
Dehan benar-benar memenuhi keinginan kakak iparnya itu malam ini, dia mengajaknya untuk mentraktir makan malam di restoran mewah. Rania dan Lisa tampak kompak, tidak ada kata jaim. Tapi beda cerita dengan Dehan, jika ia melihat Lisa dia merasa masih canggung begitupun dengan Lisa
Untungnya saja, Rania wanita yang baik dia tidak peduli masa lalu keduanya dan berusaha mengakrabkan keduanya.
"Kak, mas Dehan kan yang menang kenapa dia yang harus membayar makanan kita semua?"
Tanya Rania heran
"Aku ingin melihat seberapa besarnya dia meminta restuku"
Rania sedikit kesal dengan perlakuan kakak nya yang semena-mena terhadap Dehan, bagaimanapun Dehan itu suami dari adiknya.
"Tidak apa-apa sayang... Aku sudah menganggap kak Rangga sebagai keluarga"
Jawab Dehan membuat Rania menangkup lengan suaminya.
"Oh ya, mas sama Lisa udah baikan kan? Kalian harus move on sama masa lalu. Sekarang coba saling tatap-tatapan"
Dehan enggan melakukan itu, lantas Rania bangkit dari kursinya dan menghadapkan Lisa ke wajah Dehan tentunya kepala Dehan kembali ditahan oleh Rania. Mereka saling menatap mata selama sepuluh menit lebih, baik Lisa maupun Dehan tidak ada perasaan lebih sekarang.
Rania menelisik secara seksama pada mata keduanya, apakah ada perubahan bola mata melebar atau tidak. Katanya kalau bola mata kita melebar tandanya kita menyukai seseorang itu, tapi kali ini tak bersaksi untuk Lisa maupun Dehan.
Setelah itu Rania memalingkan wajah Dehan ke matanya, Dehan ternyata melebarkan bola matanya sambil tersenyum tak lupa wajah Dehan juga memerah karena malu.
"Sudah terbukti siapa yang aku cintai saat ini kan?" ujar Dehan sambil menaik turunkan alisnya
Rania tak menggubris perkataan Dehan karena dia juga malu telah melakukan penelitian itu terhadap kedua orang yang di hadapannya.
"Sudah-sudah ayo makan! Keburu makanannya dingin!"
Rangga membuka suara agar mereka tidak merasa canggung. Setelah selesai makan malam, di parkiran mobil tiba-tiba saja mesin mobil Rangga tidak bisa menyala.
"Kenapa kak? Aki nya abis atau mesinnya yang bermasalah?" tanya Dehan penasaran
"Coba kau kemari, perbaiki ini"
Dehan mencoba menghubungi nomor bengkel mobil, tapi Rangga memberhentikannya
"Kau coba dulu Dehan.. Jangan jadi pria manja masa adikku akan dijaga oleh suami yang tidak bisa apa-apa"
Jujur saja, Dehan sangat tidak suka diremehkan orang dan ucapan Rangga barusan membuat Dehan naik pitam.
"Awas kak biar aku yang membetulkannya"
Rania serta Lisa baru keluar dari restoran untuk menyusul para lelaki, tapi Rania malah melihat Dehan sedang membenarkan mobil kakaknya.
"Ada apa?" tanya Lisa
"Sayang mobil kita tidak bisa menyala, jadi aku menyuruh Dehan untuk membenarkannya"
Rania mendekat ke arah Dehan
"Mas Dehan... Sudah malam, kenapa ga telfon bengkel aja?"
"Aku merasa tertantang sayang"
Jawaban Dehan sudah bisa ditebak oleh Rania, bahwa kakaknya pasti yang menyuruh Dehan untuk membetulkan mobil.
__ADS_1
"Mas Rangga, kasian kali Dehan. Bantuin gih!"
Lisa menyuruh Rangga untuk membantu Dehan tapi Rangga menolak dengan alasan takut kesetrum. Rania tak habis pikir dengan pola pikir kakaknya, bagaimana bisa dia menyuruh mas Dehan yang notabenenya tidak mengerti tentang mesin.
"Lisa, Rania kalian berdua pulang saja pakai mobil sewaan Dehan. Ini sudah malam, tidak baik wanita di luar rumah"
Rania menggelengkan kepalanya tanda tidak mau dia masih ingin menemani suaminya di sini, tapi Dehan bersikeras untuk menuruti perkataan kak Rangga. Mau tak mau Rania menuruti perintah Dehan padahal ia sangat ingin menemani tapi ini sudah malam.
