
"Tidak tau pak, itu kayanya nomor dari luar negeri. Tapi nanti saya tanyakan pada bagian IT untuk melacaknya"
Setelah selesai membereskan luka Dehan, staf itu langsung menuju ke bagian IT untuk melacak nomor yang Dehan copy. Dehan berjalan masuk kembali ke ruangannya, ia melihat meja kerja yang sudah hancur. Kaca yang melapisi meja kayu jati itu pecah akibat pukulan keras Dehan.
"Separah itu aku memukul meja? Pantas saja tangan ini masij terasa perih meskipun sudah diobati"
Dehan terduduk di kursi sambil membuk ponselnya, ada pesan baru dari Rania
Dehan buru-buru memotret tangannya yang dilapisi dengan kain kasa steril untuk Rania, jika Rania sudah pasang emoji marah itu tanda perang dunia akan dimulai. Tak lama kemudian benar saja Rania mengajak video call dengan Dehan
"TUH KAN?? PASTI ADA SESUATU DI KANTOR! JAWAB AKU KAMU DIAPAIN??"
Rania berteriak marah karena Dehan terluka
"Aku---"
"SIAPA YANG BERANI BIKIN LUKA DI TANGAN KEKAR SUAMI AKU??? NGAKU KALIAN YANG ADA DI DEKET MAS DEHANN??"
"Sayaaanggg"
"MAS DEHAN! JANGAN HALANGIN AKU KALO LAGI MARAH!!!"
Dehan menarik nafas dalam-dalam kemudian dihembuskan.
"Sayang ku, istriku yang tersayang... Aku sendiri yang pukul meja sampe kaca nya pecah. Lihat deh"
Dehan menunjukkan mejanya yang sudah hancur berantakan ditambah kaca nya sudah pecah akibat pukulan keras.
"Tuh kaannn... Kamu kenapa sih mukulin meja? Kan bisa pukul yang buat boxing itu kaya yang di rumah kita mas"
Dehan tersenyum melihat layar ponselnya
"Hehe di kantor aku kan gak ada, lagian aku juga lagi kesal gara-gara aset perusahaan turun"
Lagi-lagi bohong Dehan
"Jangan gitu mas, sesuatu masalah pasti ada jalan keluarnya. Aku yakin pasti mas bisa hadapin semuanya"
"Iya sayang... Aku pasti bisa"
Mereka berdua pun saling tersenyum memandang satu sama lain, tapi tiba-tiba saja Derana mengambil ponsel Rania.
"Papaaaaa... Derana mau ke Disneyland ya besok"
__ADS_1
"Iya kalo Mama udah lahiran ya"
Entah tau darimana anak itu tiba-tiba saja ingin pergi ke Disneyland, Dehan lebih khawatir dengan Rania jika mereka pergi apalagi istrinya sedang hamil besar. Yang ada di sana Rania akan kecapekan dan lemas.
"Oke papa! Jangan lupa loh, nanti dede marah!"
Derana langsung memberi ponselnya ke Rania.
"Tau dari mana Derana kalo ada Disneyland?"
"Mas kaya gak tau anak jaman sekarang aja, dia pasti liat di YouTube"
Dehan berdehem
"Mas, pulang kapan?"
"Antara sore atau siang. Gimana beresnya aku di sini sih, kenapa?"
"Pengen obatin luka kamu... Sekalian kasih bonus"
Wajah Rania memerah, ia sedang malu dengan kalimat terakhir yang diucapkan.
"Oke! Aku kelarin sekarang juga! Tunggu di rumah sayang"
Dehan sangat semangat untuk segera pulang, ia tak sabar bonus seperti apa yang akan diberikan padanya. Rania yang tak tahan malu langsung menutup panggilannya.
Selang beberapa menit kemudian, Rania melanjutkan mendengar podcast di YouTube nya. Ia berlatih yoga juga akhir-akhir ini agar saat lahiran nanti tidak terlalu nyeri dan lancar, bi Ijah sedari tadi memperhatikan Rania.
"Anu... Nyonya"
Rania yang tadinya fokus melihat layar ponsel, lantas melihat bi Ijah.
"Iya kenapa bi?"
"Saya membuatkan minuman herbal untuk penambah darah"
Bi Ijah membawa gelas di tangannya berisi air hangat yang berwarna kemerahan.
