TAKDIR CINTA DERAN (Dehan Rania)

TAKDIR CINTA DERAN (Dehan Rania)
68. Rumah Bu Dwi


__ADS_3

Semalam Dehan dan Rania berbincang-bincang tentang masa lalu mereka di Jogja, Dehan terus menggoda istrinya yang sedang hamil begitupun Rania yang merasa disayangi. Pagi harinya mereka bersiap-siap untuk pergi ke sanggar tari bu Dwi.


Derana bangun tidur terakhir anak itu susah sekali mandi pagi, Rania harus ekstra sabar dengan anak pertamanya


"Dede ayo banguuunn... Mandiiii kita siap-siap ke rumah bude"


Derana sedikit membuka matanya lantas tertidur lagi


"Dedeee Mama tinggal ya sendirian di sini"


Karena ucapan Rania, Derana langsung membuka matanya dan terduduk


"Cepet mandi, jangan lupa gosok gigi"


Derana jalan ke toilet untuk mandi pagi, Rania menyiapkan pakaian Derana. Begitulah kegiatan pagi keluarga Dehan sama seperti kebanyak orang, sebelum meninggalkan hotel juga mereka sarapan terlebih dahulu.


...****************...


Sesampainya di sanggar tari, Dehan bertanya kepada petugas keamanan


"Maaf pak, apa ada bu Dwi sekarang?"


"Bapak ada keperluan apa?"


"Saya kerabat dekat bu Dwi"


Petugas keamanan tadi mengantar mereka ke belakang sanggar, sekarang ada rumah di sana. Dulu saat Rania masih bekerja, hanya ada lahan kosong dan tak ada bangunan


"Sudah lama sekali rasanya tidak mengunjungi lagi"


"Udah empat tahun yang lalu sayang"


Kata Dehan berbicara di sebelah Rania, mereka menyusuri jalan dan sampailah di depan pintu masuk rumah. Dehan mengetuk pintunya


TOK


TOK


TOK


"Assalamualaikum bu Dwi.."


Tidak menunggu waktu lama, akhirnya pintu terbuka dan muncullah bu Dwi


"Walaikumsalam... Eh.. Nak Raniaaa"


Bu Dwi langsung memeluk tubuh Rania erat, berkali-kali ia juga mencium pipi Rania


"Ya ampunn... Sudah berapa tahun tidak ke sini nak"


Bu Dwi melihat perut Rania yang buncit


"Kamu lagi hamil"


Rania mengangguk sambil tersenyum

__ADS_1


"ASTAGAA!!! Akhirnya ya, nak Raniii ayo masuk sini"


"Ibu, ini ada Dehan sama anak pertama aku namanya Derana.. Dede salim ke bu Dwi"


Derana mencium tangan kanan bu Dwi


"Lucu banget... Namanya siapa?"


"Derana bude, umur aku empat tahun"


Bu Dwi mencium pipi Derana karna gemas, Dehan dan Rania mengobrol mengenai masa lalu mereka ketika di Jogja. Bu Dwi sangat senang dengan kedatangan Rania baginya Rania sudah seperti anak sendiri, mengingat bahwa bu Dwi tidak punya anak.


"Nak Dehan, kamu harus bersyukur loh punya istri kaya Rania"


"Sudah cantik, baik, penurut dan juga pekerja keras. Jarang-jarang ada wanita seperti itu"


Ucap Bu Dwi


"Iya bu, tapi sekarang Rania sering marah-marah hehe"


Jawab Dehan sambil cengengesan


"Ya wajarlah, aku kan lagi hamil jadi aku sering kesel sama kamu!"


"Sssstt... Sudah ada anak kecil loh di sini"


Bu Dwi melerainya


"Bu, ini rumah baru ya? Perasaan dulu cuma ada sanggar di sini"


Rania mengerti, kemudian ia berbicara lagi


"Ibu... Rania boleh gak makan tiwul buatan Ibu hehehe"


Jujur saja tujuan ia ke Jogja karena ngidam makan tiwul buatan bu Dwi, dulu saat masih bekerja di sanggar Rania sering dibuatkan tiwul untuk cemilan.


