
Rania merasa aneh terhadap dirinya, ia entah mengapa menginginkan tahu gejrot pedas dan juga bau rumah sakit yang membuatnya mual.
"Tidak mungkin aku ngidam kan? Lagipula aku kemarin baru test pack dan hasilnya negatif. Ditambah lagi aku punya kista, dulu saja sebelum ada Derana aku susah hamil harus dipancing dulu"
Ia mulai overthink terhadap dirinya sendiri, apalagi sekarang di hadapannya ada Ibu yang sedang koma.
"Ibu.... Ibu harus sembuh ya, aku pengen banget ketemu Ibu lagi. Buatin Ibu bolen lagi dan kita liburan ke pantai sambil gendong Derana sesuai keinginan Ibu kan dulu kalo aku punya anak"
Rania ingat sekali dulu mereka ke pantai saat belum ada Derana, hanya untuk piknik keluarga saat merayakan adanya kak Rangga. Ibu berpesan kelak ia ingin mengajak cucu-cucunya ke pantai, namun keburu Ibu jatuh sakit yang mengharuskannya memakai kursi roda selamanya.
Hal itu membuat Rania menangis lagi, ia tidak ingin Ibu seperti sekarang. Dengan kondisi koma antara hidup dan mati, bagaimanapun Ibu harus sembuh agar Dehan juga dapat diterima lagi.
"Ibu selama aku tinggal sama Ibu waktu Derana masih bayi, Ibu selalu nyuruh aku buat ketemu Dehan. Pas sekarang aku rujuk sama mas Dehan Ibu malah gak setuju, aku bingung sama pilihan Ibu. Hiksss...."
Rania menangis sambil menggenggam tangan ibunya.
"Bu, aku mau kita akur hidup bahagia. Aku sama mas Dehan suamiku, aku sayang bu... hikss... Aku cinta sama mas Dehan, lagipula... Mas Dehan juga udah berubah, sekarang dia bucin sama aku. Aku gak mau kehilangan kedua laki-laki kesayanganku setelah Derana"
Saat Rania menangis, Dehan masuk ke kamar lantas langsung memeluk Rania dari belakang.
"Sudah sayang jangan terus menangis... Sekarang kita makan ya? Kamu belum sarapan dari pagi"
"Iya mas"
Rania menuruti perintah Dehan, lantas ia duduk di bangku. Dehan menyodorkan tahu gejrot pedas dan es kopi cappucino untuk Rania, lantas ia memakannya dengan lahap.
"Kamu kenapa tadi mual? Apa gara-gara aku bawa mobil ngebut?" tanya Dehan
"Aku kaya masuk angin mas, terus juga pusing. Sekarang udah gak lagi kok"
"Rania, kalo sakit kasih tau aku ya... Aku akan selalu ada di sisi kamu sayang"
Rania yang tadinya fokus makan malah menatap Dehan, sumpah suaminya makin tampan. Dehan juga balik menatap mata indah Rania
"Aku tau bahwa aku tampan" ucapnya pede
"Lebih ganteng Derana ya, kamu mah lewat"
"Kan Derana juga anak aku, otomatis dia ngalah dari aku dong"
"Terserah kamu"
Rania melanjutkan makannya, sementara Dehan mulai membuka laptop untuk bekerja freelance. Setelah selesai dengan makanan Rania duduk di samping Dehan
"Kerja terus, pengen nonton film"
Dehan yang tadinya fokus pada laptop melirik ke arah Rania.
"Nanti ya kita ke bioskop"
"Ihh maunya di laptop kamu mas... Cepetan aku mau nonton film Cinderella"
Dehan merasa aneh dengan istrinya, biasanya juga Rania hanya suka menonton film romantis seperti Romeo and Juliet sekarang malah suka kartun.
"Tumben kamu suka kartun?"
"Aku suka kartun soalnya suka nemenin Derana nonton"
"Oh gitu.. Iya sayang, nih aku udah beres kerjaan kita nonton ya"
Rania memanjangkan kursi sofa agar kaki mereka bisa selonjoran, tak lupa snack yang tadi dibeli Dehan pun ia buka. Rania duduk di sebelah Dehan sambil menyenderkan kepalanya di bahu Dehan, dengan senang hati Dehan menerimanya.