"Ini minuman apa bi? Kok warnanya aneh?"
"Ini campuran gula merah, jahe, kunyit dan temulawak. Bagus untuk ibu hamil"
Rania mengambil minuman di tangan bi Ijah, ia awalnya menciumi bau nya. Mengicip sedikit memastikan minuman tersebut tidak pahit.
"Gak pait ya, coba saya minum"
__ADS_1
Rania mulai meminum air ramuan dari bi ijah tanpa rasa curiga.
"Aaahhhkk... Enak juga bi, besok buatin lagi ya"
"Nggeh nyonya... Saya permisi"
"Iya makasih bi"
Bi Ijah pergi ke dapur untuk lanjut beres-beres rumah, Rania juga melanjutkan tontonan nya di YouTube. Tapi entah kenapa lama kelamaan ia merasa pusing dan mengantuk berat, hingga akhirnya Rania ketiduran di sofa ruang tamu.
Dehan telah selesai dengan pekerjaannya, siang tadi dia mendapatkan data tentang nomor yang menerornya. Dari data yang terpampang di selembar kertas itu merujuk ke pemilik nama 'Mr X' namun nomor tersebut sudah tidak aktif lagi.
"Pak sudah lacak GPS dari nomor ini?"
"Sudah pak, di sini tercantum jika posisi pelaku ada di luar negeri"
Dehan semakin gusar dengan identitas si pelaku ini, bahkan ia mencoba menghubungi rekan bisnis yang berada di luar negeri tapi mereka semua tidak tahu siapa itu Mr x. Polisi beserta beberapa staff IT nya juga dibuat kebingungan karena pelaku pembobolan yang terjadi.
"Ya sudah, jika ada informasi lain hubungi saya. Saya izin pamit dulu untuk pulang"
"Baik pak"
Dehan pergi dari kantornya menuju mobil, saat baru masuk mobil dan memegang setir tangannya merasa nyeri.
"Aaaarrghh masih sakit... Ayo kuat Dehan, kuaaatt"
Dengan bantuan penyemangat diri sendiri, Dehan akhirnya bisa juga menyetir mobil meskipun pelan-pelan. Baginya tujuan utama sekarang adalah rumah serta anak istri.
Sesampainya di rumah, ia memarkirkan mobilnya seperti biasa di garasi. Sebelum pulang Dehan mampir ke toko kue kesukaan Rania juga Derana, masuk rumah tapi tidak ada siapapun di dalam.
"MAMAAAA.... DEDE DERANAAAA... PAPA PULANG BAWA APA NIHH??"
Dehan masih positif thinking, anak dan ibu itu pasti sedang berada di taman belakang. Karena biasanya di sore hari begini Rania menyiram tanaman dan Derana juga bermain di sana. Dehan melangkah ke taman belakang, tapi nihil mereka berdua pun tak ada
"RANIAA??? DERANAAA??? KALIAN DI MANAAA"
Dehan mulai panik setengah mati, ia menghubungi nomor Rania. Tiba-tiba saja Dehan mendengar bunyi ponsel Rania di kursi tamu, Dehan menghampiri nya dan benar saja ponsel Rania ada di sana.
"Hah?? Ponselnya di sini, tontonan terakhir yang dilihat Rania itu video yoga khusus ibu hamil"
Dehan mencari Derana keseluruh ruangan, tapi tak ada.
"DERAANAAAA!!!? RANIAAAAA!!!! KALIAN DI MANA???"
Ia menangis tersedu-sedu sambil memanggil nama keluarga kecilnya. Dehan menelfon bunda, ayah, kak Rangga serta Lisa tentang Rania serta Derana yang menghilang dari rumah. Tentu saja kak Rangga marah besar! Ia bahkan mengutuk Dehan karena tidak bisa menjaga adiknya dengan benar
__ADS_1
"LO ITU GIMANA SIH?? RANIA LAGI HAMIL! BUKANNYA JAGAIN 24 JAM?!!"
Seperti itulah kata-kata dari mulut kak Rangga, Dehan hanya bisa menangis dan melapor ke pihak berwajib atas kehilangan anak serta istrinya. Jujur saja Dehan sangat khawatir dengan Rania apalagi istrinya tengah hamil besar, begitu juga Derana yang masih kecil.