TAKDIR CINTA DERAN (Dehan Rania)

TAKDIR CINTA DERAN (Dehan Rania)
57. Bertengkar


__ADS_3

Rania yang melihat Dehan sedang berbincang tidak enak jika mengganggu nya, apalagi yang menjadi topik pasti seputar bisnis. Ia lebih baik duduk di ruang tamu sambil memainkan ponselnya, Gilang yang melihat Rania sendirian lantas duduk di sebelahnya.


"Lama tidak bertemu Rania"


Rania tidak peduli, ia masih sibuk dengan ponselnya


"Rania, kamu pasti sudah tahu kalau aku sudah punya anak?"


Ia langsung berbalik badan melihat Gilang


"Iya"


"Maaf, aku gak kasih tau kamu. Tapi sebenarnya aku dan Diana belum menikah, kami hanya punya anak saja mengikuti kultur barat"


"Terus?"


"Aku gak mau menikah dengan Diana, Aku maunya menikah sama kamu"


Rania tidak menggubris perkataan Gilang, tapi Gilang berusaha memegang tangan Rania. Rania pun berhasil menjauh


"Kamu tau Ran, Ibu kamu selalu jodohkan kita. Waktu Dehan ketahuan selingkuh sama Gladys, aku sebenarnya ingin sekali meminang mu"


"Lagian aku juga udah ga butuh lagi"


"Kita balikan ya? Aku juga gak ada ikatan pernikahan sama Diana, kita cuma punya anak doang. Diana juga gak cinta sama aku, aku cinta nya sama kamu doang Ran"


Rania tampak tidak nyaman, untung saja Dehan melihatnya. Lantas dengan sigap ia duduk di sebelah Rania


"TIDAK BOLEH BERPACARAN DENGAN WANITA YANG SUDAH MEMILIKI ANAK DAN SUAMI"


Ujar Dehan dengan suara berat dan kencang, Rania hanya bisa berlindung di balik tubuh Dehan.


"Oh ya? Lantas apa kau dulu dengan Gladys?"


"SIALAN!"


Dehan meninju wajah Gilang, lalu mereka pergi dan memanggil Derana untuk pulang. Di mobil Rania menangis karena ia kesal dengan perlakuan Gilang, memang Rania menyukainya hanya sebatas menyukai belum ke tahap sayang/cinta.


"Lain kali kalo ada si brengsek itu beritahu aku!"


"Maaf mas, aku juga gak mau sama si Gilang"


"Tapi tadi kamu deket sama Gilang?"


"Dia juga udah punya anak ngapain aku suka sama Gilang, aku udah punya kamu sama Derana"


Dehan masih kesal dengan Rania, ia mengambil ponselnya lantas menelfon orang yang ada di perusahaan nya.


*Phonecall

__ADS_1


"Hallo pak Slamet, batalkan kontrak kerjasama dengan PT Berjaya dan tarik semua aset saham yang pernah perusahaan kita beli"


"Siap pak laksanakan!"


Dehan mematikan ponselnya, Rania tidak peduli toh dia akan menutup hatinya untuk Gilang. Sesampainya di rumah, Rania langsung masuk kamar dia menangis lantaran harapan nya pupus sudah.


"Kalo kamu masih suka sama Gilang, aku juga bisa punya cewek lain selain kamu"


"GAK! AKU UDAH GAK SUKA SAMA GILANG!!!"


Rania marah besar karena perkataan Dehan, lagipula siapa yang tidak cemburu dan kesal jika istrinya menyukai pria lain. Mereka ribut di dalam kamar, untungnya saja Derana tengah asyik menonton televisi dan kamar mereka kedap suara.


Setelah selesai ribut, Dehan keluar kamar sambil membanting pintu kencang. Derana kaget melihat Papa nya keluar dengan wajah memerah, setelah itu ia juga meninju tembok membuat lengannya berdarah sedikit.


"AAAKHHH... SIALAN! GILANG BAJINGAN! AKU AKAN MEMBUNUHMU!"


Derana hanya bisa melihat Papa nya sambil mengumpat di balik sofa, ia sangat takut dengan raut wajah Papa. Juga Dehan yang meninju tembok dengan tangannya, setelah kepergian Dehan. Derana masuk kamar untuk melihat Mama nya


"Mama?"


Derana melihat Mama nya sedang tertidur dengan lapisan selimut di sekujur tubuhnya, terdengar suara isakan tangis di dalam sana.


"Mama?" panggilnya sekali lagi


Rania yang mendengar suara anaknya lantas membuka selimut lalu memeluk tubuh Derana.


