
Dehan menunggu Derana bermain di istana balon sambil memberitahu Rania bahwa dirinya tengah berada di Timezone, Rania yang telah selesai belanja lalu menyusul mereka. Tak lupa sebelum itu, ia juga membelikan Dehan minuman dingin pasti suaminya lelah menjaga Derana.
"Nih mas, aku beliin minuman kesukaan kamu"
Dengan senang hati Dehan meminumnya
"Makasih ya sayang, kamu tau aja aku haus"
Rania memperhatikan anaknya yang sedang bermain di dalam, dia ingin mengatakan bahwa ia diundang ke acara open house Gilang.
"Mas, kita diundang di acara open house Gilang tau"
"Terus?" balas Dehan datar
"Kita ikut ya" ajaknya
"Gak! Aku gak suka ya Rania, aku gak mau kamu deket-deket sama Gilang"
"Lagian aku juga bawa kamu sama Derana ga akan bisa macem-macem mas"
"Terserah, aku gak izinin kamu"
Rania langsung terdiam, ia tidak mau lagi berbicara dengan Dehan. Suaminya juga fokus memainkan ponselnya, tidak ada pembicaraan Dehan menanyakan tentang desain baju untuk perusahaan nya pada Rania.
"Sayang ini bagus gak?"
"Gak tau"
Dehan malah balik mendiamkan Rania, hingga beberapa saat kemudian Derana sudah selesai bermain.
"Mama aku laper"
"Tanya Papa mau makan apa"
Derana melihat Papa nya kemudian bertanya
"Papa mau makan apa?"
"Makan orang"
Dehan menjawabnya dengan nada ketus
"Anak nanya yang bener, di jawab kaya gitu! Ya udah biar aku aja sama Derana yang makan. Kamu pulang aja sana duluan!"
Rania menarik tangan Derana guna mengajaknya ke restoran, Derana aneh dengan kelakuan orangtuanya. Tidak biasa Mama Papa saling buang muka dan tidak pula berbicara dengan nada tinggi, justru itu membuat Derana takut.
"Dede mau makan apa?" tanya Rania
Derana hanya menatap Rania dengan raut cemas, Rania yang peka langsung berbicara lembut lagi
"Maafin Mama ya sayang, Mama lagi kesel sama Papa. Kamu jangan takut sama Mama"
Rania memeluk Derana sambil mencium pipi serta kepala sang anak. Derana sudah mulai tenang
__ADS_1
"Dede takut Mama sama Papa ngomong kencang"
"Iya maafin Mama, sekarang dede makan ya? Pilih aja di menu mau makan apa"
Di tengah serius memilih menu, Dehan datang lengkap dengan belanjaan di tangan nya. Tanpa bersalah Dehan duduk di sebelah Derana lalu memilih menu juga, mereka masih diam saja
"Mbak!"
"Saya pesan sirloin steak medium well, istri saya oglio olio Spagetti, dan anak saya yang kecil mini katsu pake salad buah ya"
Ucap Dehan pada pelayan restoran
"Ralat mbak! Olio olio nya ga jadi, lagi pengen pizza"
Balas Rania, Dehan sangat tahu betul kesukaan keluarga nya apa saja. Namun kali ini Rania memesan pizza, padahal Rania tidak terlalu suka pizza.
"Tumben"
"Emang aku ga boleh makan Pizza?"
Jawabnya ketus, Rania masih kesal lantaran Dehan melarangnya untuk pergi ke open house Gilang. Begitupun Dehan yang tetap pada pendiriannya.
"Mama aku haus"
"Sebentar sayang"
Rania memberikan Derana air minumnya di dalam tas, Derana dari tadi melihat ke arah Dehan.
"Kenapa sayang? Papa ganteng ya?"
"Aku mau duduk sebelah Mama aja"
Derana pindah tempat ke sebelah Rania, seakan menjadi pemenang Rania memeluk Derana
"Anak Mama paling ganteng se-dunia"
Katanya sambil mencium kepala Derana, ia yang melihat itu tak mau kalah mencari perhatian anaknya.
"Dede papa punya ini loh"
Dehan menunjukkan kartu Timezone pada Derana
"Kalo pake ini dede bisa main game sepuasnya, sini sama Papa?!"
