TAKDIR CINTA DERAN (Dehan Rania)

TAKDIR CINTA DERAN (Dehan Rania)
26. Berkenalan


__ADS_3

Mendengar Dehan sudah siuman Gladys pergi untuk menjenguk Dehan, sedangkan Lisa sudah memberi pengumuman pada grup para pengusaha bahwa Dehan sudah sadar.


TOK


TOK


TOK


Pintu ruangan Dehan diketuk oleh seseorang, Rania membukanya ternyata itu Gladys. Rangga yang melihat itu langsung peka dan ia menarik tangan adiknya untuk menjauh dari ruangan Dehan.


"Kak Rangga lepas!! Lepaskan aku!! Aku ingin menemui si ****** itu! Mas Dehan sudah sadar pasti mereka akan bermesraan lagi!!" rengek Rania pada Rangga


Tanpa di gubris, Rania masih ditarik oleh Rangga secara lembut


"Rania dengar... Kau tidak boleh gegabah, Gladys itu masa lalu Dehan percaya padaku pasti Dehan juga tidak mengenal--- Aaaarrgghhh sakit!!!"


Tangan Rangga digigit oleh Rania, kemudian ia berlari menuju kamar Dehan. Mata Dehan berbinar-binar melihat Gladys datang, ia terlihat bahagia ketimbang melihat Rania


"Hai Dehan! Apa kabar? Sudah mendingan ya? Syukur kalau begitu, aku bawa buah-buahan dan cemilan untukmu"


Dehan terus tersenyum memandang Gladys, hingga akhirnya Rania sampai juga di ruangan Dehan dengan rasa kesalnya. Tapi Lisa menahan Rania


"Tunggu dulu kita perhatikan apakah Dehan mengenal si pelacur itu" ucap Lisa sambil mengamati Dehan


Rania menuruti perintah Lisa di sana, ia juga sama-sama mengamati tingkah laku Dehan


"Kau siapa?" tanya Dehan


"Aku Gladys, teman kantormu. Kita juga dulu pernah bersama kau ingat?"


Dehan sedikit berpikir, hingga akhirnya ia mengingat kenangan-kenangan bersama Gladys


"Iya! Aku ingat! Kau pacarku kan? Astagaaaa... Kau semakin cantik saja Gladys ku!!"


DEG


Rania sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi, baik Lisa dan seluruh anggota keluarga Dehan seakan tak menyangka oleh perkataan Dehan. Sejak kapan? Sejak kapan Dehan berlaku seperti ini di depan istrinya.


PLAK


Satu tamparan keras dari Rangga membuat ujung bibir Dehan berdarah


"BRENGSEK! KAU BENAR-BENAR TIDAK TAHU MALU!!!! BAJINGAN!!! RANIA ITU ISTRIMU BODOH!!!!"


Rangga sangat marah saat ini, bahkan dia mencengkeram baju Dehan keras dan Dehan juga melawannya dengan menjambak rambut Rangga


"Memang benar Gladys ini pacarku! Dan wanita hamil itu hanya berpura-pura menjadi istriku!"


Rangga memukul pelipis Dehan keras hingga ia tersungkur ke lantai, Gladys berusaha membopong tubuh Dehan. Ayah Dehan memisahkan Rangga dari Dehan


"INGAT DEHAN!! KAU TIDAK AKAN BISA MELIHAT RANIA DAN ANAKMU LAGI!!!" teriak Rangga




Dehan sudah boleh pulang ke rumah hari ini, Rania dia menunggu kedatangan Dehan di rumah mereka. Sebenarnya Rania malas melihat Dehan jadi dia hanya melakukan tugas selayaknya seorang istri kepada suami menyiapkan makanan, bersihkan rumah dan terkadang mengurus pekerjaan Dehan yang terbengkalai.



"Hufft... Capek juga mengerjakan semuanya sendiri, eh.. ada anak bayi di dalam perut ku jadi tidak sendirian"



Rania mengelus perutnya yang sudah mulai buncit



"Nak, yang sabar ya Mama akan terus mendekati Papa mu"



Pintu rumah terbuka, Dehan masuk ke rumah bersama bunda dan ayahnya.



"Assalamualaikum"



"Walaikumsalam" jawab Rania



Ia menyusul ke ruang tamu untuk salaman dengan ayah serta bunda.

__ADS_1



"Ya ampun... Rania sayang, sudah jangan beres-beres kamu lagi hamil! Biar bunda bantu ya"



"Loh, ga salaman sama suaminya?" tanya ayah pada Rania



Rania canggung, tapi kan memang benar Dehan masih suaminya mau tak mau Rania menggapai tangan Dehan kemudian mencium nya. Setelah itu Rania berbalik arah menuju dapur untuk mengambil makanan dan minuman.



"Ayah, ini rumahku?" tanya Dehan



"Iya.. Kau tinggal berdua dengan Rania istrimu"



"Bukannya aku tinggal bersama kalian?"