Kini tersisa Dehan dan Rangga saja di parkiran mobil
"Jika mobil ku tidak bisa menyala, aku akan menunggunya sampai pagi. Aku masuk dulu ya, semoga sukses!"
Rangga masuk ke dalam mobil untuk tertidur sementara Dehan dia masih mengutak-atik mesin mobil, meskipun dia tidak mengerti sesekali Dehan membuka tutorial di YouTube. Terhitung sudah berapa jam dia membenarkan mobil Rangga, akhirnya bisa menyala juga namun saat ia lihat jam di ponsel sudah sekitar jam dua dini hari. Itu artinya Dehan sudah bergelut selama enam jam.
Karena mengantuk dan lelah Dehan masuk ke dalam mobil, dia melihat kak Rangga sedang terlelap tidur.
"Kak.. Aku akan membuktikan bahwa aku sangat pantas dengan Rania"
Setelah berucap seperti itu Dehan pun ikut terlelap dalam tidurnya.
Rania bangun dari tidurnya kemudian bergegas untuk solat subuh setelah itu mandi dan turun ke dapur untuk memasak. Malam ini Rania menginap di rumah mewah Lisa, meskipun begitu Rania tidak mau merepotkan Lisa meskipun ada banyak pembantu di rumah.
"Aduuhh non... Bibi merasa bersalah, telah merepotkan tamu nyonya Lisa"
"Ga apa-apa kok bi, aku lagi buat sarapan buat kalian dan bekal suamiku"
Meskipun Rania tidak jago masak tapi setidaknya dia belajar, akhir-akhir ini Rania senang membuka tutorial masakan dari mulai Indonesia hingga luar negeri. Rania ingin bisa memasak makanan yang enak agar mas Dehan selalu sehat.
Di tengah acara memasaknya, Lisa turun dari tangga sambil menguap sesekali dia juga mengucek mata
"Good morning, Rania kamu ngapain sih masak? Udah tinggal makan aja"
"Aku gak enak jadi tamu yang kerjaannya kaya ratu, itu kan ga sopan Lis"
Jawaban Rania membuat Lisa kagum. Pantas saja Dehan tergila-gila pada pesona Rania, ternyata selain sempurna fisik di juga memiliki attitude yang baik.
__ADS_1
Setelah selesai masak Rania menyajikan nasi gorengnya kepada Lisa, tidak bohong masakan Rania enak juga.
"Enak banget! Aku ga bohong!"
Pujian dari Lisa membuat Rania merasa bahagia, dia juga ikut sarapan dan ternyata rasanya tidak sia-sia. Setelah itu Rania memasukkan nasi goreng spesialnya ke dalam bekal untuk Rangga dan Dehan, Rania pergi tanpa Lisa karena Lisa harus bekerja pagi ini.
Saat sampai di parkiran mobil kak Rangga terlihat tertutup, dia melihat di kaca mobil ternyata kedua pria itu tengah tertidur pulas. Rania mengetuk jendela dengan kencang hingga membuat Dehan terbangun.
"Sayang... Selamat pagi" ucap suara berat Dehan
"Pagi juga mas Dehan, aku bawa nasi goreng buat kalian sarapan"
Dehan bangun dari kursi kemudian berdiri di samping mobil, Rania menyuruh Dehan untuk duduk di bebatuan taman tak jauh dari mobil Rangga. Ia mencuci wajahnya sekilas agar segar
"Semalam beres jam berapa mas? Matamu terlihat mengantuk"
Rania sangat khawatir terhadap Dehan, awas saja jika kakaknya nanti bangun akan dia hajar.
"Jam dua. Tapi mobilnya udah nyala kok, kita tinggal pulang aja"
"Kenapa sih mas mau aja di suruh kak Rangga??"
"Demi restu" jawab Dehan sambil mengunyah nasi goreng
"Restu apa? Sudah jelas-jelas kita sah sebagai suami istri, memang dasarnya saja kak Rangga ingin mengerjai mas!"
Rania sangat kesal dengan perlakuan kakak terhadap suaminya
"Tidak apa-apa sayang. Aku tak suka diremehkan orang, jadi aku berusaha membuktikannya bahwa aku bisa! Ngomong-ngomong nasi goreng mu enak juga"
__ADS_1
Wanita itu yang tadinya marah seketika berubah menjadi baik karna masakannya dipuji oleh Dehan.