TAKDIR CINTA DERAN (Dehan Rania)

TAKDIR CINTA DERAN (Dehan Rania)
23. Emosional


__ADS_3

"Yang benar saja Dehan kau bilang hanya hiburan??!"


Rania yang marah berlari keluar kantor dengan Dehan yang terus menahannya agar tak marah, Dehan takut Rania jatuh apalagi sekarang ada darah dagingnya di rahim Rania.


"Sayang... Aku ga maksud"


"LEPASIN MAS! AKU MAU PULANG KE RUMAH IBU!!"


Rania menaiki taksi dan Dehan mengikutinya dari belakang dengan mobil, ia tak peduli yang penting sekarang Rania harus pisah dengan Dehan. Sesampainya di rumah Ibu, Lisa kaget dengan wajah Rania


"Rania kau kenapa?"


"Jangan izinkan mas Dehan masuk, biar dia diluar saja"


Lisa menatap heran pada Rania, tapi ia mengabaikannya dan pergi ke kamar Ibu.


"Ibu... hikss..."


"Raniaaaa"


Ia memeluk ibunya untuk menangis, Rania sangat kesal dengan perlakuan Dehan.


"Nak, jangan nangis seperti ini. Kau sedang hamil muda sebaiknya jaga kandungan mu ya"


"Ibu tapi Dehan yang membuatku menangis"


Rania menceritakan semuanya pada Ibu, hal itu membuat Ibu pun geram bukan main. Ibu menyuruh Lisa untuk mengusir Dehan, meskipun Lisa tidak tahu apa yang terjadi tapi ia menurut saja.


"Jangan biarkan Dehan masuk ke rumah Ibu! Biarkan Rania tinggal di sini sebentar, dia anak ibu"


Dehan terus berusaha membujuk Lisa untuk ia masuk ke rumah Ibu mertuanya, tapi Lisa melarang karena Ibu bilang tidak boleh.


"Lis, kali ini aja please?? Kamu tau kan Rania lagi hamil, mana mungkin aku bisa jauh dari dia"


Kata Dehan sambil menggaruk-garuk kepalanya tanda frustasi. Lisa menutup pintu dan menguncinya, tak peduli Dehan yang terus menerus berbicara. Lisa yang penasaran bertanya pada Rania betapa kesalnya Lisa dengan Dehan.


"Awas saja kau Dehan!! Aku tidak akan tinggal diam!!"




Siang berganti malam, Dehan masih tetap duduk di teras depan rumah Ibu sesekali ia melihat ke arah jendela siapa tau Rania luluh. Hingga akhirnya kak Rangga datang dari kantor, ia heran mengapa Dehan tidak diizinkan masuk biasanya Ibu sangat senang melihat Dehan.



"Loh Dehan? Lo ga masuk?"



"Kak Rangga!!"



Dehan memeluk Rangga, tapi yang dipeluk malah menghempaskan tubuh Dehan.



"Jangan buat gue jijik. Ada masalah apa lo sama Rania??!"



Bukannya menjawab Dehan malah menunduk, Rangga yang geram langsung meninju wajah tampan Dehan.



BUGH!!!



"SEBELUM LO NGOMONG MASALAH LO SAMA ADIK KESAYANGAN GUE. SUMPAH GUE GA AKAN MAAFIN LO DEHAN!!!"



Rangga ingin pergi ke dalam tapi sebelum itu tangannya dicegah oleh Dehan



"Kak.. Tolong maafin Dehan... Dehan gak bermaksud---"


__ADS_1


BUGH!!



Satu tonjokan mengenai pipi kiri Dehan, hampir saja pria itu ambruk namun langsung berdiri lagi



"Nyari ribut lo sama gue?! Minggir gue harus tanya Rania dulu"



Rangga masuk ke kamar Ibu di situ sudah ada Rania, Ibu, dan tunangannya Lisa.



"Assalamualaikum, Ini sebenarnya ada apa?"



"Walaikumsalam"



Ibu menyuruh Rangga untuk duduk mendengarkan cerita dari Rania, setelah tau inti permasalahannya Rangga geram. Dia juga mengepalkan tangannya dan menggulung lengan kemeja untuk bertarung dengan Dehan.



"SIALAN!!! DEHAN SIALAN!! RANIA, TUNGGU DI SINI KAKAK AKAN MENGHABISI NYAWA SUAMIMU"



Rangga pergi keluar rumah dan langsung meninju wajah Dehan, tak lupa ia juga memukul perutnya. Dehan tidak melawannya karena ia tahu ini adalah hukuman, dengan senang hati Dehan menerima. Rania yang mendengar suara ribut-ribut tetangga yang menyaksikan perkelahian itu langsung keluar, betapa kagetnya ia melihat Dehan sudah berbaring di tanah dengan luka-luka lebam.



