TAKDIR CINTA DERAN (Dehan Rania)

TAKDIR CINTA DERAN (Dehan Rania)
75. Upaya Melarikan Diri


__ADS_3

"Cepat bersiap-siap. Kami akan mengantarmu ke dokter Hasbi"


Dengan suara beratnya kemudian orang itu menutup pintunya kembali, padahal masih banyak hal yang ingin Rania tanyakan. Rania membuka lemari pakaian, ternyata di sana sudah ada pakaian untuk Rania dan juga Derana.


"Sampai pakaian pun sudah disiapkan, sebenarnya dia berniat menculik atau apa?"


Rania berbicara sendiri dengan dirinya, kemudian lanjut membangunkan Derana untuk bersiap-siap juga. Setelah mereka selesai, Rania mengetuk pintu lagi sehingga pria berbadan kekar membawa Rania serta Derana ke mobil.


Mobil Alphard berwarna hitam sudah menunggu di depan ruko bekas, Rania melihat ke jendela kamar tempatnya di sekap ternyata itu di lantai dua ruko bekas yang tidak terpakai. Pantas saja jendelanya di kunci tanam ternyata agar Rania tidak bisa kabur keluar, Rania melangkahkan kakinya masuk ke mobil sambil menggandeng tangan Derana.


"Mama, kita mau kemana?" Derana bertanya dengan nada kecilnya


"Kita mau periksa adik bayi ke dokter Hasbi. Itu loh dokter yang biasa ketemu kamu"


"Oh itu.."


Derana hanya mengangguk mengerti, selama di mobil anak itu tidak banyak bicara karena ia takut dengan om-om berbadan besar yang tengah mengawasi mereka di mobil. Sesampainya di rumah sakit, Rania dan anaknya masuk ke dalam langsung dilayani oleh suster untuk pergi ke ruangan dokter Hasbi.


TOK


TOK


TOK


"Permisi dokter, ada bu Rania yang sudah datang"


Suster rumah sakit sudah hapal betul dengan Rania, karena setiap melakukan pemeriksaan janin Rania selalu percayakan ke dokter Hasbi.


"Ibu Rania? Rania Gandhita Wardhana?"


Dokter Hasbi terkejut mendengar ucapan suster.


"Betul dok, apa sekarang boleh di izinkan masuk?"


"TENTU SAJA!"


Rania serta Derana masuk ke dalam ruangan dokter Hasbi.


"Bu Rania, kok anda bisa ke sini tanpa reservasi terlebih dahulu?"


"Saya juga tidak tahu dok"


"Sebentar saya akan menelfon pak Dehan ya bu"


Rania sangat senang mendengarnya, dokter Hasbi mulai memencet tombol call di nomor Dehan.


"**Hallo dokter? Ada urusan apa ya?" **


"Istri anda sedang kemari, kenap-----"


"RANIA?? DIMANA DIA SEKARANG DOK??"


Belum selesai berbicara Dehan sudah memotong ucapan dokter Hasbi. Dokter Hasbi memberi ponselnya ke Rania

__ADS_1


"*Hallo sayang... Mas Dehan tolong" *


"Saaayaangg?? Raniaaa??!! Kamu di rumah sakit sekarang? Aku otw ke sana ya tunggu jangan kemana-mana dulu"


Rania belum selesai berbicara, tapi sambungan telepon nya sudah di matikan oleh Dehan. Tampaknya Dehan ingin menjemput istr dan anaknya.


...****************...


Dehan membawa mobilnya dengan kencang, tak peduli orang-orang sekitar yang memaki nya. Dia hanya ingin bertemu dengan Rania dan Derana, dia akan membawa pulang orang yang ia sayangi.


Ia memarkirkan mobilnya di depan UGD khusus mobil ambulance, Dehan memberikan kunci mobil ke satpam yang bertugas


"Pak tolong parkir kan di tempat biasa, saya sedang buru-buru"


Dehan berlari ke koridor menuju ke ruangan dokter Hasbi, karena sudah terbiasa ke rumah sakit Dehan hafal jalan-jalan di sini. Sesampainya di depan ruangan spesialis kandungan, Dehan melihat dua orang laki-laki berbadan besar sedang menjaga pintu masuk ruangan dokter Hasbi.


"Sialan!"


Dehan menelfon dokter Hasbi.


"Hallo dok? Bisa tolong sambungkan ke Rania?"


Dokter Hasbi memberikan ponselnya ke Rania.


