
Sepuluh menit Rania masih menatap layar ponselnya dengan Dehan yang memeluknya dari belakang. Ia menggigit kukunya karna khawatir, untung saja Derana sudah tidur mungkin anak itu capek setelah seharian bermain di pantai.
"Tidur yuk udah malem" ajak Dehan berbisik di telinga Rania
"Gak mau, aku masih nungguin Lisa"
Akhirnya panggilan Rania di angkat oleh Lisa
"*Hallo Lis! Lis Ibu kenapa?"
"Rann... Ibu komaaa... huwaaaaaaa"
"Lis, besok aku ke sana ya. Share lock RS nya*"
Rania langsung to the point meskipun setelah itu dia menangis di pelukan Dehan. Dehan hanya bisa menenangkan istrinya itu mengelus rambut coklat Rania
"Besok kita ke rumah sakit ya sayang, jangan nangis... Aku yakin Ibu bentar lagi sembuh, sekarang kita tidur yuk"
Rania hanya mengangguk, Dehan menghapus air mata Rania kemudian mencium bibirnya lembut. Semakin lama mereka berdua terbawa suasana, namun Rania malah mendorong tubuh Dehan.
"Maaf mas, aku lagi gak mood"
Dehan yang mengerti isi hati Rania langsung tersenyum
"Iya sayang aku ngerti kok"
Gagal sudah rencana nya, padahal Dehan sudah memesan kamar dengan connecting room. Uang habis keinginan pun tak tercapai, dengan wajah senyum terpaksa ia tidak ingin diketahui istrinya.
"Besok aja ya mas, sekarang aku pengen tenangkan pikiran"
Rania rebahan di samping Derana, sebelum menutup matanya ia mengecup pipi Dehan sekilas. Sehingga mereka bertiga tertidur pulas dalam waktu singkat.
Jam 3 pagi Rania terbangun dari tidurnya, ia tahu semalam suaminya terlihat kecewa apalagi Dehan sudah memesan kamar hotel yang mahal. Rania bergegas ke kamar mandi berganti baju menggunakan lingerie, setelah itu ia bercermin.
"Wow! Pantas saja Dehan senang bermain denganku"
Rania memperhatikan tubuhnya yang berisi namun langsing, ia ingat sekali dulu sebelum ada Derana pernah menjadi penari di Jogja.
"Pantas saja aku ditunjuk sebagai guru tari waktu itu, ternyata aku baru sadar kalau tubuh ku sangat cantik"
Bagi Rania semua wanita harus percaya diri dengan tubuhnya sendiri, agar aura cantik terpancar dalam dirinya. Begitupun Rania yang menanamkan motto itu sehingga banyak pria yang mendekatinya meskipun ia telah memiliki anak dan suami, namun di hati nya tetap ada Dehan.
Setelah selesai berhias diri, Rania mencari kamar connecting room yang berada di dekat meja TV. Ia mulai masuk dan terkejut ternyata Dehan telah merias kamar ini dengan bunga mawar, Rania bergegas membangunkan Dehan.
"Mas ayo bangun... Katanya mau honeymoon"
Katanya sambil menepuk-nepuk pipi Dehan perlahan, Dehan pun membuka matanya perlahan.
"Hmmm?? Ada apa sayang? Hoaammm"
Dehan masih setengah sadar sedangkan Rania sudah memakai lingerie transparan, ia menggoda Dehan akan tetapi suaminya masih setengah sadar. Sehingga beberapa detik kemudian Dehan tersadar bahwa Rania sudah terlihat seksi di matanya.
"AYO KITA BUAT ADIK UNTUK DERANA"
Dehan memeluk Rania untuk tertidur tapi ia baru sadar ternyata ada Derana di sana
"Jangan di sini di tempat lain"
Dehan baru ingat kemudian menggendong tubuh Rania ke kamar connecting room, sehingga terjadilah peristiwa perang kasur.
Jam menunjukkan pukul 5 dini hari, Rania telah selesai memenuhi kebutuhan biologis suaminya. Lantas ia bergegas ke kamar mandi untuk mandi besar, disusul dengan Dehan. Setelah itu, mereka berdua melaksanakan sholat subuh.