"KAK RANGGA!!! KAU KETERLALUAN!!"



Rania mengelus wajah suaminya dengan lembut, ia juga menangis tak tega melihat Dehan.




Lisa memanggil ambulance, untuk membawa Dehan ke rumah sakit karena kondisi Dehan lumayan parah. Rania malah balik marah pada kakaknya



"KAK RANGGA! WALAU BAGAIMANAPUN MAS DEHAN ITU AYAH DARI BAYI YANG ADA DIPERUT KU!!!" teriak Rania



"TAPI DIA TELAH MENYAKITI HATI MU RANIA!!"



"BIARKAN SAJA! AKU TIDAK INGIN ANAK INI LAHIR TANPA AYAH"



Tangisan Rania pecah, kepala Dehan ia pangku di pahanya. Dehan yang tak berdaya hanya mengelus rambut Rania pelan



"Sudah jangan menangis ini salahku, aku harus menerima pukulan ini. Aku memang laki-laki brengsek Rania"



"Mas Dehan... Bertahanlah demi bayi kita"



Rania terus menerus mengelus wajah Dehan sesekali Rania menciumi bibir Dehan mesra, meskipun ada rasa darah dari mulut Dehan. Rania tak peduli yang penting Dehan bisa tenang sedikit. Sesaat kemudian ambulance datang dan membopong tubuh Dehan masuk kedalam, Rania juga ikut serta meskipun Rangga menyuruhnya untuk istirahat tapi Rania itu keras kepala. Dia akan mengikuti kemauannya sendiri.



Di rumah sakit Dehan langsung masuk ruangan UGD, Rania harus menunggu di luar. Ia berdoa agar suaminya baik-baik saja dokter bilang Dehan akan dioperasi bagian perut karena Rangga menendangnya dengan sangat keras, hal itu membuat pembuluh darah Dehan pecah.


__ADS_1


Bunda dan Ayah Dehan sudah sampai di rumah sakit, melihat kondisi Rania yang sedang hamil membuat Bunda sedih iba. Lantas Bunda menyewa kamar rumah sakit untuk Rania mendapatkan cairan tubuh lagi.



"Bunda tidak usah repot-repot, Rania sehat kok pengen jagain mas Dehan" pintanya



"Tidak, biarkan dulu Dehan UGD. Bunda gak tega liat kamu lemes ditambah kamu lagi hamil cucu bunda"



Rania hanya tersenyum tidak tahu mau menjawab apa lagi, ia harus istirahat saja dan Rania baru menyadari bahwa sekarang sudah ada bayi di perutnya jadi Rania akan memikirkan hal itu saja.



Keesokan harinya Shelly dan Sara menjenguk Rania, anak kecil itu langsung bergegas memeluk Rania yang tengah duduk di sofa.



"Bundaaaaaaaa Raniaaaa!!! Sara kangen!!"



Rania membalas pelukannya



"Bunda juga kangen Sara. Apa kabar sayang?"



"Aku sehat. Bunda, aku suka lewat kelas bunda tapi gak ada terus" kata Sara sambil cemberut



"Bunda sedang sakit sayang.. Terus sekarang di perut bunda ada dede bayi"



Mata Shelly dan Sara langsung melihat Rania bahagia



"Serius??! Kau hamil Rania?? Yeaaayy!!! Akhirnya"



Shelly menciumi dahi Rania dan tak lupa mengelus perut sahabatnya itu.



"Sudah kubilang kan ibunya sakti, aku saja yang susah hamil dulu langsung hamil"



"Ini semua berkat bantuan mu Sel.. Terimakasih ya!"



Rania sangat bersyukur dikelilingi orang-orang baik dan peduli, Shelly sahabat Rania satu-satunya meskipun ia sering sibuk karena Shelly sebagai manajer perusahaan jadi Rania hanya bisa berkomunikasi lewat pesan. Tak peduli, yang terpenting adalah Shelly sangat peduli



"Oh ya, si Dehan kemana?"



"Mmmm...."



"Tenang saja Rania. Aku sudah mendengar gosipnya, jadi dimana si brengsek itu?"



"Semalam mas Dehan di operasi, mungkin sekarang ini dia sudah pindah kamar"



Rania beranjak dari duduknya dan berjalan keluar ruangan, tapi di cegah oleh Sara

__ADS_1



"No! Bunda masih pake jarum ga boleh keluar!"


__ADS_2