TAKDIR CINTA DERAN (Dehan Rania)

TAKDIR CINTA DERAN (Dehan Rania)
53. Ralis yang emosional


__ADS_3

Derana sudah sampai di rumah sakit ditemani Lisa, Ralis tidak diajak lantaran ia ada les piano sore nanti.


"Mamaaaaaaa!!!"


"Sayangkuuu"


Derana berlari memeluk Rania, anak itu langsung meneteskan air matanya. Rania menggendong tubuh Derana untuk menenangkan anaknya. Ia melihat wajah Derana


"Masih sakit?"


Derana menggelengkan kepalanya


"Udah di perban kok ini berarti bakteri nya di dalem sini lagi dibunuh sama obat, sekarang dede gak usah sedih lagi. Dede maafkan Ralis ga?"


"Gak" katanya polos


"Dede ga boleh gitu, Ralis mukul dede bukan berarti Ralis jahat sayang. Itu bentuk pembelaan soal coklat yang dede mau makan. Makanya Ralis mukul kamu, tapi dede harus terus jadi anak yang baik ya meskipun orang itu jahat sama dede"


Rania menasehati anaknya dengan suara lembut, Dehan yang memperhatikan itu merasa bangga karena telah menikahi wanita yang bukan hanya sekedar cantik fisik namun juga cantik kepribadiannya.


"Dede gak kangen sama Papa?" tanya Dehan


Derana langsung meminta pindah gendongan ke Papa nya, Dehan mencium kening Derana


"Jagoan Papa harus kaya superhero, yang kuat tapi juga baik buat semua orang ya nak"


"Maafin tante ya Derana? Maafin Ralis juga"


Lisa mulai buka suara


"Gak apa-apa Lis, lagian mereka berdua juga kan suka berantem Ralis baru 2 tahun emosinya belum stabil"


"Aku merasa bersalah jadi orang tua yang selalu ninggalin anak karena ngurusin bisnis di ruang kerjaku"


"Lain kali, kalo ada apa-apa hubungi aku. Aku mau kok asuh Ralis bareng Derana, lagian kerjaan ku semuanya mas Dehan yang pegang"


"Makasih ya adik ipar ku"


Lisa memeluk Rania sambil mengusap air matanya, Rania kembali check kondisi Ibu. Masih belum ada perubahan signifikan lantas ia memanggil suster, padahal setiap 3 jam sekali suster sudah ke kamar untuk memeriksa kondisi Ibu nya.


"Sayang jangan sering-sering panggil suster, kasian mereka juga pasti lagi periksa pasien lain"


Saran Dehan


"Tapi kan Ibu juga pasien mereka, aku gak tega liat ibu kaya gini terus. Mas aku boleh ga tinggal di Jakarta untuk sementara waktu?"


Rania berharap Dehan membolehkan Rania tinggal di dekat Ibu nya.


"Bukannya gak boleh, tapi kamu punya kewajiban di Bandung. Derana harus sekolah, dan aku yang masih butuh kamu"


Ia nampak berpikir, benar juga jika dirinya lebih pilih Ibu bagaimana dengan keluarganya.


"Aku pengen mas jagain Ibu di sini"

__ADS_1


Dehan memeluk Rania sambil mengelus-elus rambutnya.


"Jangan khawatir sayang, kan ada Lisa juga ikut bantu jaga Ibu"


Rania melepaskan tubuhnya kemudian bertanya pada Derana


"Derana ganteng, anak Mama yang paling Mama sayang di dunia ini. Dede mau gak kalo Mama di sini tapi kamu sekolah sama Papa?"


"Mau"


Ia belum percaya oleh jawaban Derana lantas mensejajarkan tubuhnya untuk menghadap wajah Rania.


"Mama serius sayang, kamu mau pulang ke Bandung berdua aja sama Papa Dehan?"


"Mama ga ikut aku pulang?" Tanya nya polos


"Enggak sayang"


Derana memeluk tubuh Rania erat


"GAK BOLEH! MAMA HARUS PULANG SAMA AKU SAMA PAPA JUGA!!"