"Makasih istriku tersayang, telah menjadi istri dan ibu yang baik untukku serta Derana"
Ucap Dehan sambil mencium kening Rania, wanita itu hanya tersenyum manis pada Dehan. Dehan yang gemas malah mencubit pipi chubby Rania
"Aku mencintaimu, jangan khawatir dengan Ibu kita minta pertolongan pada Allah SWT ya sayang"
__ADS_1
Di rumah sakit Lisa daritadi masih memantau perkembangan Ibu, Rangga juga ada di situ.
"Sudahlah kamu pulang sayang, biar aku yang jaga Ibu"
Lisa tidak ingin meninggalkan RS padahal Ralis di rumah sendirian meskipun hanya ada baby sitter nya.
"Aku mau di sini temenin Ibu"
"Ga usah sayang, nanti juga Rania datang kok sebentar lagi"
Tak ada balasan dari Lisa, sehingga beberapa jam kemudian Rania menghubungi Lisa bahwa mereka sebentar lagi akan sampai di RS.
Rania turun dari mobil bersama Dehan yang menggendong Derana, anak itu daritadi tertidur pulas selama perjalanan sehingga membuat tubuh mungilnya harus mengumpulkan nyawa sembari digendong Dehan.
"Papa emang siapa yang sakit?" tanya nya
"Nenek sakit, kita jenguk nenek ya sayang"
Derana mengangguk sambil menguap, mereka bertiga memasuki rumah sakit. Tapi entah kenapa indra penciuman Rania merasa mual ingin muntah saat mencium bau rumah sakit.
"Sayang kamu kenapa?" tanya Dehan
"Aku mabok kayanya tadi, ini bau banget rumah sakitnya. Cepetan mas kita harus ketemu Ibu."
Dehan menyangka mungkin saja Rania mabuk kendaraan karna tadi memang Dehan membawanya ngebut, mereka sampai juga di ruangan Ibu. Rania mengetuk pintu lalu masuk
"Ibuuuu"
Panggilannya sambil memeluk tubuh Ibu lengkap dengan selang-selang yang menempel pada tubuhnya.
"Ibu kenapa ga bilang ke Rania kalau Ibu sakit? Tau gitu aku ga pulang ke Bandung kemarin"
Rania menangis, begitupun dengan Derana yang mengusap kepala Rania.
"Mama jangan nangis, nenek lagi bobok nanti bangun" ucapnya polos
__ADS_1
Rania yang sadar langsung mengambil Derana dari gendongan Dehan, ia kemudian bilang bahwa neneknya sedang sakit. Lisa juga ada di situ membantu menenangkan Rania, Dehan dan Rangga hanya menonton saja.
"Sudah ya sekarang kita gantian shift. Dehan Rania, kalian jaga Ibu dulu. Kita dari semalem belum pulang ke rumah "
"Iya kak, makasih ya udah jagain Ibu. Aku juga mau di sini dulu sampe malem paling"
"Rania, aku pulang dulu ya Ralis juga kayanya butuh aku. Derana mau ikut ga? Kalo ada apa-apa telfon aja oke?"
Rania mengangguk setuju, namun Derana ingin ikut dengan Lisa
"Tante aku mau ikut ketemu Lalis"
"Oalah... Ayok sayang, daripada di sini kamu kesel ya"
Derana langsung digendong oleh Lisa, mereka telah keluar dari kamar rawat inap Ibu. Hanya meninggalkan Dehan Rania dan Ibu di dalam sini, Rania daritadi merasa mual tapi ia sebisa mungkin harus ditahan agar Dehan tidak khawatir.
"Sayang kamu mau sarapan gak? Daritadi kamu belum sarapan ini udah siang loh"
Tanya Dehan lembut
"Aku laper sih, tapi gak mau nasi mas"
"Ya udah, aku turun ke bawah dulu ya cari roti atau supermarket gitu buat beli makanan kamu."
Belum Dehan berangkat tiba-tiba Rania menginginkan tahu gejrot yang pedas.
"Mas! Aku mau tahu gejrot yang pedas bangettt"
"Iya sayang tapi kamu belum makan nasi gimana dong?"
"Kamu beli roti aja sama tahu gejrot, minumnya aku mau kopi cappucino dingin ya"
"Makanan berat nya apalagi?"
"cemilan aja deh aku gak mau nasi"
__ADS_1
Dahan hanya mengangguk mengerti, kemudian dia segera bergegas ke tempat jajanan di samping rumah sakit.