"Maasss"


"Sayang, aku gak bisa masuk ke dalem ruangan dokter Hasbi. Ada yang jagain di depan pintunya"


"Sayang, aku kangen sama kamu. Derana mana?"


"Papaaaa!!! Aku mau pulang!"


"Nanti ya sayang.. Papa berusaha bawa pulang kamu sama Mama"


Derana memberikan telepon itu ke Rania


"Sayang, coba kamu pura-pura ke toilet. Nih aku nanti tunggu di lorong sini oke?"


"Okey!"


Rania berpura-pura ingin pergi ke toilet, bersama Derana ia mencoba mendatangi tempat yang Dehan bilang tadi. Pupil mata Rania menangkap sosok yang ia rindukan, dengan cepat Rania langsung memeluk tubuh Dehan.


"Saaayaangg..."


Suara berat Dehan yang memanggil istrinya kemudian mengelus rambut Rania, Derana ikut serta dalam pelukan mereka.


"Papa, dede mau pulang"


"Okey! Ayo kita pulang!"


Dehan menggenggam tangan Rania sambil menggendong Derana. Tapi saat keluarga itu membalikan badan ternyata pengawal tadi sudah berdiri di sana


"NYONYA RANIA DAN TUAN MUDA DERANA HARUS IKUT KAMI!!"

__ADS_1


Ucapnya lantang, tentu Dehan tidak bisa diam


"RANIA DAN DERANA ADALAH KELUARGA KU!! KALIAN TIDAK BERHAK MENGAMBIL APAPUN DARI KEPUNYAAN ORANG!"


Dehan sangat marah, ia melihat Rania lantas menurunkan Derana dari gendongannya.


"Sayang, kamu harus tetap di belakangku ya. I love you Derana dan Mama Rania"


Dehan mengecup kening keduanya, dengan sigap Dehan maju untuk menonjok pengawal. Nihil malah Dehan yang babak belur, Rania yang khawatir hendak menolong Dehan tapi pergerakannya kalah cepat dengan para pengawal. Sehingga ia dan Derana di seret keluar rumah sakit.


"LEPASIN! AKU MAU TOLONGIN SUAMIKU!!! IIHHH KALIAN MEMANG GAK ADA OTAK!!! TOLOOONNNGGG"


Rania menangis terisak-isak tapi tak ada yang mau menolong nya, Derana juga menangis di gendongan salah satu pria berbadan besar. Dehan hanya bisa merangkak melihat anak dan istrinya menangis di seret, hatinya sangat sakit ia ingin sekali menolongnya.


"A---nak ku... Istriku.... Aku akan membawa kalian pulang ke rumah"


Beberapa detik kemudian Dehan pingsan, karena mengalami cidera ringan.


...****************...


Rania serta Derana sudah masuk ke kamar tempat mereka di sekap. Derana memeluk tubuh Rania karena ketakutan


"Mama... Aku takut..."


Rania hanya bisa menenangkan Derana meskipun ia juga sama ketakutannya.


"Mama kasian sama papa, tadi papa dipukuli om-om jahat"


Rania sangat dendam kepada orang yang memukuli suaminya, sumpah sampai kapanpun ia tak akan memaafkan orang itu. Pintu kamar terbuka lagi, Rania dan Derana harus keluar dari sini.


"Nyonya dan tuan muda, kalian harus pindah ke tempat yang lebih layak"


Tanpa perkataan Rania menurut saja, meski dia tidak melihat ke arah pengawal itu lantaran ia masih kesal dengan perangainya. Satu jam perjalanan di mobil, mereka sampai juga di sebuah rumah mewah. Bukan rumah mungkin seperti mansion lengkap dengan segala fasilitas fantastis khas bilioner eropa.



Rania terkesima dengan bangunan mansion mewah yang ada di hadapannya begitu juga dengan Derana.


"Nyonya dan tuan akan tinggal di sini"


Ia melihat wajah pengawal itu lantas membentaknya.


"KAU KIRA AKU AKAN MEMAAFKAN MU? TIDAK! TIDAK AKAN SELAMANYA!"


Siapa yang tidak marah melihat suaminya dipukuli oleh orang lain. Ia mengabaikan hal itu, kemudian beralih mengelilingi taman-taman di mansion. Melihat bunga kesukaannya tumbuh subur, bahkan ada garden kecil khusus untuk bertani.


"Seperti mimpiku semasa kecil, apa ini nyata aku berada di mansion seluas ini?"


"Nyata"


Rania kaget dengan jawaban laki-laki di belakangnya, pasti pengawal yang memukul Dehan.


DUUUUGGG!!!

__ADS_1


__ADS_2