
Setelah selesai urusan bucin dengan Dehan, Rania pergi ke tempat sanggar menemui Bu Dwi untuk mencari tahu obat apa yang bagus untuk mengobati perih di bawah. Bu Dwi mengobatinya di rumah bersama Dehan yang setia menemaninya.
"Tunggu sampai kering ya nak.. Nanti setelah itu kau bisa berjalan sendiri"
Aku tersenyum dan mengucapkan terimakasih kepada Bu Dwi, selama di Jogja memang beliau sudah menganggap Rania sebagai anaknya sendiri begitupun Rania yang sayang terhadap Bu Dwi. Dehan sedang mengobrol di ruang tamu bersama suami Bu Dwi, sepertinya mereka sudah dekat bahkan Dehan yang ku kenal canggung jika bertemu orang baru ini lebih terbuka.
Tidak peduli dengan obrolan laki-laki, aku lebih memilih untuk istirahat sambil menunggu obat itu kering.
"Sayang... Sudah sore loh"
Suara Dehan membuatku tersadar, rupanya aku ketiduran di kamar. Aku berusaha bangun ternyata sudah tidak sesakit yang tadi, Dehan membantuku untuk berdiri dan berjalan awalnya sakit tapi lama-kelamaan aku sudah terbiasa.
Kami berterimakasih banyak kepada Bu Dwi dan Pak Tono. Kemudian Dehan membawaku ke lapangan olahraga untuk tanding basket dengan kak Rangga, aku baru ingat kalo sekarang Dehan akan tanding. Jadi selagi menunggu Dehan ganti baju aku membeli snack serta air mineral untuk Dehan nantinya, lalu setelah itu kami pergi ke lapangan untuk menemui kak Rangga.
"Nah... Ini dia!!" ucap kak Rangga
Lisa juga ada di sana, dia langsung kaget melihat kedatangan kami.
"De--han... Rania kalian??"
Dehan nampak biasa saja melihat Lisa, bahkan sekarang ia menggenggam tanganku erat. Aku menyapa Lisa dan menceritakan semuanya, kemudian Lisa memelukku sambil menangis.
"Rania... Aku baru tahu bahwa suamimu itu Dehan, kami memang mantan kekasih saat SMA tapi itu masa lalu kok bahkan aku sekarang akan menikah dengan kakakmu. Kita berdamai dengan masa lalu ya?"
Aku mengangguk sambil menatap wajah Lisa, dia hanya bisa tersenyum manis sambil menghapus air matanya
"Tapi kau juga harus hati-hati, yang menyukai Dehan itu banyak sekali dan Dehan juga sedikit playboy dengan cinta"
"Aku sudah menerima mas Dehan apapun yang akan terjadi di depannya, kau bisa bilang aku wanita yang bodoh... Tapi jujur saja, aku sangat mencintai suamiku berkatnya aku bisa merasakan kasih sayang seorang pria yang semasa kecil tidak pernah ku tahu dan Dehan memberikannya kepada ku"
Ucapku membuat Lisa terkesima
"Dehan sangat beruntung memiliki istri idaman sepertimu. Dan aku beruntung bisa memiliki adik ipar seperti mu juga Rania'
Kami berpelukan tanda sayang, setelah itu aku melihat ke arah Dehan dia sedang melakukan pemanasan. Aku menghampirinya untuk menggoda suamiku
"Mas Dehan semangat ya, kalah atau menang kau akan tetap menjadi suamiku"
Ucap Rania sambil membungkukkan badannya karena Dehan sedang push up, otomatis dia melihat dada indah milik Rania. Seketika itu mata Dehan berbinar-binar, saat Rania hendak berdiri tapi dilarang oleh Dehan.
"Tetap seperti itu jangan bergerak, kalau bisa kau mendekatiku dan berjongkok di depan dengan posisi seperti ini"
Dehan mencontohkan bagaimana Rania harus memperhatikannya olahraga, Rania yang polos hanya menuruti saja perkataan suaminya. Kemudian Dehan melanjutkan pemanasan sambil menatap buah dada indah Rania di hadapannya, sesekali dia menelan ludah membayangkan sesuatu yang nakal.
Rania yang sedang menghitung Dehan push up sedari tadi ia perhatikan mata suaminya tidak melihat ke wajah, membuat Rania peka bahwa suaminya itu sedang melihat ke arah mana. Sehingga Rania berpura-pura menggaruk dada nya padahal ia menggoda Dehan dari mulai garuk-garuk sampai meremas payudara dengan tangannya sendiri.