"Mama kenapa nangis?"


Rania menghapus air matanya, ia tersenyum getir melihat wajah anaknya


"Mama gak kenapa-napa, Mama cuma sakit hati doang tapi liat kamu Mama jadi kuat lagi"


"Tadi aku liat Papa marah-marah telus mukulin tembok, eh beldalah ini nya. Dede takut"


Derana bercerita tentang apa yang tadi ia lihat, Rania menenangkan anaknya dengan pelukan begitupun ia menenangkan dirinya dengan Derana.


"Mama sayang sama Papa sama Dede.. Tapi ini salah Mama yang masih suka sama Gilang, Mama gak mau kehilangan kalian"


Derana tidak mengerti dengan ucapan Rania, ia malah terdiam mendengarkan ibunya bercerita. Di sisi lain, Dehan pergi ke rumah bundanya.


"Assalamualaikum, ayah bunda"


"Walaikumsalam, tumben sendiri"


Tanya bunda Dehan


"Aku mau tidur di sini. Pusing di rumah banyak pikiran"


Bunda tahu betul, pasti sedang ada masalah di antara Dehan dan Rania.

__ADS_1


"Dehan, kalo ada apa-apa cerita aja sama bunda. Kenapa?"


"Gak, Dehan lagi males bahas Rania!"


Dehan meninggalkan bunda untuk pergi ke kamar tidurnya, ia tidak mau membahas nya malam ini. Mungkin besok jika mood nya sudah membaik, sebelum tidur Dehan melampiaskan kekesalannya pada alat boxing.


"GILANG SIALAN!!!"


"AKU AKAN MEMBUNUHMU BRENGSEK!!!'


"KAU TIDAK BOLEH MENGAMBIL RANIA SEDIKITPUN!! DIA MILIKKU!!!"


"AKU TIDAK INGIN ADA DIRIMU DI HATI RANIA!!"


"HANYA AKU PEMENANGNYA! HANYA AKU!"


Ia memukul, meninju bahkan menendang benda lembek itu. Dehan benar-benar marah malam ini bahkan ia tidak merasakan bahwa luka di jarinya telah mengering, darah segar yang ia bawa dari rumah tadi sudah tidak mengalir lagi.


Di tengah-tengah kekesalannya, ia melihat bingkai foto keluarga kecilnya. Tampak ada Derana di sana, Dehan tersenyum dan baru menyadari tangannya sudah luka.


"Aaakhh sakittt.... Astaga berdarah??"


Kemudian Dehan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan luka dan mengobatinya sendiri. Sambil meringis kesakitan, Dehan melihat foto Derana


"Papa sakit hati sayang.. Papa telah berusaha menjadi Papa yang baik untukmu dan Mama, tapi Mama masih menyimpan rasa ke Gilang sialan itu."


"Papa gak tau harus gimana lagi. Yang pasti sekarang Papa cuma fokus sama anak-anak Papa, Papa sayang sama Derana."


Dehan mengecup foto Derana kemudian ia pergi tidur.


Pagi harinya, Dehan baru bercerita mengenai Rania kepada bunda. Ia tidak ingin masalahnya diketahui oleh ayah karena jika ayah tahu yang ada ribut lagi.


"Jadi seperti itu.. Nak, kamu kan sudah jadi kepala keluarga. Sekarang lakukan apa yang menurutmu benar dan adil"


Nasihat bunda pada Dehan


"Bagiku yang adil adalah pisah ranjang bun, aku tidak ingin tidur dengan wanita yang masih mencintai pria lain."


"Seyakin itu kamu kalo Rania masih cinta sama Gilang?"


Dehan mengangguk


"Nak, buat bunda Rania itu wanita baik-baik. Tidak mungkin Rania dulu saat kabur dari sini berhubungan dengan Gilang, kamu bahkan dulu ngejar-ngejar Rania kan buat rujuk"


"Tetap saja bun, aku merasa dikhianati selama ini. Apalagi kak Rangga dan Ibu dulu menjodohkan Rania dengan Gilang. Pasti mereka sering komunikasi dan berpacaran"


"Bunda tau kau merasa dikhianati, tapi kamu harus pikir baik-baik tentang Derana juga. Kalian sudah menjadi orang tua, Derana pasti akan sedih jika Mama Papa nya seperti ini"


Dehan berpikir, benar juga. Bagaimana jika nanti Derana akan melupakannya dan tidak ingin menganggapnya Papa lagi. Dehan segera bersiap-siap untuk pergi ke kantor dan menyalami bunda nya.

__ADS_1


__ADS_2