Derana yang tadinya mau, tidak jadi ia malah memilih Mama nya
"Gak mau, dede mau sama Mama aja"
"Sama Mama gak dibolehin ke Timezone loh, nanti ga beli mainan lagi"
Rania malah gemas dengan Dehan
"Idihh... Kata siapa? Aku juga punya uang sendiri ya, udah ini aku mau beli kado buat Gilang"
__ADS_1
Mendengar nama Gilang, Dehan malah kesal ia tak sengaja memukul meja tidak terlalu kuat
"Jangan bawa-bawa nama Gilang. Sampe kapanpun aku ga izinkan kamu pergi ke sana"
Rania semakin tertantang
"Oh ya? Tapi maaf mas, aku bakal tetep datang ke rumah Gilang sama Derana"
"TERSERAHLAH"
Dehan tidak ingin energinya terkuras untuk bertengkar dengan Rania, apalagi ini di tempat umum dan ada Derana. Ia tidak ingin mempermalukan dirinya sendiri, setelah selesai makan Rania benar-benar membeli bingkisan untuk Gilang.
Dehan daritadi memperhatikan Rania yang memilih barang
"Giliran kado buat aku, kamu kasih yang murahan"
Cemburu? Tentu saja, karena ini acara open house Rania memilih satu set gelas kaca cantik. Sedangkan saat ulang tahun Dehan Rania membelinya jam tangan, baju, celana, bahkan sampai alat elektronik untuk Dehan.
"Apa yang harus dicemburui sih mas? Kamu tau gak harga kado-kado yang aku kasih buat kamu? Itu semua 2 digit!!! Ini aku baru beli gelas harga 2,5 juta aja kamu ngambek"
"Iya, tapi sama aja! Udahlah gak usah ngasih kado! Buat apa?? Si Gilang aja ga suka minum air!!"
Dehan daritadi tidak berhenti berbicara tentang kado dan bingkisan untuk Gilang, Rania daritadi hendak beli juga jadi kepikiran. Kesal dengan ocehan suaminya, Rania mengambil sendal jepit yang di pajang di sana lantas memasukkan ke mulut suaminya.
"Berisik aku lagi pilih barang!"
"HAHAHAHA LUCU YA PAPA"
Derana malah menertawakan Papa nya, Dehan yang malu lantas membalas
"Durhaka nanti kalo ketawai orang tua"
Anaknya langsung meminta maaf pada Papa, Rania masih memilih barang dan lalu ia melihat sesuatu yang indah di sana. Masih seputar gelas satu set, di etalase kaca ada gelas yang bergambar bunga.
"Nih, cantik ya gelasnya! Aku ambil yang ini!"
"Apa sih kamu beli yang itu?? Tau gak ya, menurut psikolog orang yang beliin gelas sebagi kado/bingkisan itu tandanya ia menaruh rasa sama yang akan di tuju. Kalo kamu ga percaya silahkan google sendiri, Derana juga pasti tau itu ya kan de? Coba sekali-kali kamu beliin dia kolor atau makanan kek gitu biar cepat habis ga ingat-ingat lagi sama orang yang ngasih kado. Terus bla bla bla"
Tanpa memperdulikan Dehan yang terus berbicara tanpa isi, Rania melenggang pergi ke kasir untuk membayarnya. Derana yang ada di gendongan Rania pun menutup kupingnya suruh Rania agar tidak mendengar pembicaraan Papa nya.
Meskipun Dehan sedang kesal, ia tetap mengeluarkan kartu kreditnya. Padahal Rania tidak meminta itu
"Mbak, pakai kartu saya saja"
Dehan memberikan kartu kredit nya ke kasir, Rania yang tadinya mencari di dompet tidak jadi. Lantas Rania tersenyum manis diam-diam, setelah selesai mereka pergi ke parkiran dan masuk ke mobil.
"Mas, berarti aku boleh dong pergi?"
"Iyaa... Asal sama aku"
Rania yang senang langsung memeluk Dehan yang sedang menunggu lampu merah, tak lupa ia juga mencium pipi suaminya.
"Makasih sayang... Aku tau kok kamu kalo marah gak pernah lama, pasti selalu ngalah sama aku. I love you Papa Dehan suamiku tercinta muaahhh"
__ADS_1
"Apaan sih lepas ah"
Dehan hanya bisa terkekeh geli, jujur saja dia juga tak tega melihat istrinya bad mood yang ada perang dunia ketiga selama berbulan-bulan tidak diberi jatah. Jadi Dehan mengizinkan walaupun ingin meninju wajah Gilang nantinya