__ADS_1
"Jangan seperti itu... Ini di tempat umum, aku tidak ingin istriku seperti \*\*\*\*\*\* yang menggoda syahwat orang lain jika melihatnya"
Dehan bangkit memeluk tubuh Rania, tapi Rania yang nakal dia malah mendesah dengan keras agar kak Rangga dan Lisa mendengarnya. Tapi Dehan sebagai seorang suami langsung mencium bibir Rania agar wanita itu diam, Rania malah menikmati ciuman tersebut hingga membuat Dehan melepaskannya.
"Nanti malam saja sayang, sekarang aku harus tanding... Jangan bertingkah seperti ini aku tidak suka jika dilihat orang"
Rania yang mendengar itu langsung menjauhi Dehan hendak pergi namun tangannya di tarik hingga Dehan memeluknya dari belakang.
"Rania.. Kau istriku, hanya aku yang berhak menguasai tubuh dan ragamu. Aku tidak suka jika kita bermesraan di tempat umum, apalagi kau menunjukkan bagian tubuh indah mu. Sebagai suami aku tidak rela jika pria lain menikmati keindahan istriku, tolong hargain aku"
Ucap Dehan sambil mencium leher Rania sesaat setelah itu menghadapkan tubuhnya, Rania merasa memang sudah keterlaluan. Maka dia meminta maaf dan akan menjadi istri penurut, kemudian Dehan menyuruh Rania untuk duduk kembali di kursi penonton bersama Lisa.
Rania menuruti perintah suaminya, kedua wanita itu saling menyemangati belahan jiwanya. Lisa menyemangati Rangga sedangkan Rania menyemangati Dehan, mereka berdua tanding basket di lapangan tanpa tim. Tapi kedua wanita itu sangat heboh seperti sedang diadakan kejuaraan dunia.
"MAS DEHAAANNN PASTI BISA!!! AYO MAS KAMU PASTI MENANG!!"
"ENAK AJA! MAS RANGGA LAH YANG MENANG! DIA KAN JAGO BASKET HUUHHH"
"Mas Dehan kamu ganteng banget sih, suami aku dan ayah untuk anak-anak ku kelak"
Rania tidak berhenti menatap Dehan begitupun Lisa menatap ke arah Rangga tanpa berkedip. Skor akhir dari tanding ini, Dehan pemenangnya itu jelas karena dia dijuluki sebagai king of ring. Lisa berlari ke tengah lapangan untuk memberikan minuman pada Rangga, sedangkan Dehan dia berjalan ke arah Rania.
Dehan berdiri di hadapan Rania dengan keringat yang masih bercucuran, seakan dibuat takjub hati Rania berdebar-debar dan salah tingkah dibuatnya.
"Kau tidak ingin memberiku air minum dan mengelap keringat ini sayang?"
Perkataan Dehan membuat Rania merasa gugup
"Ee... Sebentar mas"
__ADS_1
Rania dengan sigap memberi air minum Dehan meminumnya, setelah itu Rania mengelap keringat Dehan secara lembut.
"Mas tampan dan berkarisma jika berolahraga"
Dengan demikian, Dehan menatap wajah cantik Rania hingga mendekatkan mulutnya di telinga Rania dan berkata
"Apa selama ini aku tidak berkarisma saat membuat anak denganmu?" dengan suara berat
Rania memukul bahu Dehan kencang
"Aawwww sakit sayang... Tangan ini membuatku menang tanding loh tadi"
"Sukurin! Kamu sih jadi cowok cabul nya keterlaluan!"
"Tapi kamu suka kan?" katanya sambil menaik turunkan alisnya
"Gak tau!"
Rania pergi mendekati Lisa dan Rangga, Dehan mengejar-ngejar Rania sambil tersenyum di belakang
"Sayang.. Aku sudah menang dari kak Rangga, lantas apakah aku akan diberikan hadiah?"
Wanita itu tak merespon ucapan Dehan, kemudian kak Rangga angkat bicara
"Oy! Traktir kami makan malam bersama, itung-itung kau sudah menjadi bagian sebagai keluarga ku"
Rania tersenyum manis ke arah kakaknya lalu memeluk ia erat
"Makasih kakak udah bilang Dehan bagian keluarga!! Akhirnya suami aku dianggap adik juga"
__ADS_1
"Iya sudah-sudah lepaskan Rania.. Kakak pengap"