TAKDIR CINTA DERAN (Dehan Rania)

TAKDIR CINTA DERAN (Dehan Rania)
63. Rumah Kak Rangga


__ADS_3

Ibu tidak mendengar, jadi Ibu meminta Dehan untuk mendorong kursi roda ke taman belakang. Di sana ada taman kesukaan Ibu dulu sebelum jatuh sakit, banyak bunga hias serta tanaman buah-buahan tapi semenjak Ibu koma kebun sudah tidak terurus lagi.


"Kebun ini milik mu? Tidak terawat sekali"


"Itu kebun milik Ibu. Ibu boleh memakainya kapanpun juga dan Ibu akan tinggal di sini"


Ibu melihat-lihat ke dalam kebun yang lumayan besar, dengan dorongan Dehan di belakangnya.


"Kamu, siapa namanya?" tanya Ibu mendongkak wajahnya ke atas


"Saya Dehan Kavindra Perdana, menantu Ibu suaminya Rania"


"Sudah berapa lama kalian menikah?"


"Lima tahun Bu, tapi Rania baru hamil di tahun kedua pernikahan kami"


"Kenapa?"


Dehan langsung diam mematung, tidak melanjutkan mendorong kursi roda Ibu.


"HEY! SAYA BERTANYA KENAPA?"


Bentakan Ibu membuat Dehan tersadar, lantas ia merendahkan tubuhnya di hadapan Ibu.


"Bu... Maafkan Dehan yang dulu menyia-nyiakan Rania.. Sekarang saya ingin membahagiakan nya"


"Memangnya kau pernah melakukan apa sampai berlutut begini?"


Dehan meneteskan air matanya sekejap ia menghapusnya


"Eh... Ee... Anu Bu, itu masa lalu yang menyakitkan bagiku dan Rania"


Dehan harus menjaga lisannya, jika ia meleset saja bisa-bisa restunya hilang.


"Entahlah apa masalah kalian. Tapi Ibu tidak suka Rania bersama laki-laki tukang selingkuh, karena tabiat itu susah dihilangkan meskipun berpuluh-puluh tahun lamanya"


Dehan tersenyum getir mendengar penuturan Ibu


"Baik Bu, maaf ya jika dulu Dehan pernah punya salah pada Ibu"


Dehan mencium tangan Ibu mertuanya lalu bersujud meminta maaf


"Apa Ibu memberiku restu untuk bersama dengan Rania?"

__ADS_1


"Tentu saja, Rania tengah hamil kau harus selalu ada di samping nya"


"Terimakasih bu"


Dehan bahagia saat Ibu mengucapkan kalimat tersebut, semaksimal mungkin ia akan menjaga Rania dan tidak akan ada lagi laki-laki yang berhak bersanding dengannya.


****************


Ibu, Dehan dan Rangga tengah berbincang di taman. Sedangkan Rania, Lisa dan anak-anak mereka berada di dalam rumah tengah menyiapkan makan siang. Rania khawatir karena takut Dehan salah kata, bisa-bisa restunya akan gagal lagi.


"Sudah jangan terlalu dipikirkan, kali ini Dehan pasti berhasil kok"


Lisa berusaha menenangkan Rania agar tidak over thinking


"Semoga ya.. Aku gak mau hamil yang ini kaya dulu lagi, di selingkuhin waktu hamil Derana rasanya sakit banget Lis"


"Iya aku ngerti kok, sekarang kamu sudah bahagia Ran... Jangan mikir gitu okey?"


Rania mengangguk sambil tersenyum, lantas Rania membawa nampan berisi kue dan teh untuk Ibu serta Dehan ke taman. Ibu sedang mengobrol dengan Dehan sambil memegang tangan, Rania tampak bahagia melihat ibunya dekat dengan suaminya padahal dulu Ibu sangat benci sekali terhadap Dehan.


"Ibu, aku bawa kue ini sama teh"


Rania meletakkan kue tersebut di meja, Dehan memberi kode pada Rania untuk duduk di sebelahnya. Rania mengangguk mengerti


"Rania.. Ini suamimu ya?"


Ibu hanya berdehem, Rania tampak bahagia melihat ibunya sudah menerima Dehan. Sesekali Dehan juga memijat tangan Ibu dengan lembut


"Ibu... Istriku sedang hamil anak kedua kami"


Ucap Dehan, Ibu melihat ke arah Rania yang sedang mengelus perutnya yang sudah mulai membesar. Kemudian Ibu ikut mengelusnya


"Sudah berapa bulan nak?"


