TAKDIR CINTA DERAN (Dehan Rania)

TAKDIR CINTA DERAN (Dehan Rania)
20. Kak Rangga dan Lisa


__ADS_3

Rangga, Lisa, Dehan, Rania dan ibu sedang berbincang-bincang di ruang tamu. Mereka semua tampak bahagia dengan kehadiran Rangga, apalagi Ibu yang selalu ingin di samping Rangga maklum sudah lama tidak bertemu.


"Ibu, aku dan Lisa ke sini ingin meminta restu untuk menikah. Tenang saja kami tidak akan meninggalkan Ibu sendirian lagi, jika ibu mau boleh kok tinggal bersama kita" ucap Rangga


Ibu mengelus pundak lebar Rangga dengan lembut


"Nak.. Lebih baik kalian tinggal di sini saja, temani Ibu bersama Rania dan Dehan"


"Bagaimana Lisa? Kau mau tinggal bersama Ibu?" tanya Rangga kepada Lisa


Lisa mengangguk tanda setuju, lagipula kedua orangtua Lisa sudah pindah ke Amerika jadi dia tidak ada siapa-siapa di Indonesia. Hanya Rangga dan perusahaan saja yang ia miliki


"Aku tidak keberatan dengan keberadaan Ibu, lagipula Ibu juga akan menjadi ibu ku. Pasti aku dan Rania akan sama-sama merawat nya"


Ibu tersenyum bahagia karena telah memiliki anak dan menantu yang sangat berbakti. Setelah berbincang-bincang dengan Ibu, mereka semua merencanakan liburan ke pantai bersama. Rania serta Dehan ikut menginap di rumah Ibu kali ini, sebelumnya mereka pulang sebentar untuk membawa perlengkapan liburan.




Keesokan harinya, mereka berangkat dengan dua mobil beriringan menuju pantai di daerah Anyer Banten. Rania selama perjalanan tertidur pulas, setelah menempuh perjalanan jauh akhirnya mereka sampai juga di villa sebelah pantai



"Sayang... Bangun cantik, kita udah sampai"



Kata Dehan sambil mengelus rambut Rania sambil mencium pipi sekilas. Rania bangun dari tidur langsung melihat ke sekeliling, dia tersadar lalu mendekat ke Lisa dan Ibu.



"Rania, baru bangun tidur?" tanya Lisa



Rania mengucek matanya sambil mengangguk, kemudian mereka masuk ke dalam villa. Ketika semua orang sedang beristirahat, tapi Rania malah berlari ke pantai seperti anak kecil yang sudah lama tidak jalan-jalan. Dehan tersenyum melihat tingkah laku istrinya dia menyusul Rania mengejarnya untuk memeluk, Rania tertawa lepas saat Dehan meluknya.



"Maaassss hahahaha... Gelii iiiihhhh"



Dehan terus menggelitik pinggang Rania dengan manja, mereka berdua saling tertawa. Sesekali Rania berusaha kabur dari Dehan tapi dia selalu tertangkap oleh Dehan.



"Jangan pergi dariku Rania... Aku akan terus mendekap erat tubuhmu seperti ini"



Dehan memeluk tubuh Rania dari belakang, karena Rania merasa nyaman dia membiarkan suaminya itu untuk bermanjaan.



"Mas Dehan, aku juga tidak akan pergi lagi. Aku akan berusaha keras untuk hamil dan melahirkan anak-anak lucu untukmu"



Ucap Rania sesekali meneteskan air matanya, Dehan yang peka langsung membalikkan tubuh untuk melihat Rania.



"Jangan emosional begini, aku sudah tidak mempermasalahkan anak lagi. Mas sudah jatuh cinta padamu Rania, yang aku pedulikan saat ini adalah dirimu."



Dehan menghapus air Rania kemudian kedua tangannya menangkup pipi Rania. Wanita itu menatap wajah suaminya, dengan desiran suara pantai di tambah suasana yang sepi membuat Dehan tertarik untuk mencium bibir Rania hingga merekapun menyatukan bibir. Baik keduanya saling menikmati keindahan ini, Dehan benar-benar dimabuk cinta oleh Rania begitupun Rania yang terus berambisi untuk hamil.



Rania mendorong tubuh Dehan, dengan nakalnya Rania berlari menuju ke dalam kamar villa sambil menggoda Dehan untuk mengikutinya. Tentu saja Dehan tergoda, dia sudah tahu apa yang dimaksud oleh istrinya itu. Rania membawa Dehan masuk kamar kemudian Dehan menguncinya dan terjadilah hal yang membuat mereka berdua berkeringat, tidak usah aneh dengan hal seperti ini ambisi Rania adalah kehamilan. Jadi mereka akan terus melakukannya tanpa lelah dan bosan.



