itu apa? Aku gak tau" jawabnya polos


Aku sedikit tertawa karena gemas dengan kepolosan anak ini.


"Pindah itu kamu tidur di tempat lain dalam waktu yang lama"


"Oh iya! Aku baru pindah ke sini sama Mama"


Aku hanya mengangguk mengerti dan aku juga mengenalkan namaku pada Sara, kemudian kami berjalan bersama sambil bergandengan tangan ke aula untuk melanjutkan olahraga pagi.

__ADS_1


Setalah acara olahraga selesai. Anak-anak di bolehkan untuk pulang ke rumah masing-masing, sedangkan aku masih di sekolah sebentar untuk menilai hasil gambaran murid-murid ku yang kreatif. Meskipun aku tidak mengerti dengan gambaran mereka tapi aku memakluminya karna mereka masih polos dan dunia nya masih penuh imajinasi ada yang menggambar satu garis, coret-coretan berbagai warna, gambar monster, mobil bahkan ada yang menggambar princess meskipun berantakan.


Tapi hal itu justru membuat mood ku bahagia, bahkan aku tak henti-hentinya tertawa karena gambaran mereka yang terbilang unik dan lucu. Maka dari itu cita-cita ku ingin menjadi guru anak-anak kecil, di samping mereka menggemaskan dan mereka juga memiliki bakat-bakat yang unik.


Tiga puluh menit aku mengkoreksi gambaran mereka dan akhirnya selesai juga. Aku sedikit merenggangkan badanku kemudian membereskan meja kerja, lalu keluar ruangan guru tak lupa menguncinya karna aku yang terakhir di sini. Sambil berjalan ke parkiran mobil, aku melihat anak kecil sedang duduk di halte bus sendirian sambil menatap jalanan ke kanan dan ke kiri.


Kemudian aku menghampirinya, ternyata itu adalah Sara sedang menunggu jemputan orangtuanya.


"Sara ? Kamu sendirian aja nak?"


"Bunda Raniaaa!!!"


Sara turun dari kursi kemudian memeluk ku


"Bunda aku takut sendirian nungguin Mama di sini" rengek nya manja padaku


Hingga beberapa menit kemudian ibunda Sara membunyikan kelakson di hadapan kami.


"Mamaa!!"


Betapa kagetnya aku saat melihat wanita yang berada di dalam mobil itu Shelly sahabatku saat SMP. Dia keluar mobil dan menghampiri kami, lalu aku dan Shelly juga berpelukan.


"Astaga Rania!! Kau semakin cantik dan seksi, pantas saja dulu kau menjadi idaman para kaka kelas haha" ucap Shelly senang saat melihatku


"Hahaha bisa aja. Kau juga ternyata sudah punya anak yang lucu ya, kenapa tidak bilang pindah ke Bandung ?"


"Aku ikut suamiku bertugas di sini, dan kebetulan dia mendapatkan kota kelahiran ku. Bagaimana kabar kalian?" jawab Shelly bahagia


"Aku dan suamiku baik-baik saja hanya aku belum bisa memiliki anak"

__ADS_1


Jujur saja, aku iri melihat Shelly yang sudah memiliki anak dan suami yang baik tidak seperti Dehan. Jika aku memikirkannya lagi yang ada akan sakit hati.


"Tenang saja! Aku akan membawamu ke suatu tempat"


"Kemana?" tanyaku bingung


"Kau bawa mobil kan? Ikuti saja mobilku dari belakang oke?! Sekalian kita reunian"


Aku mengerti dan mengikuti arah mobil Shelly, tapi lama kelamaan mobil kami menjauh dari pusat kota dan masuk ke perkampungan. Tidak, aku tidak ingin curiga karena sebelumnya aku bilang ingin hamil dan mungkin Shelly akan membawaku ke tabib-tabib itu.


Setelah itu kami berhenti di pojok perkampungan dengan rumah gubuk bambu, namun di luar sudah banyak yang mengantri untuk berobat dan kebanyakan dari mereka itu perempuan semuanya.


"Nah, Rania ini tempat yang kemarin aku bilang. Tabib di sini yang membuatku hamil dan lahirlah anak ini" sambil melirik ke arah Sara yang sedang terlelap tidur di gendongan Shelly


Aku mengangguk saja dan menunggu untuk dipanggil oleh tabib, sambil menunggu aku mengajak Sara bermain di pekarangan rumahnya yang penuh dengan bunga-bunga indah. Kami merangkainya menjadi cincin, kalung, dan juga gelang hingga namaku dipanggil untuk masuk ke dalam rumah tabib.


Shelly menunggu di luar sambil menguatkan diriku untuk berjuang, aku memeluknya dan masuk ke dalam. Aku melihat tabib itu sedang menumbuk akar-akaran dan tumbuhan lainnya, aneh sekali pikirku tapi aku tidak ingin berkata apapun lalu berbaring mengikuti arahan tabib tadi.


"Siapa namamu neng geulis?" tanyanya


"Aku... Rania Gandhita Wardhana, umurku 23 tahun dan sudah menikah selama dua tahun tapi belum ada momongan. Aku sudah mencoba berbagai cara medis tapi tidak ada yang berhasil sama sekali." kataku dengan memperjelas permasalahan diri ini


Tabib wanita itu mengelus perutku dengan minyak berbau aneh dan aku sedikit mual mencium aromanya, sambil memijat perut dan rahim ku dia membaca doa-doa yang tidak ku mengerti. Setelah itu aku di suruh duduk lalu meminum jamu tradisional buatannya.


"Tenang saja, mbah bukan dukun ilmu hitam. Aku hanya meminta izin Allah SWT untuk menurunkan anak padamu dan merangsang rahim untuk segera hamil"


Ucapan tabib tadi membuatku merasa tenang, karena aku tidak ingin berbuat maksiat seperti percaya pada dukun/sejenisnya. Setelah selesai dia memberikanku surat-surat Al-Qur'an untuk dibaca selesai sholat dan jamu tradisional buatannya untuk pengobatan dalam. Aku mengerti dan segera keluar rumah itu tak lupa mengajak Shelly yang sudah menunggu di luar untuk pulang, karena lumayan juga perjalanan ke sini menempuh waktu sekitar 2 jam.


Kami pulang ke rumah masing-masing sebelumnya Shelly juga memberitahukan rumahnya padaku, dan kami berpisah di lampu merah karena berbeda arah.

__ADS_1


__ADS_2