"3 bulan bu, doakan semoga aku dan bayinya sehat-sehat sampai lahiran"


Ibu tersenyum getir mendengar penuturan Rania


"Maafkan Ibu Rania... Ibu masih tidak mengenali kalian semua"


"Tidak apa-apa Ibu, yang penting Ibu sehat aku bahagia"


Rania memeluk ibunya erat sambil menangis, hormon hamil nya membuat ia sering menangis. Dehan sudah terbiasa dengan perubahan sikap Rania, bahkan sudah kebal. Kemarin saja Rania tiba-tiba mengidam naik rollercoaster bersama Dehan yang harus pakai bondu kelinci dengan make up ala-ala wajah hewan kelinci, saat itulah penampilan macho nya hilang seketika.

__ADS_1


Selagi Rania bahagia Dehan juga akan bahagia, apapun akan ia lakukan demi sang buah hati dan bumil cantik istrinya. Selama mereka berbicara di taman, Derana mencari keberadaan kedua orangtuanya.


"MAMAAAAAAA??? PAPAPAAAA???"


Teriakan anak laki-laki berumur empat tahun menggelegar, bahkan dibarengi dengan rengekan khas bayi.


"Mama Papa kamu lagi di taman sama nenek"


Kata Lisa memberitahu Derana, anak itu langsung berlarian menuju taman. Benar saja orangtuanya sedang berbincang dengan neneknya.


"Isshh.. Mama aku cariin kemana-mana"


Derana memeluk Rania sambil menghapus air matanya yang jatuh sedikit.


"Mama sama Papa di sini sayang, kamu kenapa?"


"Dede pengen mimi cucu"


Derana masih meminum susu dari ndot, padahal ia sudah berusia empat tahun. Dehan sudah menyuruh Rania untuk menghentikan kebiasaan Derana yang masih ngendot, tapi jiwa keibuan Rania tidak bisa menolak Derana.


"Nek, liat tuh Derana. Udah gede masih minum susu dari ndot, padahal bentar lagi mau punya dedek bayi"


Dehan mengolok-olok anaknya di depan Ibu mertuanya, Ibu hanya bisa tersenyum melihat tingkah Derana.


"Kata Mama juga gak apa-apa kan aku masih kecil belum sekolah pake celana merah"


Derana membela dirinya


"Sama saja, kamu sekarang lagi play group Derana... Emang gak malu sama temen-temen kamu?"


"Temen aku juga ada yang masih ngendot, pake pampers juga ada pah"


"Mereka kan belum punya adik, kamu udah di perut Mama"


Derana yang tidak terima langsung marah, ia memukul kaki Dehan kemudian menangis memeluk Rania. Rania hanya bisa menggelengkan kepalanya, sudah biasa ayah dan anak nya berantem bahkan pernah sampai bermain tinju-tinjuan yang berakhir Dehan tidur di ruang tamu.


Saat itu Dehan dan Derana tengah memainkan peran sebagai petinju di ring, tapi Dehan tak sengaja mengenai pelipis mata kiri anaknya. Sehingga membuat Derana menangis lalu mengadu ke Rania, tentu saja Rania marah besar karena pelipis Derana merah.


"Sayang aku tidak sengaja mengenai pelipis nya, sumpah! Aku berani bersumpah atas apapun yang ada di muka bumi ini"


"Papa minta maaf ya Derana sayang???"


Bujuk Dehan karena merasa bersalah, padahal sudah jelas-jelas bermain seperti itu membahayakan anaknya. Tapi Dehan tak menyadarinya, bahkan anaknya pun nurut saja.

__ADS_1


"Malam ini kamu tidur di ruang tamu mas!! Aku mau tidur bareng Derana"


Mau tak mau Dehan menurutinya, tapi keesokan hari Dehan meminta maaf dengan cara mengajak anak serta istrinya ke Mall. Di rasa cukup untuk meredakan emosi akhirnya Rania luluh juga dengan tas Gucci keluaran terbaru yang dibelikan oleh Dehan, malam nya seakan timbal balik Rania memberi jatah batin untuk Dehan.


__ADS_2