Gagal sudah membujuk Derana, Lisa juga ikut menenangkan Rania untuk percaya padanya. Lagipula jika Ibu sadar pasti ia akan segera memberitahu Rania


"Ya sudah kamu pulang aja gih ke Bandung lagian kan kamu punya keluarga dan kerjaan di sana"


"Iya deh aku ngalah"


Rania mulai mengalah untuk menjaga Ibu, Rangga dan Ralis tiba di rumah sakit. Mereka semua berkumpul di satu ruangan itu, karena Ibu di rawat di kelas VVIP jadi bebas jam besuk. Derana daritadi cuek saja terhadap Ralis, Dehan yang peka mulai menggendong Derana untuk bersekat dengan Ralis


"Gak mau kan bukan aku yang salah"


Rania yang mengetahui hal tadi siang mulai membujuk Ralis


"Ralis cantik, tante boleh gak gendong kamu?"


Anak itu menurut, kemudian Rania mendekat ke Dehan yang sedang menggendong Derana.


"Ralis minta maaf ya ke Derana? Kamu gak boleh jadi anak jahat nanti di benci Allah loh"


Tadinya Ralis tidak mau bahkan menolaknya, tapi Rania berhasil membujuk Ralis dengan kisah orang yang masuk neraka. Kebetulan Rania suka bercerita mengenai neraka yang panas untuk anak-anak nakal. Akhirnya Ralis minta maaf juga ke Derana, bahkan mereka berjabat tangan.


"Asyiiik udah baikan lagi, sekarang pelukan dong"


Rania berbicara dengan nada gemas, Ralis dan Derana pun berpelukan meski masih dalam posisi di gendongan masing-masing.


"Gini ya rasanya punya anak 2 kalo berantem terus baikan" ujar Dehan


Rania yang sensitif mulai menatap Dehan


"Ralis emang mau punya sepupu adik bayi lagi?"


"MAU!"

__ADS_1


Padahal Rania hanya bercanda namun anak itu serius, kemudian Dehan bertanya balik ke Derana


"Dede mau punya adik bayi gak?"


"MAU!!! AKU MAU DI PANGGIL KAKAK"


Rania mendekat ke arah Derana


"Kalo dede mau punya adik bayi harus jadi anak baik, ga boleh dendam apalagi main pukul-pukulan"


"Iya Mama dede janji gak akan nakal"


"Emang kamu hamil?"


Tanya Dehan dengan wajah serius


"Apa sih, orang aku cuma nanya doang. Lagian gak mungkin aku hamil orang pas mau punya Derana aja harus ke dokter dulu buat di pancing"


Dehan hanya mengangguk mengerti, Derana dan Ralis kembali bermain bersama. Meskipun berkali-kali Ralis membentak Derana anak itu tetap sabar, Rania pun menghampiri Rangga.


"Kak Rangga, liat sendiri kan anaknya punya sifat emosional kaya kakak"


"Hmmm"


"Aku mau kok ubah sifat Ralis, kebetulan dulu waktu ngajar di TK aku dapet kelas psychologis khusus anak-anak"


"Ya terserah kamu Ran, yang penting Ralis gak kasar lagi. Aku udah capek ngadepin para orangtua di sekolah gara-gara sifat Ralis"


Keluh Rangga pada Rania


"Pasti! Aku akan bantu sebisaku ya kak"


"Kalian gak pulang ke Bandung?" tanya Rangga ke Dehan dan Rania


"Bentar lagi kak, aku juga masih ngopi biar ga ngantuk pas nyetirnya"


"Awas aja lu kalo bikin adik dan anak gue kenapa-kenapa lagi, gue bunuh lu Dehan!"


Ancaman kak Rangga malah membuat Rania cekikikan


"Udah kak tenang aja, mas Dehan sekalian baik kok. Orang kita lagi rencana punya anak lagi, ya kan Papa?"


Kata Rania sambil menggandeng tangan Dehan


"Iya Mama sayang"


"Cuihh sok romantis, gue juga punya panggilan sayang ke Lisa. Mami sini dong! Kita ulti pasangan yang dulu problematik ini"


Seakan tersindir Dehan sudah memasang tubuhnya untuk melawan Rangga, akan tetapi Rania menahannya dan menatap wajah Dehan.


"Lihat aku, kamu gak kasian sama perjuangan aku?"


Dehan yang tadinya terpancing emosi langsung menatap Rania lalu senyum manis.

__ADS_1


"Maaf sayang aku khilaf, jelas aku kasian sama kamu"


Kemudian Dehan mengecup bibir Rania sekilas.


__ADS_2