TAKDIR CINTA DERAN (Dehan Rania)

TAKDIR CINTA DERAN (Dehan Rania)
34. Pertemuan


__ADS_3

Sudah genap setahun Derana dilahirkan, sekarang Rania tengah mengajarkan anaknya untuk berjalan.


"Ayo sayang!! Sini ke Mama"


Rania menempatkan mainan, uang, dan buku anak-anak di depan Derana. Biar anaknya sendiri yang memilih sekalian belajar jalan, Derana memilih uang lalu mengambilnya sambil tersenyum


"Ya ampun sayang... Kamu mau jadi pengusaha ya kalo udah gede"


Derana hanya memainkan uang itu seperti sudah mengerti padahal dia sama sekali tidak tahu apa-apa. Rania menggendong Derana lalu menciumnya


"Derana, nanti kita ketemu Papa ya? Kamu juga punya Oma dan Opa di Bandung"


Setelah belajar jalan tadi, Rania menitipkan Derana pada Ibu dan meminta izin untuk pergi ke Bandung bersama anaknya.


"Bu... Rania udah siap ketemu mas Dehan"


Ibu mengelus tangan Rania


"Rania, jangan sampai kita menyimpan dendam pada siapapun. Ibu akan selalu mendukung apapun keputusan mu dengan Dehan ya sayang"


"Iya Ibu... Aku beres-beres barang dulu ya, mungkin aku semingguan di Bandung"


Rania menitipkan Derana sebentar untuk packing barang-barang yang akan dibawanya ke Bandung. Kebanyakan barang itu kebutuhan Derana, karena ia masih bayi jadi harus ekstra baju ganti popok dan perlengkapan bayi lainnya. Kebetulan hari ini juga jadwal Lisa check kehamilan jadi Rania akan ikut serta untuk suntik KB, feeling Rania mengatakan bahwa ia pasti akan bertarung dengan Dehan.


Jelas saja, Rania juga merindukan belaian kasih sayang dari seorang pria mengingat setahun Rania tidak tersentuh. Apalagi Rania masih sah menjadi istri, ia melihat bentuk tubuh serta wajahnya di cermin.


"Aku masih seksi seperti sebelum punya Derana, wajahku.... Cantik itu relatif sih, tapi aku akan percaya diri"


"Ekhemmm..."


Lisa datang ke kamar Rania tanpa mengetuk pintu


"Lisa?? Sejak kapan di situ?"


"Sejak kapan ya?? Sejak kamu ngomong di depan cermin"


Rania malu dan langsung duduk di kasur karena ingin cepat tidur.


"Kayanya ada yang lagi jatuh cinta lagi nih.. Ada yang bakal kangen-kangenan"


"Iihh apasih Lis...."


Wajah Rania mulai merona lalu menutupi wajahnya dengan bantal


"Hahahaha... Aku tau banget sifat kamu itu kalo ketemu Dehan gimana, pake acara suntik KB segala lagi"


"Kaya kamu gak tau aja nafsu mas Dehan!"


Kata Rania sambil menyentil telinga Lisa lembut


"Aduhh... Tau kok tau, tapi kamu jangan sampe terlalu percaya lagi ya Ran... Aku takut Dehan kumat"


Rania mengangguk mengerti


"Tenang aja Lis, aku juga gak akan lama di Bandung cuma semingguan. Kasian Derana kalo gak tau papa nya, aku gak mau dia tumbuh jadi anak pembangkang"


Lisa tersenyum mendengar pertanyaan Rania


"Ya udah sana tidur! Besok mas Rangga yang anterin kamu"


Rania menuruti perintah Lisa untuk tidur, sebenarnya Rangga menolak permintaan Rania untuk pergi ke Bandung. Tapi Rania tidak menyerah begitu saja ia meyakinkan bahwa tidak akan terjadi apa-apa lagi, serta Rania juga tidak ingin percaya kepada Dehan. Apalagi ia membawa Derana untuk bertemu dengan papa kandungnya. Hingga perjuangan itu membuahkan hasil, kak Rangga mengizinkan Rania pergi ke Bandung


Hari ini Rania pergi ke Bandung mengendarai mobil sendirian, ralat ia juga membawa Derana di kursi belakang khusus bayi. Rania sudah berpamitan dengan Lisa, Ibu dan kak Rangga perjalanan menempuh waktu tiga jam lebih lewat tol.




Dehan bekerja seperti biasa hari ini dia masih menanyakan keberadaan Rania ke teman-teman Rania dulu saat masih mengajar di TK. Namun tiba-tiba bunda menelfon Dehan



"Hallo, ada apa Bund?"