Setelah selesai Rania keluar kamar dan melihat Ibu, Lisa, dan perawat Ibu sudah ada di sana sedang memasak untuk makan malam. Rania bergabung dengan mereka


__ADS_1


"Ehemmm.. Sepertinya ada yang sudah melakukan ritual" lontar Lisa



Semua wanita di dapur hanya tersenyum melihat ke arah Rania, Rania yang malu hanya bisa mendudukkan kepalanya.



"Lisa jangan seperti itu. Nanti kau juga akan merasakannya dengan kak Rangga" jawab Rania



"Tapi aku mungkin tidak berisik sepertimu Ran"



Rania langsung melihat ke Lisa, lalu bertanya



"Memang suaraku terdengar kencang sampai keluar?"



Lisa mengangguk sambil memotong wortel, Rania semakin malu dengan perkataan Lisa setelah itu Ibu mendekatinya



"Tidak apa-apa sayang, setiap wanita itu berbeda-beda reaksinya. Jangan ambil hati ucapan Lisa yang penting kalian melakukan itu sudah sah jadi tidak ada yang dipermasalahkan."



Rania memeluk tubuh ibu di kursi roda, kemudian ibu juga membalasnya



"Ibu aku melakukan ini karena ingin segera hamil"



Ibu yang mengerti hanya mengangguk saja




Rania kemudian bergegas mandi, dan melaksanakan solat magrib berjamaah di musholla villa. Ketika sudah selesai sholat, mereka bbq bersama sakalian makan masakan yang tadi Lisa buat dengan Ibu. Memang Lisa pintar masak dibandingkan Rania, tapi di mata Dehan tetaplah Rania yang terbaik.



"Ibu, minggu depan Dehan adakan acara pertunangan kak Rangga dan Lisa di acara anniversary pernikahan. Aku menggabungkan dua acara penting ini agar meriah, Ibu harus datang ya?" tanya Dehan di sela-sela dinner



"Tentu saja Ibu akan datang!!" jawab Ibu girang



Setelah selesai makan malam, mereka semua masuk ke kamar yang telah di sediakan. Tapi tidak untuk Rania dan Dehan, pasangan suami-istri itu bersantai di balkon kamar sambil berbaring menatap langit yang penuh bintang dan bulan.



"Rania, aku sangat ingin menjadi bulan malam ini"



Dehan berbicara sambil wajahnya lihat ke langit, Rania melihat ke samping untuk menatap Dehan



"Kenapa?"



"Aku ingin selalu dilihat mu saat malam hari, menerangi malam mu dan menjadi yang paling menonjol di antara orang-orang yang menyukaimu" jawab Dehan dengan tulus



"Mas.. Aku juga pengen jadi komputer"

__ADS_1



Dehan sekarang yang melihat ke Rania



"Kenapa sayang?"



"Aku mau selalu dilihat mas, diperhatikan dan selalu di sayang sama mas Dehan setiap hari"



Jawaban Rania begitu polos membuat Dehan gemas sendiri untuk mencubit pipi chubby Rania.



"Hahaha.. Ga nyambung Rania, aku bahas langit kamu malah bahas komputer. Padahal aku lagi gombalin kamu"



Rania memukul dada bidang Dehan tidak terlalu keras hanya dikit



"Iiihh, kan sama aja aku juga lagi gombalin mas tau!"



"Iya sayang... Aku mau tanya deh sama kamu, kalo kita punya anak kamu maunya berapa?"



Rania sedikit berpikir sejenak lalu melihat wajah Dehan



"Lima!"



Tentu Dehan langsung melotot mendengar penuturan dari Rania



"Lima?? Ga kebanyakan sayang?"



Rania menggelengkan kepalanya seraya berkata



"Nggak. Justru aku seneng banget kalo kita punya banyak anak, apalagi aku seorang guru TK dan aku gak pernah keberatan ngurus banyak anak"



Dehan hanya tersenyum



"Kalau begitu aku harus kerja ekstra untuk membuat mu hamil"



Rania yang kaget langsung menampar pipi Dehan



"Jangan mas, aku lagi gak mood. Waktu siang kan udah, kita santai-santai aja ya malam ini? Aku mau bermesraan"



Dehan tidak memaksa Rania untuk bercinta, justru dia hanya bilang seperti itu bukan untuk mengajaknya. Mereka menghabiskan malam ini untuk bercanda gurau, sesekali Dehan juga mencium bibir Rania tapi setelah itu mereka berbincang lagi tentang masa depan atau apapun itu sudah sangat terbuka. Setelah Rania merasa mengantuk dan tertidur Dehan menggendong tubuhnya untuk di baringkan di kasur, begitupun dengan Dehan yang ikut terlelap di sebelah Rania.



"Aku sangat mencintaimu Rania Gandhita Wardhana. Jadilah wanitaku selamanya dan aku tidak akan membiarkan mu dengan pria lain"

__ADS_1



Ucap Dehan sambil mengecup kening Rania sesaat kemudian mereka terlelap bersama.


__ADS_2