"Boleh dong, tapi Ibu harus belanja dulu ke pasar"


"Gak apa-apa nanti Rani temenin, biar mas Dehan yang bawa mobilnya"


"Ndak usah, biar Ibu sama bapak saja. Kalian kan tamu jadi harus di jamu lagian kamu juga lagi hamil nak"


Rania mengangguk mengerti, kemudian bu Dwi dan suami nya pergi ke pasar untuk membeli bahan-bahan untuk membuat tiwul. Derana sudah asyik sendiri karena di rumah bu Dwi masih asri dan tersedia ayunan anak-anak.


"Sayang, kamu pernah tidur di rumah bu Dwi?"


Tanya Dehan


"Dulu pernah sekali waktu belum dapet kosan mas, abis itu aku baru pindah"


"Kayanya aku nanti mau buat villa buat keluarga kita pake konsep kaya rumah ini"


Dehan mengecek dinding kayu jati rumah Bu Dwi, begitupun design interior rumahnya. Namanya juga laki-laki jika berkunjung ke rumah seseorang ia akan melihat-lihat kualitas si rumah tersebut


"Villa? Buat apa?" tanya Rania heran

__ADS_1


"Buat keluarga kita kalo liburan sayang, pasti nanti anak-anak seneng banget bisa lari-larian di halaman luas. Nanti juga aku bangun taman bermain nya"


Dehan membuat rencana untuk membangun villa bagi keluarga nya


"Tapi kita nanti jarang ke villa, terus terbengkalai gimana mas?"


"Gak mungkinlah, aku bisa suruh orang buat rawat nya"


"Aku punya rumah juga udah cukup kok"


Rania memang sederhana meskipun ia sudah kaya raya, namun pemikirannya masih sama seperti dulu.


"Ya sudah buat aku investasi, lumayan tuh kalo dijadiin ladang bisnis"


"Terserah"


Rania masuk ke dalam untuk bersantai sambil menunggu bu Dwi, Dehan duduk di teras sambil memperhatikan Derana yang tengah main ayunan. Beberapa saat kemudian bu Dwi dan suaminya sudah sampai


"AYO SEKARANG KIRA BUAT TIWUL!!"


Ucap bu Dwi semangat. Tentu saja Rania ikut turun tangan untuk membuat nya, meskipun ia hanya membantu memarut kelapa. Setelah matang mereka semua memakannya dengan lahap


"Mmmm.. Ibuuuuu, tiwul nya enakkk!!! Akhirnya aku bisa makan tiwul buatan Ibu Dwi. Makasih Ibu ke dua ku"


Rania memeluk bu Dwi, yang dipeluk juga membalasnya


"Sama-sama nak Rani sayang, sing penting bayinya kenyang hahaha"


Katanya sambil mengelus perut Rania, Derana ia tidak suka tiwul untung saja bu Dwi membuat es kacang ijo jadi anak itu hanya meminum es. Setelah mereka selesai makan, tiba-tiba saja Rania ingin memakai gaun penari dan menari seperti dulu


"Bu, aku boleh tidak menari?"


"Boleh saja, asal jangan berlebihan"


Rania pergi ke tempat baju-baju yang digantung lantas memilih salah satunya dan bergegas berganti pakaian.


"Duuh hati-hati sayang, jangan terlalu banyak bergerak"


Kata Dehan dengan penuh kekhawatiran


"Ibu ramal anak kedua kalian perempuan"


Perkataan bu Dwi membuat Dehan terdiam, lantas melihat ke arah nya


"Yang bener bu? Tau cewek sama cowok dari mana nya bu?"


"Tingkah laku nak Rania dan makanannya"


Dehan terdiam mendengarkan ucapan bu Dwi


"Ibu tau meskipun belum pernah hamil. Tapi setelah lihat nak Rania gemar memakan makanan manis, pedas, dan sekarang ia ingin menari sudah tidak diragukan lagi"


Dehan tersenyum bahagia mendengarnya, karena ia ingin sekali memiliki anak perempuan dan bertekad untuk menjadi ayah yang overprotektif.


"Semoga saja ya bu, saya juga sangat ingin anak perempuan secantik Rania"

__ADS_1


Suami Rania memperhatikan Rania yang tengah menari bersama Derana, tak lupa ia mengambil ponselnya untuk merekam momen bahagia dalam hidupnya yaitu melihat anak dan istrinya tertawa sambil menari. Sungguh keluarga yang indah~


__ADS_2