"DEHAN... ADA RANIA!!"



"DIMANA??"



Tanya Dehan girang

__ADS_1



"Di rumah! Sini pulang!!"



"Siap bun"



Dehan menitipkan kedai kopi nya pada pegawai yang ia percaya, lalu pergi ke rumah untuk bertemu pujaan hatinya dan tak lupa anak yang selama ini Dehan rindukan. Dehan memarkirkan mobilnya di belakang mobil Rania, saat ia masuk kedalam melihat Rania sedang berbincang dengan bunda dan ayah



"RANIA??!!"



Panggil Dehan sumringah, Dehan langsung berlari ke dekat Rania hendak memeluknya tapi Rania menolak.



"Mas aku gak mau di peluk laki-laki playboy!"



"Tapi aku masih suami kamu sayang"



"Iya, aku ke sini bukan buat mas tapi buat Derana"



Mata Dehan tertuju pada anak kecil yang duduk dipangkuan bunda



"Derana? Anakku?"



Dehan menggendong anaknya sambil menciumnya berkali-kali, bahkan Derana di timang meskipun ia menangis karena ketakutan.




Ucap Derana menangis minta digendong oleh Rania



"Mas Dehan kalo kenalan sama anak-anak jangan langsung digendong, jadi takut kan Derana"



Rania mengambil Derana untuk menangkan nya



"Itu Papa sayang... Kita kan suka liat foto Papa di handphone Mama"



Sambil mengelus tubuh Rania, Dehan mencoba untuk meminta maaf pada Derana



"Maafin Papa ya ganteng? Papa seneng banget bisa ketemu kamu, dilihat-lihat Derana mirip aku ya sayang?"



"Gak! Dia mirip Mama nya! Derana mirip aku" kata Rania tak terima



Dehan senang bukan main dengan kehadiran orang-orang yang ia rindukan selama ini, beberapa kali dehanome coba memeluk Rania dan Derana tapi Rania selalu berhasil menghindar. Dehan mengajak Derana berbicara secara pelan-pelan dengan iming-iming dibelikan mainan, Derana yang polos akhirnya mau juga digendong oleh Dehan kemudian ia membawa Derana jalan-jalan di sekitar rumah menyisakan bunda ayah dan Rania di ruang tamu.



"Nak, kamu seneng gak liat Dehan gendong anak kalian?"



Tanya bunda pada Rania

__ADS_1



"Seneng bund... Tapi kan niat aku ke sini buat pertemukan Derana sama Papa dan kakek neneknya"



"Rania.. Kamu tau Dehan selama ini selalu mikirin kamu, tiap hari sambil kerja tanya kamu sana sini, dia udah berubah"



Perkataan ayah membuat Rania ragu, sampai kapanpun Rania tidak akan memaafkan Dehan



"Bunda, ayah... Aku tahu maksud kalian, tapi Rania belum bisa memastikan mas Dehan sama seperti apa yang dilontarkan kalian"



Rania pamit permisi untuk menyiapkan makanan untuk Derana, dia akan menyeduh bubur khusus bayi dan cemilan lainnya. Setelah selesai Rania melihat Dehan yang nampak sangat seperti Papa yang baik bagi anaknya, Dehan mengajak Derana berbicara dan mengenalkan koleksi hewan-hewan yang ada di taman milik ayah. Hal itu membuat Rania tersenyum memandang mereka, sangat manis pikirnya.



"Mas Dehan!!! Sini!! Derana mau makan dulu"



Dehan memalingkan tubuhnya lalu berjalan menuju Rania, ia ingin menggendong Derana tapi bayi itu menolak malah memilih Dehan.



"Iihh awas loh ga Mama kasih susu lagi!"



Rania sedikit kesal



"Mama, Derana mau makan di gendongan Papa ya" usil Dehan seakan Derana berbicara



Rania memukul bahu Dehan pelan



"Ya udah, Mama suapin ya"



Di tengah Derana makan Dehan membuka suaranya



"Sayang, mulai sekarang panggil aku Papa dan aku panggil kamu Mama"



"Apa sih, lebay banget mas!"



"Demi anak K-I-T-A"



Rania langsung melihat ke wajah Dehan



"KITA? Sejak kapan mas anggap aku istrimu? Bukannya dulu kamu pilih si \*\*\*\*\*\* itu??"



Tanya Rania sinis



"Aku gak mau ribut di depan anak sayang... Kita bahas kalau Derana gak ada ya?"



"Awas kalau bohong!"


__ADS_1


"Iya sayangku"


__ADS_2