Ayah tidak ingin menggubris perkataan Dehan, dia juga muak dengan keanehan anaknya. Rania datang membawa makanan bersama bunda, saat hendak pergi tangan Rania ditarik oleh bunda



"Di sini dulu, kita akan berbicara bersama-sama sebagai keluarga"



Rania yang tadinya ingin pergi malah harus duduk bersama keluarga Dehan, Rania hendak duduk di samping bunda tapi bunda menyuruhnya untuk bersebelahan dengan Dehan.



"Dehan, coba kau elus lembut perut Rania" perintah ayah



Dehan menurut mengelus-elus perut Rania lembut dan penuh kasih sayang. Tentu saja Rania senang baru kali ini Dehan mengelus perut hamilnya.




"Coba kau tatap wajah istrimu"



"Sudah kubilang dia---"



"IKUTI PERINTAH KU!!!" ucap ayah marah



Kemudian Dehan menatap wajah cantik Rania dengan datar, tapi tidak dengan lawannya malahan dari tadi Rania salah tingkah dan malu ditatap Dehan.



"Wajahmu memerah" kata Dehan dengan suara beratnya



"Hah??! Mmm... Iya maaf mas, aku..."



Belum selesai Rania berbicara Dehan sudah memalingkan wajahnya dari wajah merah Rania. Sumpah jantung Rania berdegup kencang ia merasa canggung dan senang secara bersamaan.



"Dehan, kau harus menerima kenyataan bahwa kau sudah menikah dan memiliki istri yang sangat cantik seperti Rania. Kau tahu istrimu ini sangat baik dan penurut apalagi setelah dua tahun kalian menikah baru sekarang Rania tengah mengandung anak kalian"



Ayah menerangkan tentang hubungan Rania dengan Dehan sebelum koma.



"Ayah, Bunda, Rania.. Maaf aku tidak mengingatnya sama sekali"

__ADS_1



"Kita akan mengenalkan kalian kembali seperti saat pertama bertemu"



Bunda berpindah duduk di sebelah kiri Dehan



"Sekarang kalian sudah duduk berduaan, Rania mana tanganmu?"



Rania memberikan tangan kanannya pada bunda dan bunda memberikan sebelah tangan Dehan pada Rania, hingga sekarang tangan mereka saling menggenggam.



"Katakan pada wanita di hadapanmu, apa yang membuatmu terkesan dengannya. Dehan, bunda mengerti ini sulit tapi jika kalian pernah memiliki rasa cinta pasti kau akan mengingat masa-masa indah dulu meskipun kekuatan lain menghadangnya akan tetapi kekuatan cinta dan takdir lebih kuat"



Dehan dan Rania saling bertatapan mata, entah ada kekuatan dari mana wajah cantik Rania sangat menarik hati Dehan bahkan ia terus memperhatikan detail wajah istrinya itu.



"Aku...."



"Ucapkan saja mas, aku akan menerima jika itu sebuah kesakitan atau kebahagian yang keluar dari mulutmu. Aku rela mas Dehan" ucap Rania



"Rania... Kau sangat cantik, manis, dan enak dipandang"



"Lalu??"



"Apa ya... Aku hanya melihat wajahmu memerah"



"Mas Dehan, dengarkan kata hatimu"



Dehan menarik nafas panjang lalu menghembuskan nya. Jujur saja Dehan tertarik untuk mencium bibir Rania, semacam ada keterkaitan batin dengan wanita dihadapannya ini. Semacam ada rasa ingin melindungi Rania dan tidak ingin jauh



"Boleh aku mencium bibirmu?"



Rania mengangguk sambil tersenyum manis, sumpah! Dehan dibuat mabuk oleh pesona Rania di alam bawah sadarnya. Lantas Dehan mencium bibir istrinya dengan tulus, Rania yang senang juga membalasnya. Bunda dan ayah memperhatikan mereka berdua membuatnya iri, menyadari ada keberadaan orangtua Rania langsung melepaskannya.



"Mas Dehan.. Ada ayah sama bunda" bisik Rania malu



Dehan yang merasa hal sama ikut menunduk sambil memainkan tangan Rania yang masih dalam genggamannya.



"Tidak apa-apa.. Kalian kan suami istri jadi melakukan hal seperti itu sudah sah"



Hening sejenak, kemudian ayah membuka suaranya



"Jadi sekarang kau sudah percaya bahwa Rania itu istrimu.. Apa mau ayah buktikan lagi anak yang dikandung Rania itu darah daging mu??"



Dehan menatap wajah ayahnya penasaran


__ADS_1


"Tapi jika Rania istriku, kenapa hanya dia yang tidak bisa kuingat yah? Padahal aku mengingat semua orang yang pernah kutemui dan ku kenal hanya Rania seorang yang tidak bisa"


__ADS_2