Di tengah-tengah film Rania menangis padahal itu hanya adegan Cinderella mencuci piring karena paksaan adik tirinya. Dehan mencium rambut Rania untuk menenangkannya
"Sayang ini kan cuma adegan cuci piring, kenapa kamu nangis?"
"Kasian mas.. hikss.. liat deh Cinderella nya pasti capek"
"Iya udah sini sayang"
Dehan mengelus-elus rambut Rania, istrinya itu sedang sensitif mungkin karena akan datang bulan. Ia sangat paham jika Rania sudah emosional pastinya sebentar lagi akan datang bulan, siklus menstruasi Rania juga Dehan tau karena sering memantau istrinya.
__ADS_1
Derana dan Ralis sedang beradu argumen karena perihal masalah coklat. Ralis yang tidak mau mengalah memukul pelipis kiri Derana menggunakan boneka Barbie nya, tentu saja anak itu menangis kencang karna kesakitan.
"Aduhhh... Non, jangan galak-galak sama kakak Derana"
Baby sitter yang menangani pun merasa pusing, suara tangisan Derana yang besar terdengar sampai ke lantai atas membuat Lisa penasaran. Ia turun untuk melihat kondisi anak-anak
"Kenapa bi?"
"Ini nona Ralis mukul kepala Derana"
"Ya ampunn..."
Lisa langsung melihat pelipis kiri Derana dan benar saja, ada luka di sana bahkan sudah mengeluarkan sedikit darah.
"Ralisss!!!! Kamu nakal ya! Ini kamu liat Derana sampe berdarah"
Lisa mengomel kepada anaknya, mungkin sifat keras Rangga turun ke Ralis sehingga anak itu suka main tangan. Tapi Lisa tidak ingin hal itu dilakukan oleh Ralis, walau bagaimanapun Ralis harus seperti Lisa yang lemah lembut.
"Derana sayang... Kamu gak apa-apa kan? Kita telfon Mama Rania ya?"
Derana mengangguk sambil menangis kencang
"\*Hallo... Dede kenapa sayang?"
"Huwaaaaaaa..... Mama dede sakittt"
Rania mulai khawatir karena perkataan anaknya barusan, Dehan ikut melihat layar handphone Rania untuk memastikan anak mereka
"Sakit apa sayang?"
Derana menunjukkan pelipisnya yang berdarah, namun sebelumnya sudah di bersihkan oleh bibi.
"Ya ampunn.... Itu kenapa bisa begitu? Cerita sama Mama"
__ADS_1
"Hikssss.. Aku dipukul sama boneka Lalis... Soalnya coklatnya mau aku ambil"
"Oalah, yaudah dede sekarang siap-siap ya.. Mama nanti suruh tante Lisa anterin kamu ke sini"
"Iya Mama"
"Dede kan jagoan Papa! Jangan cengeng ya, adik Ralis itu kesel soalnya coklat nya diambil kamu" Dehan ikut nimbrung
"Iya Papa"
Derana mengembalikan handphone nya ke Lisa,
"Ran, maaf banget ya soal kelakuan Ralis aku malu bangettt---"
"Iya gapapa Lis, lain kali kamu juga ikut ngasuh biar bisa pantau anak-anak ya"
"Iya Ran, aku malu banget sama Ralis yang ngalah ke Rangga. Kemarin aja di sekolah dia mukul temennya"
"Aku ngerti sih, tapi jangan dibiasakan sejak kecil gitu. Coba kamu ubah pola pikirnya dari sekarang biar Ralis ga jadi anak yang nakal nanti"
"Iya Ran, Ibu gimana?"
"Tolong antar Derana ke rumah sakit ya? Ibu juga belum sadar daritadi"
"Okey, aku juga sekalian mau beli makanan buat kalian ya"
"Iya hati-hati di jalan\*"
Rania mematikan ponselnya, kemudian dia menangis kembali.
"Huwaaaaaaa.... Mas anak kita diapain sama Ralis?? Jahat banget sampe berdarah gitu... hikssss.... Ralis jahat deh sama Derana"
Dehan hanya bisa pasrah dengan emosi Rania sekarang, ia tidak berani buka mulut hanya tersenyum memeluk tubuh Rania dan menciumi kepala istrinya berkali-kali. Jujur saja Dehan sedang mengumpat dalam hati seperti ini
'*Aku sudah pasrah terhadap diriku sendiri, aku tidak tahu harus apa? Ya Allah, sandarkan lah istriku hari ini*'
__ADS_1